•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Senin, 17 Oktober 2011

Jo#11 - Masih Bisa Tersenyum



Part11#Masih Bisa Tersenyum#

Disebuah kamar perawatan di rumah sakit tempat Papah dan Mamah Jo dan Jovan bekerja. Kamar itu nggak terlalu banyak cahaya karena memang sudah waktunya untuk tidur jadi nggak menggunakan lampu utama kamar itu.
Jo terbaring lemah, sebuah alat bantu pernafasan masih terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Dibalik bajunya terpasang beberapa pin berkabel kecil menempel disekitar jantungnya. Dan Jovan terlihat terkantuk di samping tubuh Jo yang tengah tertidur. Dari awal masuk ke rumah sakit sampai hari ini Jovan masih setia buat menjaga adiknya.
---
Cahaya matahari pagi menembus celah-celah korden kamar rawat Jo. Nggak lama kemudian ada Jovan yang menyingkap korden agar cahaya matahari bisa masuk ke kamar. Ada yang mengetuk pintu, ternyata Papah dan seorang perawat yang akan memeriksa kondisi Jo.
Jo di beberapa suntikan obat agar kondisinya segera pulih.
“Jo baik-baik aja. Mendingan kamu istirahat dulu, tidur dulu, makan dulu. Jo sudah bisa di tinggal sendirian”, ucap Papah sambil menepuk-nepuk pundak Jovan.
Tapi Jovan nggak mau, lebih penting dia menjaga Jo. Papah membiarkan pendirian anaknya yang teguh. Setelah perawat menyuntikkan obat, Papah dan perawat itu keluar untuk mengontrol pasien yang lainnya.
Alat bantu pernafasan sudah di gantikan dengan yang lebih simple lagi, sedangkan pin-pin yang mengontrol jantung Jo belum dilepas.
“Bang”, ucap lemah Jo.
Mendengar ada yang memanggilnya Jovan segera menghampiri Jo yang sudah sadarkan diri. Itu membuat Jovan nggak kuat menahan air matanya, untuk kali ini dia menangis dihadapan Jo yang malah tersenyum kepadanya.
Jo menghapus air mata Jovan dengan lembut, “Nggak perlu nangis bang, lagian gue yang ngerasain bukan bang Jovan”, celetuk Jo ringan.
Jovan membelai lembut rambut Jo, “Loe pasti kuat”, ucap Jovan memberikan semangat.
Jo mengangguk dan tersenyum, lalu dia mencoba untuk bangkit dan duduk tapi itu rasanya susah sekali. Jadi Jovan memutar tuas ranjang agar bisa lebih naik, membuat Jo bisa duduk. Nggak lama kemudian ada berisik suara orang mengetuk pintu.
Ada Desty dan Ferdinand, mereka berdua datang untuk melihat keadaan Jo. Dengan cepat Desty berlari dan memeluk sahabatnya itu, dia juga nggak kuasa menahan tangis. Desty nggak bisa berkata apa-apa, dia cuman menangis dan menangis. Jo terus menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
“Sudahlah nggak usah nangis! Loe tuh jelek kalo nangis”, ucap Jovan ketus.
Desty melepas pelukannya, “Terserah gue!”, timpalnya nggak kalah ketus.
“Sudahlah, sudah”, Jo menghapus air mata Desty.
Desty beranjak duduk di sofa dan membiarkan Ferdinand mendekati Jo. Ferdinand terlihat menahan air matanya, dia berusaha bersikap seolah-olah dirinya baik-baik saja mengetahui tentang ini semua. Jo memberikan senyuman untuk Ferdinand yang sekarang duduk di sampingnya. Ferdinand menghadiahkan pelukan hangat untuk Jo.
“Loe jahat Jo”, ucap Ferdinand lirih sambil melepas pelukannya.
Jo malah tertawa, “Sekarang loe jadi tahu ya kondisi gue itu sebenarnya gimana”, keluh Jo, “Tapi janji ya, jangan pernah kasihani gue”, Jo menunjukkan jari kelingkingnya.
Ferdinand mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Jo, tandanya Ferdinand berjanji nggak akan mengasihani Jo.
