•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Jumat, 23 Desember 2011

Something Called Love - Part 23


Something Called Love – Part 23
Untuk seminggu kedepan Pinkan nggak akan mempedulikan masalah cintanya terlebih dulu, saatnya untuk fokus pada Ujian Nasional yang akan menentukan kelulusannya.
Hari pertama ujian, Pinkan sudah siap dengan segala kelengkapannya, dia juga mengenakan ikat rambut pemberian Bian saat mereka pernah jalan-jalan bersama, Pinkan tersenyum ceria sambil melihat bayangannya dicermin lalu ada yang membuka pintu kamarnya, yaitu Mamah.

Pagi ini Mamah dan Papah akan mengantar Pinkan ke sekolahan, mereka berdua terlihat lebih baik dari sebelumnya dan sekarang mereka berada disatu mobil yang sama dengan Pinkan. Setelah selesai sarapan mereka langsung berangkat kesekolahan, sebentar lagi akan berlangsung ujian.
Sampai disekolahan Pinkan diturunkan di depan gerbang sekolahan, setelah berpamitan dan minta doa restu agar dia berhasil kepada orang tuanya, Pinkan lalu masuk setelah melambaikan tangannya saat kedua orang tuanya pergi. Semangatnya untuk hari ini sudah full, siap untuk mengerjakan soal-soal nantinya.
---                                                        
Sebulan kemudian.
Suasana di sekolahan sudah riuh dengan para siswa yang sedang menunggu hasil pengumuman kelulusan didepan beberapa papan pengumuman yang telah disebar di beberapa dusut sekolahan, wali mereka juga ikut tegang menunggu hasil keputusan dari sekolah. Dan Pinkan juga terlihat menunggu kedua orang tuanya yang belum datang.
“Papah sama Mamah kamu belum datang?”, tanya Kevin yang selalu ada disampingnya.
Pinkan menggelengkan kepalanya, “Katanya masih kejebak macet”, ucap Pinkan tanpa melihat lawan bicaranya.
Lalu Kevin merangkul Pinkan, “Sudah jangan di tunggu-tunggu gitu nanti malah kerasanya lama banget, mendingan nungguin hasilnya dulu”, timpal Kevin tersenyum.
Lalu kali ini Pinkan menoleh kearah cowok yang merangkulnya sambil tersenyum itu, Pinkan dibuat tersenyum juga, “Lo pasti nggak lulus!”, ledek Pinkan.
“Kalau gue nggak lulus nggak apa-apa asal lo juga nggak lulus!”, timpal Kevin bersemangat.
Dari jauh Bian yang lagi bersama Vina dan banyak teman mereka melihat kegembiraan Pinkan dan Kevin, tapi Bian nggak bisa tersenyum melihat mereka bahagia, dia akan senang kalau dia yang membuat Pinkan berbahagia.
Saatnya pengumuman, beberapa petugas mulai membuka papan pengumuman dan yang tertulis adalah ‘SISWA-SISWI SMA PERSADA 100% LULUS UJIAN NASIONAL’. Sontak tulisan yang besar itu membuat semua pelajar langsung mengharu biru, bersyukur, dan mengekspresikan kegembiraan mereka.
Pinkan dan Kevin berpelukan senang menang, Joni datang nggak mau kalah Joni memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat lalu ketiganya melonjak-lonjak kegirangan karena akhirnya bisa mengetahui hasil ujian nasional yang sudah mereka tunggu-tunggu.
Vina hendak memeluk Bian tapi Bian malah berjalan pergi dara keramaian itu, tentu membuat Vina mengikuti langkahnya. Mereka berdua berjalan ke lorong yang sepi tanpa penghuni.
“Lo kenapa?”, tanya Vina sambil menggenggam pergelangan Bian.
