Something Called
Love – Part 10
Pinkan nggak bisa tidur malam
ini. Di ingatannya dia masih ingat jelas apa yang terjadi tadi siang. Dia juga
masih ingat saat dirinya dan Bian mengantarkan Joni dan Vina sampai ke halaman
rumah, masih ingat jelas kalimat Bian yang membuatnya penasaran akan maksudnya.
“Maksud Joni apa pakai
gandeng-gandeng tangan lo”, ucap Pinkan yang meniru kalimat Bian tadi sore. “Maksudnya
apa coba?”, gumam Pinkan bingung.
Terdengar dering hp yang nyaring,
ada telfon dari nomer yang nggak dikenal dan nomer itu juga bukan nomer
Indonesia, dengan pelan namun pasti Pinkan mengangkat telfon tersebut.
“Hallo sayang”, sahut suara yang
nggak asing lagi ditelinga Pinkan.
“Mamah?”, tanya Pinkan
memastikan.
“Iya sayang ini Mamah. Oh ya,
Mamah baru beli jam tangan buat kamu sayang. Warnanya pink bagus banget”, ucap
Mamah antusias sambil memperhatikan jam yang dibelinya.
Tapi Pinkan nggak terlalu
antusias, “Mamah kapan pulang?”, tanya Pinkan cepat.
“Hmmm”, desah Mamah, “Mungkin
sekitar seminggu lagi. Oh ya tadi Mamah juga baru transfer uang buat keperluan
kamu selama Mamah disini, semoga itu cukup. Tapi kalau nggak cukup cepet-cepet
hubungin Mamah ya”, lanjut Mamah panjang lebar.
Pinkan malas membahas ini semua, “Mah,
Pinkan sudah ngantuk. Pinkan tidur dulu ya, soalnya besok ada upacara”, pamit
Pinkan.
Setelah itu telfonnya terputus
juga. Padahal sih Pinkan belum mengantuk sama sekali, tapi dia malas bicara
dengan Mamahnya mengenai semua itu, dia ingin Mamahnya ada selalu disampingnya,
menemaninya, mendengarkan cerita dan keluhannya, menjadi teman yang paling baik
untuk Pinkan.
Tapi rasanya itu permintaan yang
terlalu berlebihan yang sering Pinkan selipkan dalam doa setelah sholat. Sepertinya
ini sudah merupakan kehendak yang maha kuasa yang nggak bisa di ganggu gugat
lagi. Bagaimanapun Pinkan berusaha, tapi tetap nggak ada hasilnya. Hubungan
kedua orang tuanya nggak pernah membaik.
Nggak lama kemudian hp Pinkan
kembali berdering nyaring. Sekarang Papahnya yang menelfon.
“Hallo sayang”, sahut Papah dari
seberang sana. “Papah sudah beliin oleh-oleh spesial buat kamu. Papah baru
beliin jaket baru buat kamu. Warnanya pink, kesukaan kamu banget”, ucap Papah
bersemangat.
“Oh ya, sudah makan apa belum?”,
tanya Papah.
Tadi Mamah nggak menanyakan hal
itu, Pinkan sedikit berharap kedua orang tuanya atau salah satunya menanyakan
hal itu. Ternyata Papah yang menanyakannya.
“Sudah makan apa belum?”, Papah
mengulangi pertanyaannya, “Kalau belum pakai jasa pesan antar aja. Bayar pakai
credit card kamu, tagihannya sudah Papah lunasin semuanya”, lanjut Papah yang
mulai membahas topik yang paling malas Pinkan bisacaran.
“Pinkan sudah makan Pah”, jawab
Pinkan cepat, “Sekarang Pinkan ngantuk banget, Pinkan ingin tidur”, ucap
Pinkan.
Akhirnya merekaberdua memutus
telfon itu. Padahal Pinkan sama sekali belum mengantuk tapi dia malas lama-lama
berbicara dengan Mamah atau Papahnya yang lebih mementingkan mencari uang
daripada membuat anaknya bahagia.
Papah dan Mamah berfikir dengan
mencukupi semua kebutuhan Pinkan, memberinya cukup uang, credit card dan
fasilitas lainnya itu jaminan untuk Pinkan bahagia. Ternyata mereka salah,
Pinkan nggak terlalu mementingkan itu, dia lebih menginginkan kasih sayang dan
perhatian yang tulus dari kedua orang tuanya.
Inilah yang membuat Pinkan malas
berbicara dengan mereka di telfon.
