•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Senin, 19 Desember 2011

Something Called Love - Part 19


Something Called Love – Part 19
Pagi ini memang Pinkan sempat sarapan bareng kedua orang tuanya tapi ini bener-bener yang dinamain makan pagi. Habis shubuh mereka sarapan, Papah dan Mamah biasa pergi ke kantor setelah itu. Dan sekarang Pinkan lagi asyik ngemil sambil duduk diteras rumahnya menunggu jemputan dari Kevin.
Dia melihat ke jalan didepan rumahnya, dia teringat tadi malam. Tadi malam waktu dia dan Bian makan malam bersama di tengah-tengah aspal sana.
Flashback on                       
“Lo marah ya sama gue?”, tanya Bian.
Pinkan diam saja nggak menanggapi dia masih konsen makan.

“Ih ditanya kok gitu. Jawab dong”, ucap Bian lagi.
“Gue lagi makan, nggak usah ngajak berdebat kek”, ucap Pinkan ketus.
Mendengar ucapan Pinkan, Bian malah tertawa geli. Setelah itu keduanya kembali terdiam nggak bersuara, mereka menikmati makanan mereka masing-masing.
“Lo tahu Selly-kan?”, ucap Bian tiba-tiba.
Pinkan berusaha acuh dan tetap makan tapi telinganya tetap mendengarkan Bian. Dia juga nggak langsung berkomentar karena Bian sepertinya belum selesai dengan kalimatnya, masih banyak kata yang ingin Bian ungkapkan.
“Dia itu mantan gue. Dulu dia mutusin gue gara-gara lebih memilih cowok itu, cowok yang pernah kita lihat di mall”, ucap Bian menjelaskan.
Kali ini Pinkan menghentikan acara makannya, dia mencoba mendengarkan Bian tanpa melihat wajah Bian, dia masih setengah hati untuk mendengarkan cerita dari Bian.
“Dia juga merupakan cewek yang dulu disukai Kevin. Gue sama Kevin hampir berantem gara-gara ngrebutin ini cewek”, ucap Bian sedikit tertawa, “Dan yang berhasil dapetin Selly itu gue, makanya Kevin pindah ke Malang. Lalu setelah itu gue sama Selly putus karena ternyata dia sudah punya cowok lain dan gue nggak tahu itu”, ucap Bian dengan nada memelas.
Dan sekarang Pinkan mendengarkan cerita Bian seutuhnya, dia mendengarkan Bian yang bercerita tentang masa lalunya dengan Selly dan juga dengan Kevin.
“Dan mulai saat itu gue sama Kevin berjanji nggak akan mencintai wanita yang sama lagi”, ucap Bian mengakhiri kalimatnya.
Pinkan terhenyak, apa maksud Bian di kalimat yang terakhirnya? Dia dengan Kevin nggak akan mencintai wanita yang sama lagi. Lagi? Apa maksud kata itu? Apa mungkin sekarang ada seorang wanita yang mereka cintai? Pinkan bingung dan nggak berkomentar apa-apa, dia malah melanjutkan makan yang terlihat tinggal sedikit lagi akan habis. Bian melirik kearah Pinkan yang sedang makan, “Gue sama Kevin nggak akan mencintai wanita yang sama, yaitu lo”, ucap Bian dalam hati.
Flashback off
“Helloooo, pagi-pagi sudah ngelamun. Sadar, ayo sadar!”, suara seorang cowok yang berbicara pada Pinkan, Kevin melambai-lambaikan tangannya di hadapan Pinkan untuk membuyarkan lamunan Pinkan.
Pinkan agak tersentak waktu sadar lalu tersenyum malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali nggak gatal, “Hehehe, maaf”, ucapnya ringan sambil terus menggaruk membuat rambutnya yang sudah rapi menjadi berantakan lagi.
Dengan cepat Kevin menghentikan ulah Pinkan itu. Meletakkan tangan Pinkan di bawah, lalu mulai merapikan rambut Pinkan yang agak berantakan itu.
“Lo sudah rapi gini malah diacak-acak lagi”, tukas Kevin sambil merapikan.
Pinkan merasa aneh, dia biasa saja dengan ini, jantungnya berdetak seperti biasanya yang menurut penelitian jantung berdetak 72 permenit. Beda kalau Bian yang melakukan itu padanya, sampai-sampai dia bisa merasakan jantungnya itu dua kali lebih cepat memompa darah, kenapa bisa seperti itu? Bukankah Kevin dan Bian sama-sama seorang cowok.
Dari atas balkon kamarnya Bian melihat Pinkan dan Kevin yang terlihat makin akrab. Jantungnya dibuat cepat berdetak sampai-sampai dia memegangi dadanya dengan tangan yang agak bergetar.
“Dia suka sama lo, gue nggak bisa suka sama lo juga”, ucap lirih Bian.
“Aduh. Kok malam ngelamun lagi. Ayo bangun!”, Kevin mendapati Pinkan yang masih melamun, lalu dia menggoyang-goyangkan kedua lengan Pinkan.
Pinkan kembali tersenyum agak malu-malu karena melamun dari tadi. Lalu Pinkan bangkit dan meraih tas dan jaket pink-nya yang ada dimeja, “Ayo berangkat”, ucap Pinkan bersemangat.