Di sisi lain, Desty membawakan makanan untuk Jovan yang dia pastikan belum makan dari tadi malam. Masakan yang Desty bawa adalah masakan buatan Desty. Jovan yang memang lapar langsung melahap dengan cepat makanan yang ada, dia terlihat menikmati makanan yang Desty bawa tapi dari tadi juga Jovan terus ngasih komentar yang negatif tentang masakan Desty.
“Keasinan nih! Loe pengin marriage ya?”, ledek Jovan.
Membuat Desty cemberut.
---
Kondisi Jo makin membaik, pin-pin yang ada didadanya sudah dilepas seluruhnya, dia juga sudah nggak membutuhkan alat bantu pernafasan lagi. Kondisinya betul-betul sudah semakin membaik dari sebelumnya.
Kali ini Ferdinand datang sendirian, dia bolos kuliah setelah dapet sms dari Jovan. Jovan bilang Jo sendirian, nggak ada yang nemenin, soalnya Jovan ada kuliah yang nggak boleh ditinggalin jadi dia meminta Ferdinand buat datang ke rumah sakit.
Ferdinand datang sambil membawa gitar, dia mendekati Jo sambil terus tersenyum dan langsung menghadiahkan sebuah kecupan ringan di kening Jo. Keduanya berpandang dan saling memberikan senyum.
“Gue mau nyanyi khusus buat loe”, ucap Ferdinand sambil mengeluarkan gitarnya dari dalam tas gitar.
Jo sangat terlihat senang.
“Mau lagu apa?”, tanya Ferdinand.
Jo memutar otaknya, “Hmmm, lagu apa ya?”, dia kembali berpikir, “Lagu Kita dulu deh”, ucap Jo bersemangat.
Ferdinand mulai memainkan gitarnya, sebuah lagu khusus dinyanyikan untuk Jo.
Terasa hangat dan menyenangkan. Keduanya sangat terlihat bahagia, sedikit hilang raut kesedihan diantara keduanya. Ferdinand memang bisa membuat suasana yang nyaman diantara mereka berdua.
Mereka saling bercanda, Jo juga usil menganggu Ferdinand yang sedang menyanyi. Mereka tertawa lepas, sedikit melupakan beban yang mereka pikul. Beban yang menyulitkan mereka.
Tiba-tiba hp-nya Ferdinand berdering, ada sms dari Desty yang benar-benar merusak suasana.
“Loe bolos gara-gara nemenin Jo di rumah sakit ya?”, ucap Desty dalam pesan singkatnya.
“Ya”, jawab singkat Ferdinand.
“Siapa Fer, yang sms?”, tanya Jo.
“Ini Desty, dia tahu kalau gue kesini”, jawab Ferdinand jelas.
“Loe kok nggak ngajak gue sih! Huft sebel”, keluh Desty dalam pesan singkatnya.
Ferdinand nggak membalas lagi sms itu, dan melanjutkan lagu yang kedua yang akan dia nyanyikan khusus untuk Jo.
---
Hari ini Jo sudah bisa pulang ke rumahnya. Kondisi tubuhnya memang sudah stabil dan kembali bugar seperti semula. Desty, Jovan, dan Ferdinand mengantarkan Jo pulang, Jo duduk di kursi roda yang didorong oleh Ferdinand, Desty dan Jovan membawakan barang-barang Jo.
Mereka berada di satu mobil yang sama, mobilnya Jovan. Jovan dan Ferdinand duduk di kursi depan, sedangkan Jo dan Desty duduk di kursi tengah. Mereka terlihat sangat gembira mengantar kepulangan Jo kerumah.
“Bang, mampir ke cafe. Gue mau yang seger-seger”, pinta Jo manja.
“Siap boss!”, ucap Jovan.
Jovan dan Ferdinand asyik dengan apa yang mereka bicarakan, begitu juga dengan Jo dan Desty yang lagi membahas tentang Neffira.
“Yang ngebuang obat loe itu Neffira, dia bener-bener keterlaluan”, gerutu Desty.
Jo tersenyum, “Sudah, itu nggak usah di bahas lagi”, ucap ringan Jo.