“Lepasin”, ucap Bian lalu memutar badannya melihat kearah Vina, “Gue nggak bisa. Sama sekali rasa ini nggak tumbuh buat lo, cuma ada Pinkan dihati gue”, ucap Bian tegas.
Vina terdiam sejenak.
“Gue muak dengan semua ini, gue harap permainan ini berakhir gue nggak bisa terus-terusan sama lo”, lanjut Bian makin tegas dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. “Gue terlalu pengecut karena nglepas cinta gue buat sahabat gue sendiri”, lanjut Bian.
Vina tersenyum, “Gue bisa terima ini, gue emang nggak bisa buat lo suka sama gue. Gue juga tahu kalau cuma ada Pinkan dihati lo”, ucap Vina sambil memaksakan senyuman. “Tapi setidaknya untuk yang terakhir kalinya ayo kita sama-sama merayakan kelulusan kita ini”, lanjut Vina memberikan ide.
Lalu Bian memeluk tubuh Vina dengan erat, “Maafin gue”, ucapnya setelah melepas pelukan.
Vina mengangguk tidak apa-apa, lalu keduanya berjalan menuju keramaian lagi mencari Pinkan, Kevin, dan Joni.
Mereka berdua hanya bertemu dengan Kevin dan Joni diparkiran tanpa ada Pinkan disana. Bian dan Vina berjalan mendekat kearah mereka lalu saling mengucapkan selamat atas kelulusan mereka, sungguh mengharukan.
“Pinkan mana?”, tanya Vina pada Joni dan Kevin.
“Dia mau ngerayain sama Mamah dan Papahnya kita nggak usah ganggu dia dulu”, jawab Kevin sambil tersenyum.
“Pinkan seneng banget tadi waktu kedua orang tuanya datang sama-sama”, lanjut Joni menjelaskan.
“Ya sudah, ayo kita pergi buat ngerayain ini semua”, lanjut Vina.
Akhirnya mereka pergi hanya berempat membiarkan Pinkan bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka berempat nggak sempat corat-coret baru bersama dengan teman-teman, lagian nggak ada manfaatnya ini corat-coretan kayak gitu. Mereka berempat menuju restoran dekat sekolahan.
Pinkan sangat senang bersama dengan kedua orang tuanya. Kegembiraan yang berlipat ganda, kegembiraan atas kelulusannya dan kegembiraan atas kedua orang tuanya yang menjemputnya secara bersama-sama. Papah, Pinkan dan Mamah duduk di jok belakang, membiarkan supir serius menyetir.
“Ada sesuatu yang ingin Papah sama Mamah katakan sama kamu”, ucap Papah serius.
“Apa Pah?”, tanya Pinkan penasaran.
Lalu papah memberikan amplop besar pada Pinkan dan Pinkan membukanya ternyata sebuah surat cerai yang telah disah-kan oleh pengadilan agama, Papah dan Mamah sudah resmi bercerai tepat pada hari ini, hari pengumuman kelulusan Pinkan, kontan membuat Pinkan syock nggak ketulungan. Dia melemparkan pandangannya yang pilu dan penuh tanya kepada kedua orang tuanya secara bergantian.
“Jadi Papah sama Mamah sudah resmi bercerai?”, tanya Pinkan memastikan.
Kedua orang tuanya mengangguk bersamaan.
“Ini jalan terbaik untuk keluarga kita, Papah harap kamu bisa mengerti. Ini sesuatu yang sangat sulit untuk Papah dan Mamah putuskan, tapi inilah hasil akhirnya. Sebuah keputusan yang tepat, keputusan yang memisahkan Papah dan Mamah”, ucap Papah mencoba menjelaskan.
Mamah mengelus-elus rambut Pinkan, “Ini yang terbaik buat kita semua”, ucap Mamah.
Lalu Pinkan tersenyum lebar dengan air mata yang mengalir deras kemudian memeluk kedua orang tuanya dengan erat, “Nggak tahu baik atau buruk tapi saat seperti ini sudah Pinkan pikirkan, Pinkan mengerti”, ucap Pinkan dewasa.