Kevin mengangguk lalu mereka berjalan bersama menuju motor Kevin yang berwarna biru mengkilat, kali ini Kevin mengendarai motornya karena kemarin dia sudah meminta helm pink Pinkan dari tangan Bian.
“Pasti lo penggemar pink ya?”, tanya Kevin sambil memberikan helm milik Pinkan.
Tentu pinkan mengangguk, kali ini dia sudah memakai jaket hangatnya, “Tentu saja”, ucap Pinkan agak bersemangat.
Lalu mereka berdua naik motor dan pergi keluar dari halaman rumah Pinkan. Pinkan sempat melihat Bian yang masih ada di balkon kamar, dia melihat Bian sampai Bian nggak terlihat karena terhalang bangunan dan pohon-pohon yang ada disekitar kompleks mereka.
Tatapan tajam dari mata Pinkan untuk Bian sangat penuh makna, “Yang gue harap itu cuma lo”, ucap Pinkan dalam hati.
Kevin memacu motornya lebih cepat setelah sudah mulai memasuki jalan raya. Dengan itu menjadi kesempatan buat dia untuk membuat Pinkan lebih erat berpegangan padanya. Tentu Pinkan mengiyakan karena jelas dia nggak mau jatuh konyol karena nggak berpegangan. Dan saat nggak sengaja tangan kedunya bersentuhan, sama sekali Pinkan nggak merasakan getaran-getaran yang sering dia rasakan kalau bersama dengan Bian.
“Maaf”, ucap Kevin karena nggak sengaja memegang tangan Pinkan lalu kembali ke stang motor sport-nya.
“Nggak apa-apa kok”, ucap Pinkan ringan.
Dalam posisi itu Pinkan bisa merasakan degupan jantung Kevin yang sepertinya berubah lebih cepat daripada sebelum dia berpegangan erat seperti itu. Kecepatan jantung yang sering dia rasakan bila bersama dengan Bian, dan sekarang saat dia bersama Kevin, Kevin yang merasakan hal itu.
---
Ternyata pelajaran pertama di kelas XII.1 kosong karena guru pengajarnya sedang keluar untuk menghadiri rapat penting, jadi sampai istirahat nanti mereka bebas nggak ada pelajaran. Vina dari tadi menempel terus pada Bian, dengan berbagai alasan mulai dari tanya-tanya tentang pelajaran sampai apapun yang penting bisa ngobrol sama Bian.
Sedangkan warga kelas XII.4 lagi asyik berlari bersama mengitari lapangan sepak bola yang super duper luas, saatnya pelajaran olah raga demi kebugaran tubuh mereka semua. Dari tadi Kevin terus menempel pada Pinkan, mereka berdua berlari beriringan, Joni ada dibelakang mereka berdua.
Dan terlihat Bian dan Vina yang sedang berjalan melewati lapangan sepak bola itu. Bian menghentikan langkahnya dan duduk menghadap kelapangan.
“Katanya mau ke kantin, kenapa berhenti disini?”, tanya Vina yang akhirnya juga duduk disamping Bian.
“Gue belum laper, kekantinnya nanti aja”, jawab Bian tanpa melihat kearah Vina.
Dia melihat lurus kearah lapangan sepak bola, dia melihat Pinkan dan Kevin yang berlari beriringan. Dadanya berubah menjadi sesak, sesuatu yang akan menyiksanya saat melihat Pinkan bersama laki-laki lain. Bian melihat Pinkan yang tertawa lepas saat bercanda dengan Kevin makin membuatnya sakit.
“Aduuh”, Pinkan terjatuh.
Bian dengan cepat bereaksi, tubuhnya bangkit hendak menolongnya tapi Kevin yang ada disamping Pinkan dengan cepat menolongnya. Tubuh Bian agak melemah lalu duduk lagi, Vina yang ada disamping Bian tahu kalau Bian itu suka sama Pinkan tapi dia nggak mau tahu, Vina masih berharap Bian menjadi miliknya.
“Lo nggak kenapa-napakan?”, tanya Kevin memastikan.
“Kayaknya kaki gue terkilir”, ucap Pinkan sambil mengelus-elus kakinya.
“Ayo naik”, ucap Kevin menawarkan gendongan.
Pinkan nggak mau tapi Kevin memaksa dengan sangat jadi akhirnya Pinkan ikut saja, dia gendong di punggung Kevin. Mereka berdua pergi ke UKS yang berada tepat di belakang tempat duduk Bian dan Vina. Degup jantung Bian makin cepat saat Kevin dan Pinkan mulai berjalan mendekat kearahnya.
“Haduuh bro, ini jam pelajaran. Masa pacaran diluar kelas gini”, timpal Kevin saat mendapati Bian bersama dengan Vina.
Pinkan nggak mau melihat wajah Bian yang sedang bersama dengan Vina. Vina berubah bersemangat lalu menggandeng tangan Bian dengan manja, keduanya nggak menjawab apa-apa.
“Lo kenapa Pink?”, tanya Vina.
Mau nggak mau Pinkan harus melihat kearah Bian dan si penanya, “Cuma terkilir, nggak parah kok”, ucap Pinkan cepat-cepat, “Ayo cepet ke UKS”, pinta Pinkan pada Kevin yang sedang menggendongnya.
Kevin mengangguk mengerti lalu berpamitan pada Vina dan Bian yang masih bergandengan tangan itu, “Oh ya, gue ke UKS dulu ya”, ucap Kevin yang kemudian berjalan ke ruang UKS.
To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...