Kedunya terdiam sejenak.
“Tadi pagi dia datang”, ucap Jo lirih.
“Dia?”, tanya Desty nggak ngerti siapa yang dimaksud Jo.
“Rangga”, jawab Jo menyebutkan sebuah nama.
Desty terlihat terkejut, “Rangga?”, ucapnya lebih keras.
Membuat Ferdinand dan Jovan mendengarnya.
Flash back ke tadi pagi sebelum Jo di jemput pulang kerumah.
Ada seseorang cowok yang datang membawakan buket bunga mawar putih untuk Jo. Dia adalah Rangga. Cowok yang membuat hubungan Jo dan Neffira berantakan, Rangga yang disukai oleh Neffira tapi Rangga malah menyukai Jovita ketimbang Neffira.
“Gue harap loe baik-baik aja Jo. Gue ngerasa bersalah bikin hubungan loe sama Neffira jadi rusak”, ucapnya merasa bersalah.
Jo tersenyum, “Loe salah kalau loe nemuin gue kayak gini. Gue bisa tebak, sekarang ini loe sudah bener-bener jatuh cinta sama Neffira kan?”, terka Jo.
Rangga mengangguk pelan.
“Harusnya loe nggak usah temuin gue, loe harusnya ketemu sama Neffira”, ucap Jo.
Kembali ke yang sekarang.
“Terus gimana?”, tanya Desti penasaran.
“Dia bilang, dia mau ketemu sama Neffira hari ini juga. Dia mau jujur tentang perasaannya”, lanjut Jo menjelaskan.
Dari tadi diam-diam Ferdinand nguping karena dia penasaran kenapa Desty dan Jo serius banget membahas seseorang yang bernama Rangga. Tanpa sadar Jovan menangkap basan Ferdinand yang terlihat lagi menguping.
“Woi! Nggak perlu nguping lagi, kalau loe mau tahu tinggal tanya aja”, celetuk Jovan yang benar-benar mengagetkan Ferdinand.
Ferdinand yang kaget jadi salah tingkah, dia bingung harus bersikap apa. Jovan, Desty, dan Jo malah mentertawakan Ferdinand.
---
Hari ini Jo sudah bisa masuk kuliah lagi. Dia sudah selesai sarapan dan minum obat. Setelah pamit sama Mamah dan Papah, Jo dan Jovan berangkat bersama-sama ke kampus.
Sampai juga di parkiran. Jo langsung turun dari mobil begitu juga dengan Jovan.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Jo, kontan dia mencari sumber suara yang memanggilnya. Ternyata dua sahabatnya Desty dan Ferdinand yang memanggil Jo secara bersamaan. Desty berada nggak jauh dari parkiran dan Ferdinand berada di belakang Desty yang sudah nggak jauh dari tangga masuk kampus.
Kedua sahabatnya itu melambaikan tangan, Jo juga membalas mereka dengan lambaian tangan.
“Gue duluan ya bang”, pamit Jo.
Jovan mengangguk. Jo bergegas menghampiri Desty tapi baru beberapa langkah dia berjalan, dadanya terasa nyeri lagi, membuat dia sesak nafas. Benar-benar sesak, dia sulit untuk bernafas, dadanya juga semakin nyeri, Jo terlihat kesakitan.
“Jo!”, teriak Desty, Jovan, dan Ferdinand bersamaan saat Jo terjatuh ke tanah.
Ketiganya berlari menghampiri Jo yang sesak nafas gelasahan di tanah.
Jovan, Desty, Ferdinand, dan orang-orang disekitar mereka langsung panik. Banyak orang yang mengelilingi mereka, tapi dengan cepat Jovan membopong Jo masuk kedalam mobil lagi, Ferdinand dan Desty juga masuk dalam mobil Jovan.
Mereka membawa Jo kembali ke rumah sakit. Kondisi Jo terlihat sangat buruk, Jo sudah nggak sadarkan diri, denyut nadinyapun sudah samar-samar. Mereka takut, mereka bingung, mereka nggak tahu harus bagaimana.
***
to be continued...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...