•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Jumat, 16 Desember 2011

Something Called Love - Part 16


Something Called Love – Part 16
Langit mulai gelap tapi nggak berpengaruh sama sekali didalam mall yang tetap terang benderang ini. Bian dan Pinkan berjalan bersama-sama menuju sebuah food court yang ada didalam mall yang megah itu, mereka lapar setelah tadi menonton film terbaru yang diputar di bioskop.
“Mau makan apa?”, tanya Bian singkat menoleh ke arah Pinkan.
“Hmmm”, desah ringan Pinkan, “Gue ingin makan bakmi jawa”, jawab Pinkan sambil menunjuk kearah stan bakmi jawa.
Bian mengangguk, “Kayaknya enak. Ayo!”, sahut Bian bersemangat.
Keduanya berjalan menuju stan bakmi jawa lalu mereka duduk agak di pinggir. Mereka sudah memesan makanan untuk makan malam mereka hari ini.

Ada sepasang cowok cewek yang sudah bisa ditebak mereka adalah sepasang kekasih itu kebingungan mencari tempat duduk yang kosong. Dan sepasang kekasih itu melihat tempat duduk Pikan dan Bian yang masih ada tempat, cukup untuk empat orang lagi jadi kalau hanya mereka berdua saja pasti masih berlebih.
“Kesana aja yuk”, ajak cowok yang menggandeng tangan ceweknya itu.
Tapi ceweknya itu menjadi membatu, hendak menolak tapi cowok itu terlalu kuat, cewek itu akhirnya mengikuti pacarnya berjalan kearah Pinkan dan Bian.
“Maaf, apa boleh kita menggunakan tempat duduk ini?”, tanya cowok itu ramah pada Bian dan Pinkan.
Bian dan Pinkan menoleh kearah sepasang kekasih itu. Pinkan tersenyum ramah sedangkan Bian terlihat terkejut, begitu juga dengan cewek yang ada dihadapannya terlihat terkejut melihat Bian, sedangkan cowoknya tersenyum ramah pada keduanya.
“Boleh. Silakan duduk”, ucap Pinkan ramah.
“Sudah lama nggak ketemu”, ucap Bian pada cewek itu.
Cewek itupun tersenyum ringan, “Iya. Sudah lama kita nggak ketemu. Gimana kabar lo?”, ucap cewek itu agak bergetar.
Pinkan dan cowok pacarnya cewek itu bertemu pandang, sepertinya bahasa tubuh mereka itu menyiratkan sesuatu untuk menanggapi Bian dan cewek itu.
Pasangan itu akhirnya duduk bersama dengan Pinkan dan Bian. Suasana mulai mencair berubah menjadi nyaman, Bian membiarkan cewek itu duduk berdampingan dengannya, dia nggak begitu memikirkan itu karena ada Pinkan disana dia nyaman disamping Pinkan.
Mereka mulai menikmati makanan mereka masing-masing. Beberapa kali percakapan menyenangkan juga dilakukan oleh Pinkan dan cowok itu yang memang keduanya nggak tahu apa-apa, mereka orang yang nggak saling mengenal dan nggak pernah ada cerita sebelum ini. Berbeda dengan Bian dan cewek itu.
“Bian? Selly?”, ucap seorang cowok yang berjalan melewati tempat duduk mereka berempat.
Selly adalah nama cewek yang tadi dimaksud.
“Kevin?”, ucap Bian dan Selly bersamaan.
Lalu Kevin bergabung dengan mereka berempat. Dulu waktu SMP mereka berada disatu sekolah yang sama, Kevin, Pinkan, dan Bian adalah teman akrab waktu di sekolahan dulu. Terjadi cinta segitiga diantara mereka. Bian dan Kevin sama-sama menyukai Selly, tapi Selly hanya menyukai Bian dan merekapun jadian.
Tapi hubungan keduanya Bian dan Kevin tetap baik sampai akhirnya Kevin lanjutin SMA di Malang di kampung halaman Papahnya, dan Selly melanjutkan SMA di Bandung. Dan karena hubungan jarak jauh itu Bian dan Selly putus, sekarang Selly sudah punya yang lain.
Akhirnya Kevin ikut makan malam disitu, dia mengangkat alisnya yang menyiratkan pertanyaan pada Bian tentang siapa cowok yang bersama dengan Selly. Bian membalas juga dengan bahasa tubuh, dan uniknya Kevin mengerti apa maksud dari Bian.
“Oh ya kita belum kenalan. Gue Kevin”, ucap Kevin memperkenalkan diri pada Pinkan.
Pinkan tersenyum ramah lalu menghentikan makannya meraih tangan Kevin lalu bersalaman, “Gue Pinkan”, ucap Pinkan ramah.
“Kalian pacaran juga?”, tanya Kevil sambil menunjuk Pinkan dan Bian.
Dengan cepat Bian dan Pinkan menggelengkan kepala mereka, mereka hanya bersahabat saja.
“Nggak dong! Nggak mungkin kita pacaran. Gue sama Pinkan itu cuma teman, nggak lebih!”, ucap Bian keras.
Membuat hati Pinkan sakit, “Apa? Nggak mungkin? Dia bisa dong jawab hanya enggak bener kalau kita pacaran. Kenapa harus nggak mungkin? Maksud dia apa?”, ucap Pinkan dalam hati.
“Haduuh, kenapa gue ngomong nggak mungkin! Bodoh. Bodoh. Bodoh!”, benak Bian.
“Kalau gitu gue punya kesempatan dong”, ucap Kevin bersemangat.
Pinkan dan Bian hanya diam lalu menikmati makanan mereka lagi.
“Oh ya, lo sekolah di SMA Persada kan?”, tanya Kevin pada Bian.
Bian mengangguk cepat, “Iya. Emangnya kenapa?”, tanya Bian pada Kevin setelah menelan makanannya.
“Gue pindah ke SMA Persada”, ucap Kevin yang kemudian melanjutkan makannya.
Pinkan dan Bian langsung terbelalak mendengar jawaban dari Kevin. Kevin pindah sekolah ke SMA Persada, jadi Kevin, Bian, dan Pinkan. Kevin tersenyum senang karena bisa berada disekolah yang sama dengan Bian dan Pinkan.
---
“Mah, Pinkan seneng banget deh bisa tidur bareng Mamah malam ini”, ucap Pinkan dalam belaian Mamahnya.
Malam ini Mamah akan menemani Pinkan tidur di kamarnya. Dari tadi Pinkan dengan manja tidur di pangkuan Mamahnya, Mamah juga nyaman dengan situasi itu. Mamah sadar waktunya lebih banyak untuk pekerjaan dan dia lebih sering meninggalkan Pinkan sendirian, pekerjaan selalu menyita waktunya tapi itu semua dia lakukan demi Pinkan.
“Kamu sudah dewasa. Mamah yakin kamu sudah bisa menerima kenyataan kalau Papah sama Mamah berpisah”, ucap Mamah tiba-tiba, “Kamu harus siap tinggal dengan salah satu diantara Mamah atau Papah. Tapi Mamah selalu berharap kamu bakalan milih Mamah”, lanjut Mamah masih membelai lembut rambut anaknya itu.
Pinkan menutup kedua matanya rapat-rapat, dia enggan melihat Mamahnya saat mengatakan itu semua. Pinkan muak dengan ucapan itu.
“Untuk malam ini Mah, please jangan bahas itu-itu terus”, timpal Pinkan sambil membuka matanya.
Mamah sedikit tertawa, “Maaf”, ucap Mamah singkat. “Oh ya, besok kamu sudah mulai berangkat sekolah ya? Sudah beli semua perlengkapan buat di kelas 3 yang paling tua itu?”, tanya Mamah perhatian.
Pinkan mengangguk ringan, “Semuanya sudah siap”, jawab Pinkan.
“Bagus deh”, ucap Mamah masih membelai rambut anaknya itu. “Kamu nggak mau ganti pakai mobil berangkat sekolahnya?”, tanya Mamah.
“Emangnya boleh?”, timpal Pinkan sambil bangkit untuk duduk.
Mamah mengangguk, “Ya boleh-boleh aja, lagian kamu kan juga sudah punya SIM A”, lanjut Mamah.
“Tapi nggak ah Mah”, ucap Pinkan kembali ke posisi berbaring di pangkuan Mamahnya, “Asyikan naik motor”, lanjut Pinkan ringan.
Pinkan menguap lebar.
“Sudah ngantuk?”, tanya Mamah.
Pinkan-pun menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berdua merubah posisi bersebelahan, saatnya untuk tidur, kedua mata ibu dan anak itu memang sudah mulai memerah karena mengantuk. Tapi baru saja mereka menarik selimut terdengarlah suara ringtone hp Mamah yang berdering dengan nyaring memecah keheningan malam.
Tentu saja itu semua membuat Pinkan sebel, dia membelakangi Mamahnya yang hendak mengangkat telfon.
“Maaf untuk malam ini jangan ganggu saya dengan pekerjaan kantor. Besok kita selesaikan bersama di kantor”, ucap Mamah tegas lalu menutup telfon dan kemudian menonaktifkannya, lalu diletakkan kembali di atas meja.
Mendengar ucapan dari Mamah tadi, kontan membuat Pinkan kembali menghadap Mamahnya lalu memeluknya erat. Pinkan yang haus akan kasih sayang dari orang tuanya itu, malam ini dia senang karena setidaknya dia bisa bersama dengan salah satu orang tuanya yang ternyata tetap menyayanginya.
Saat-saat yang indah itu tiba-tiba buyar karena sekarang terdengar dering hp lagi, kali ini hp-nya Pinkan yang berbunyi nyaring. Pinkan tersenyum ringan pada Mamahnya lalu bergerak untuk mengambil hp-nya, dan yang menelfon adalah Bian.
“Sorry, untuk malam ini jangan ganggu gue dulu. Quality time with my mother”, ucap Pinkan tegas lalu menutup telfon itu kemudian menonaktifkannya dan meletakkan hp itu kembali di meja.
Bian mendesah kesal tapi ya sudahlah. Dia nggak mau menggangguk waktu Pinkan bersama dengan Mamahnya, “Awas lo besok kalau sampai satu kelas lagi sama gue!”, timpal Bian sambil sedikit tertawa kemudian mendengus.
Bian-pun beranjak tidur, tadinya dia menelfon Pinkan karena akan mengajaknya berangkat bersama besok. Tapi ya sudahlah, toh rumah mereka berhadapan pasti kalau waktunya tepat mereka akan saling bertemu pandang.
To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...