Pinkan mencoba meredupkan lampu
kamarnya, nggak sampai mati sempurna lampunya karena dia takut sekali sama yang
namanya kegelapan. Pinkan mencoba untuk tidur tapi usahanya nggak ada satupun
yang berhasil. Dia masih terjaga, mungkin malah bisa terjaga sampai pagi. Kedua
matanya masih terlihat segar dan besar.
Bian juga belum tidur, dia nggak
bisa tidur karena terus memikirkan Pinkan. Pinkan yang tadi akrab sekali dengan
Joni, membuat hati Bian entah kenapa jadi gak menentu seperti ini. Akhirnya dia
berjalan menuju balkon kamarnya yang menghadap tepat ke rumah Pinkan yang
selalu terang oleh cahaya lampu.
“Kok gue mikirin lo terus ya?”,
gumam Bian lirih sambil melihat kearah rumah Pinkan.
Eh setelah Bian ngomong seperti
itu Pinkan terlihat keluar dari rumah. Dia berjalan sendirian keluar rumahnya,
kedua telinganya disumbat oleh ear phone dan disaku trening panjangnya ada
i-pod. Dia berjalan kecil sampai dijalan didepan rumahnya. Bian melihat dari
balkon rumahnya, Pinkan malah duduk ditengah-tengah aspal jalan didepan
rumahnya lalu tiduran berbantal kedua tangannya yang dilipat.
“Dasar si Pinky kurang kerjaan!”,
timpal ringan Bian sambil menahan tawa melihat Pinkan.
Datanglah pak satpam yang biasa
berkeliling mengamankan kompleks itu.
“Mba Pinkan? Kenapa tiduran
disini?”, tanya salah satu pak satpam itu.
Pinkan bangkit untuk duduk lalu
melepas salah satu ear phone-nya, “Ada apa pak?”, tanya Pinkan nggak dengar
tadi.
“Ngapain mba ada disini?”, tanya
pak satpam mengulangi pertanyaannya yang tadi.
Pinkan tertawa ringan, “Mau lihat
bintang pak”, jawab Pinkan sekenanya.
“Owh gitu. Ya sudah hati-hati aja
ya mba, kalau ada apa-apa cepat hubungi saya”, ucap salah satu satpam yang lain
lalu berlalu meninggalkan Pinkan.
Pinkan mengangguk saja lalu
kembali keposisi berbaringnya. Bian masih tertawa takjub melihat Pinkan yang
memang unik itu. Hahaha.
Pinkan memejamkam matanya
menikmati lagu yang menggema di telinganya. Bian jadi ingin menemani Pinkan,
dia masuk kembali ke kamarnya lalu bergegas turun dari lantai terus berlari
menuju pintu samping rumahnya, keluar pelan-pelan tak bersuara lalu bergegas
berjalan menuju Pinkan.
Dilihatnya Pinkan dari kepala
sampai kaki, dari kaki kembali lagi kekepala, lalu dia melepas jaket yang dia
pakai kemudian di selimutkan pada Pinkan yang hanya memakai kaos. Tentu membuat
Pinkan membuka matanya dan melongo keherana melihat Bian yang hendak berbaring
juga di sampingnya.
Pinkan melepas salah satu ear
phone-nya lagi, “Ngapain lo kesini?”, tanya Pinkan.
“Mau lihat bintang”, jawab Bian
meniru jawaban dari Pinkan tadi.
Lalu Bian menoleh kearah Pinkan
yang juga sedang melihat kearahnya. Ear phone yang melekat di telinga kanan
Pinkan dilepas lalu di masukkan ke daun telinga Bian, Bian kembali memandang
langit. Pinkan tertawa takjub lalu memasangkan ear phone yang satunya di
telinga kanannya.
“Lo tuh cewek yang unik ya”,
gumam Bian masih melihat ke langit.
Pinkan sedikit tertawa, “Kayak
gini aja unik. Tadinya sih gue mau tiduran di atas genteng, tapi gak nemu
tangga buat naik keatas”, tukas Pinkan konyol.
Membuat Bian menjadi tertawa. Lalu
sedetik kemudian mereka berdua terdiam nggak bersuara, asyik mendengarkan musik
yang menggema di telinga mereka.
“Lo nggak takut sendirian?”,
tanya Bian.
Pinkan tersenyum getir, “Gue
nggak pernah mau sendirian”, ucap Pinkan mantap.
Bian nggak berkomentar apa-apa,
dia menoleh melihat Pinkan dari sisinya berbaring. Dia nggak langsung
berkomentar karena melihat Pinkan yang sepertinya belum selesai dengan
ucapannya.