Vina, Bian, Kevin, dan Bian sedang menikmati makanan mereka untuk merayakan kelulusan mereka.
Pinkan melihat rambu lalu lintas penunjuk arah yang dipasang dipinggir jalan, “Kita ke bandara?”, tanya Pinkan penasaran.
Mamahnya mengangguk, “Kita berdua akan pindah ke Italia, Mamah pindah tugas ke Roma kamu juga akan kuliah disana”, jawab Mamah.
Pinkan dibuat terkejut lagi, awalnya dia terkejut dengan perceraian kedua orang tuanya dan sekarang dia dikejutkan dengan kepindahannya bersama Mamah ke Itali, Pinkan akan meninggalkan Indonesia dalam waktu yang belum ditentukan, dan dia akan terbang ke Itali siang ini juga.
Dan nggak lama kemudian mereka sampai di bandara, sebelum masuk ke tempat pengecekan tiket dan passport, Pinkan pamit sebentar untuk menelfon temannya. Dan dia menelfon Bian tapi sayang hp-nya Bian nggak aktif, kemudian dia menghubungi Kevin yang mungkin sedang bersama dengan Bian.
“Hallo Pinkan”, sapa Kevin sambil mengunyah cepat makananya.
“Hey, lo lagi sama Bian nggak?”, tanya Pinkan cepat.
“Iya, lo mau ngomong sama dia?”, tanya Kevin sambil melirik kearah Bian.
“Iya”, jawab singkat Pinkan.
Lalu kevin memberikan telfonnya pada Bian, Pinkan mau bicara dengan Bian.
“Hallo”, sapa Bian.
“Bian”, ucap Pinkan bersemangat tapi nggak tahu kenapa air matanya jadi mengalir, “Gue cuma mau jujur sama lo, gue cinta sama lo. Mungkin ini konyol karena gue yang ngungkapin duluan, karena gue tahu lo sudah jadi milik Vina”, ucap Pinkan cepat dengan air mata yang terus mengalir, “Gue mau pergi jauh dan nggak tahu kapan gue akan pulang mungkin gue memang nggak akan pulang ke Indonesia lagi. Setidaknya gue sudah bisa jujur sama lo”, ucap Pinkan.
“Lo mau kemana?”, tanya Bian cepat.
“Itali. Jaga diri lo baik-baik, nggak usah datang ke bandara karena lima belas menit lagi gue sudah mau take off”, lanjut Pinkan yang kemudian menutup telfonnya dan melepaskan baterry hp-nya dan memasukkan semuanya dalam tas sekolahnya.
Saatnya untuk Pinkan pergi. Bian terdiam nggak percaya Pinkan akan pergi meninggalkannya, setidaknya dia nggak diberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya, menjelaskan tentang keadaannya yang sebenarnya. Kejelasan hubungan antara Bian dan Vina yang sebenarnya nggak ada apa-apa, kejujuran Bian yang hanya mencintai Pinkan nggak bisa dia ungkapkan tadi.
Bian terdiam dalam rasa penyesalannya, dia terlalu pengecut selama ini. Dia bangkit dari tempat duduknya lalu memacu motornya pergi dari situ meninggalkan Joni, Kevin dan Vina dalam kebingungan. Bian memacu motornya kencang lalu berhenti ditempat yang sepi dan lapang, dia melihata ada pesawat yang melintas di langit.
“Gue cinta sama lo, Pinkan! Gue cuma cinta sama lo. Maafin gue yang terlalu pengecut ini”, teriak Bian sambil melihat kearah pesawat itu.
To Be Continued....

2 komentar:

  1. wow banyak sekali partnya. mau sampe part berapa? aku nunggu lho. buruan yah, udh ngga sabar nih

    BalasHapus
  2. hehehe
    cuman sampe 25 part adja...
    pas tanggal 25 jg udah kelar...
    tungguin ya
    makasih udah mau baca
    ^^

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...