“Gue nggak mau sendiri makanya
gue disini, mencari perhatian orang. Dan benarkan sekarang gue nggak sendirian
disini”, lanjut Pinkan datar lalu terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan
kalimatnya lagi, “Lo beruntung, gue iri sama lo”, keluh Pinkan memelas.
Bian belum juga berkomentar,
Pinkan masih terlihat ingin bicara.
Benar saja beberapa saat kemudian
Pinkan berbicara lagi, “Kenapa hidup gue gini amat ya? Mana orang tua gue? Apa
mereka mikirin gue? Apa mereka khawatir sama gue yang ditinggal di rumah
sendirian? Apa mereka peduli sama gue? Apa mereka inget sama gue?”, ucap Pinkan
panjang lalu air matanya mulai mengalir di ujung matanya mengalir membasahi
pelipisnya.
Bian kasihan melihatnya, dia
merasa nggak tega melihat Pinkan yang menangis. Ingin rasanya dia menghapus air
mata Pinkan itu tapi dia mengurungkan niatnya setelah Pinkan menghapusnya
sendiri dengan kedua tangannya.
“Itu cara mereka mengungkapkan
rasa sayangnya sama lo. Mereka berusaha mati-matian mencari uang demi membuat
lo bahagia dan hidup berkecukupan bahkan serba berlebihan. Mereka ingin memberi
yang terbaik buat lo. Jelas mereka sayang sama lo”, tukas panjang Bian
memberikan opini dari sudut pandangnya.
“Gue nggak butuh semua ini. Gue
cuman butuh kasih sayang. Gue bisa hidup pas-pasan asal ada kedua orang tua gue
di samping gue. Gue bisa hidup cukup dengan itu”, ucap Pinkan nggak mau kalah.
Bian terdiam, dia nggak mau
membuat suasana hati Pinkan makin runyam, dia diam agar Pinkan lebih nyaman dan
nggak terlalu di pusingkan dengan itu semua. Lalu terdengar suara tawa Pinkan
yang terdengar terpaksa dan penuh beban.
“Gue bodoh ya? Ini sudah kali
kedua gue nangis didepan lo. Sebelumnya gue nggak pernah nangis didepan cowok
kayak gini”, ucap Pinkan sambil membersihkan sisa-sisa air matanya lagi.
Bian nggak berkomentar apa-apa. Dia
hanya mematung memperhatikan Pinkan yang sedang tersenyum dengan penuh
keterpaksaan. Bian ikut tersenyum simpatik melihat Pinkan yang sebenarnya. Sisi
melow Pinkan yang nggak setiap orang tahu.
---
Wajah Pinkan terlihat nggak segar
sama sekali, malah cenderung terlihat agak kepucatan tapi sikapnya yang kuat
membuat seolah dirinya terasa kuat walau sebenarnya nggak begitu. Pagi ini
Pinkan berangkat bersama Bian lagi.
Bian meperhatikan wajah Pinkan, “Lo
sakit?”, tanya Bian perhatian.
Tapi Pinkan menggelengkan
kepalanya mantap, “Ayo berangkat”, ucap Pinkan sambil naik ke motor Bian.
Keduanya berangkat bersama-sama
ke sekolahan. Mereka harus cepat-cepat sampai ke sekolahan karena ini hari
senin, mereka harus mengikuti upacara bendera di sekolahan. Sebagai warga
negara Indonesia yang baik tentunya mereka harus mengikuti upacara bendera itu.
“Pagi-pagi gini sudah panas
banget ya?”, keluh Bian saat berhenti di sebuah trafic light.
Pinkan mengangguk mengiyakan, “Tapi
ya di syukuri saja, begini jugakan nikmat dari Alloh”, ucap Pinkan sok alim.
Gantian Bian yang mengangguk lalu
lampu berubah hijau, saatnya untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju
sekolahan.
“Tapi kayaknya ntar sore bakalan
turun hujan”, ucap Pinkan ringan.
Bian mendengar itu tapi nggak
berkomentar apa-apa, dia kembali serius mengendarai motornya agar nggak terjadi
hal-hal yang nggak diinginkan.
Saat melewati sebuah toko boneka,
dari kaca spionnya Bian melihat sorot mata Pinkan yang berbinar-binar seperti
menginginkan sesuatu saat melihat barisan boneka yang ada dietalase toko
boneka. Biat melirik kearah sana melihat ada boneka tedy bear besar sekali yang
berwarna pink.
To Be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar