•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Minggu, 11 Desember 2011

Something Called Love - Part 11


Something Called Love – Part 11
Disebuah ruangan di SMA Persada, sebuah ruangan yang nggak terlalu besar, terdapat dua ranjang dengan kaki yang cukup tinggi. Disamping sebuah ranjang terlihat Bian yang duduk termenung menunggui seseorang yang tubuhnya terbaring ranjang yang ada di depan Bian. Tubuh Bian menutupi wajah orang yang berbaring di ranjang.
Tiba-tiba Bian bangkit membantu orang itu untuk duduk, orang itu sadar dari pingsannya gara-gara upacara bendera tadi. Bian memberinya segelas teh manis hangat untuk memberinya tenaga.
“Harusnya lo nggak usah berangkat sekolah tadi”, ucap Bian ketus.

Orang itu yang ternyata Pinkan sedikit tertawa walaupun masih sedikit merasakan pusing di kepalanya, “Gue pingsan ya?”, gumamnya dengan rambut yang berantakan.
Bian mencoba merapikan rambut Pinkan, lagi-lagi hal yang simple ini membuat jantung Pinkan meloncat-loncat tak beraturan kesana-kemari. Pinkan sendiri heran kenapa dia selalu merasakan hal seperti ini kalau Bian memberi perhatian lebih padanya.
“Kepala lo masih pusing?”, tanya Bian perhatian sambil merapikan poni Pinkan.
Pinkan mengangguk lemah, “Gue ngrepotin lo ya?”, ucap Pinkan merasa malu.
Kini Bian malah mengangguk, “Lo bener-bener ngerepotin gue”, ucapan dari Bian yang membuat Pinkan cemberut, “Tapi gue seneng”, lanjut Bian singkat.
Pinkan nggak ngerti apa maksud dari Bian, masa direpotin kok seneng? Kalau gitu mendingan sering ngrepotin aja ya? Gimana? Hahaha maksa.
“Maksud lo apa?”, tanya Pinkan nggak ngerti.
Bian menghentikan aksinya merapikan rambut Pinkan, lalu menatap wajah Pinkan, “Gue seneng soalnya gue jadi nggak usah ikut pelajarannya pak Tarno”, ucap Bian diiringi senyuman puas.
Tapi Pinkan nggak suka dengan jawaban Bian, Pinkan berharap Bian menjawab dia senang karena bisa menemaninya disini. Tapi ya sudahlah, Pinkan enggan berdebat, kepalanya masih pusing. Dan kali ini terasa pusing sekali sampai-sampai dia memegangi pelipisnya.
“Masih pusing?”, tanya Bian lagi.
Pinkan hanya mengangguk ringan.
Bian bangkit dari tempat duduknya, “Gue mintain obat sakit kepala dulu ya”, ucap Bian yang kemudian cepat-cepat pergi.
Masih dengan memegangi kepalanya yang terasa pening itu, Pinkan teringat saat-saat upacara bendera tadi. Dia ada di tengah barisan, nggak terlalu kedepan dan juga nggak terlalu dibelakang. Saat pengibaran bendera telah selesai, kepalanya makin terasa pening, banyak kunang-kunang yang berterbanyan hanya dalam penglihatannya dan tiba-tiba dia langsung ambruk di lapangan tapi untuk Bian yang berdiri dibelakangnya sempat menangkap tubuh Pinkan jadi nggak langsung ambruk ke lantai lapangan yang keras.
Dengan perasaan yang campur aduk, Bian yang paling khawatir langsung menggendong sendiri Pinkan ke UKS sekolah tanpa bantuan petugas PMR yang baru mulai menangani Pinkan. Wajah Bian khawatir sekali, itu tentu saja membuat Vina yang ada dibarisan depan sebal melihat perlakuan Bian pada Pinkan yang terlampau baik itu.
Vina nggak rela. Tapi Bian dengan cepat membawa Pinkan ke UKS tanpa memikirkan apapun. Pokoknya dia harus cepat-cepat menolong Pinkan yang sudah nggak sadarkan diri.
“Nih dimakan dulu obatnya”, ucap Bian tiba-tiba.
Langsung membuyarkan lamunan Pinkan yang sedang mengingat-ngingat apa yang tadi terjadi, tubuhnya sedikit melonjak karena terkejut. Dilihatnya stip obar sakit kepala berbentuk tablet yang kelihatannya pahit rasanya, tapi ya jelas pahit namanya saja obat.
Bian memberikan obat itu pada Pinkan, “Ayo dimakan dulu obatnya”, perintah Bian.
Pinkan melihat strip obat yang ada ditangannya, “Cuma ada obat kayak gini?”, ucap Pinkan.
Strip obat itu kembali diraih Bian lalu dibukanya satu dan memberikan satu tablet itu pada Pinkan yang terlihat nggak mau minum obat itu. Kelihatannya Pinkan itu ragu untuk makan obat itu. Bian mendesaknya agar cepat meminum obat sakit kepala yang tadi dia minta pada petugas PMR.
“Ayo cepet makan”, paksa Bian kali ini.
“Tapi gue nggak bisa makan obat kayak gini”, keluh Pinkan sedikit malu.
Bian sedikit tercengang, “Lo nggak bisa minum tablet?”, tanya Bian memastikan maksud dari kalimat Pinkan tadi.
Pinkan mengangguk lemah karena merasa malu. Tentu saja itu membuat Bian tertawa geli. Pengakuan Pinkan yang nggak bisa mengkonsumsi tablet membuat Bian tertawa geli, sungguh lucu mendengar pengakuan itu.
Pinkan cemberut sejadinya sambil melemparkan obat itu kelantai, “Gue nggak mau makan obat!”, ucapnya kesal sambil melipat kedua tangannya.
Melihat Pinkan yang cemberut karena kesal Bian berubah menjadi manis lagi.
“Gue ambil sendok dulu ya. Jangan manyun gitu dong, ntar tambah jelek lho”, timpal Bian sedikit bercanda lalu pergi.
Nggak lama kemudian Bian kembali lagi dengan dua sendok ditangannya. Dengan cekatan seperti perawat Bian membuka strip obat sakit kepala itu lalu diletakkan disalah satu sendok, kemudian dengan sendok yang satunya Bian mencoba menggerus, menghancurkan obat yang lumayan keras itu. Dan Pinkan hanya bisa memperhatikan apa yang Bian lakukan
Dan nggak butuh waktu yang lama obat sakit kepala itu sudah hancur halus di sendok. Dengan sendok yang tadi digunakan untuk menggerus, Bian mengambil sesendok air teh manis untuk melarutkan obat dan mengaduk-aduknya pelan agar semuanya mencari merata.
“Sekarang sudah bisa makan obatkan?”, tanya Bian memastikan.
Pinkan tentu saja mengangguk mantap sambil sedikit tersenyum, kemudian membuka mulutnya. Bian menyuapkan obat itu dan setelah tertelan Bian memberi Pinkan gelas teh manis hangat yang tadi ada dimeja yang digunakan untuk melarutkan obat.
“Makasih”, ucap manis Pinkan.
Bian tersenyum dan mengangguk. Keduanya saling bertemu pandang cukup lama tapi sedetik kemudian terdengar bunyi bel istirahat yang membuat mereka terkejut. Saling melihat ekspresi lawan membuat keduanya tertawa geli.
“Kekantin yuk”, ajak Bian ramah.
Pinkan mengangguk lalu bangkit dari tempat tidurnya. Tentu saja Bian membantu Pinkan untuk berdiri. Keduanya berjalan ke pintu yang berada nggak cukup jauh dari situ. Saat mereka akan membuka pintu itu, eh malah ada yang memutar tuas pintu itu dulu. Vina dan Joni ternyata. Keduanya memberikan senyuman pada Pinkan dan Bian.
Lalu mereka berempat pergi ke kantin bersama-sama. Saatnya untuk makan siang. Mereka berempat berjalan bersama-sama. Dengan sigap Vina berjalan menempel pada Bian, Pinkan merasa nggak nyaman diposisi seperti itu jadi Pinkan lebih memilih menggandeng Joni agar bisa membantunya berjalan menuju kantin. Bian merasa aneh, hatinya sakit saat Pinkan melepaskan tangannya.
---
Malam ini Pinkan diundang makan malam dirumah Bian oleh Bunda dan juga Ayah. Kedua orang tua Bian khawatir dengan Pinkan yang sendirian di rumah, apalagi setelah Bian cerita tentang Pinkan yang tadi siang pingsan disekolahan makin membuat Bunda khawatir sangat-sangat.
“Bunda sama Ayah sudah nungguin lo tuh”, Bian nyamperin Pinkan di rumah Pinkan.
Pinkan mengikuti tarikan Bian berjalan kerumah Bian yang tepat berada diseberang rumah Pinkan. Mereka masuk bersama-sama kerumah Bian dengan pintu yang tadi masih terbuka lebar. Mereka berdua berjalan langsung menuju tempat makan disana sudah menunggu Bunda dan Ayah.
Dan makan malam kali inipun dimulai. Wajah Pinkan berbinar karena merasa senang bisa menikmati kehangatan sebuah keluarga seperti ini walaupun ini bukan keluarganya yang sebenarnya. Sejenak dia bisa melupaka beban hidupnya yang terbilang cukup berat, karena dia harus menghadapi kedua orang tuanya yang lebih sering bertengkar dari pada bersikap baik satu sama lain.
Bian juga senang melihat Pinkan makan malam bersama dengan keluarganya, Bian merasa nyaman dan tenang ketika Pinkan ada didekatnya. Pinkan dan Bian nggak sengaja bertemu pandang, jantung keduanya berdegup dua kali lebih cepat lalu keduanya berusaha memperlihatkan seulas senyum lalu kembali menikmati makanan.
Akhirnya selesai dengan makan malam mereka juga. Dilanjutkan dengan nonton tivi bersama, acara komedi malam jam 8 yang setia tayang di Trans 7 apalagi kalau bukan OVJ. (aku suka nonton ini-red). Ayah, Bunda dan Pinkan duduk sejajar disofa panjang didepan televisi, sedangkan Bian duduk sendirian di karpet sambil rambutnya di elus-elus Bunda.
Malam ini Sule lagi lucu-lucunya, membuat mereka semua tertawa lepas, termasuk Pinkan yang belum pernah seperti ini. Pinkan sudah seperti anak sendiri, dia diperlakukan istimewa disitu bak anak kandungnya Bunda dan Ayah.
Tiba-tiba ada yang memencet bel rumah, Bian bergegas membukakan pintu.
“Biar Bian aja”, ucap Bian yang kemudian berjalan pergi.
Bian membuka pintu rumahnya dan nampaklah Vina yang datang membawa sekotak besar pizza, “Temenin gue makan”, ucap manja Vina.
Kali ini Vina makin berani untuk terang-terangan menunjukkan bahwa dia sangat menyukai Bian. Bian bingung untuk menghadapi cewek yang satu itu, Bian menyuruh Vina masuk dan duduk di ruang tamu. Dari dalam terdengar suara tertawa Bunda, Ayah dan tentu saja Pinkan.
“Didalem kok rame banget? Ada apa ya?”, tanya Vina penasaran.
Bian mengibaskan tangannya, “Nggak ada apa-apa, mereka cuma lagi nonton OVJ”, jawab Bian jujur.
“Owh”, desah Vina, “Yuk kita makan”, ajak Vina sambil membuka kotak pizza itu dan juga membuka hidangan dan minuman.
Lalu Bian menggelengkan kepalanya sambil mengelus-elus perutnya yang kenyang, “Gue baru aja selesai makan”, ucap Bian menolak.
Tapi Vina terus memaksa dan akhirnya dia ikut makan juga. Bunda, Ayah, dan Pinkan asyik dengan kegiatan mereka yaitu menonton televisi.
Satu jam kemudian.
“Hoooaaam”, Pinkan mulai menguap, lalu dia bangkit dari tempat duduknya, “Pinkan pamit pulang, sudah ngantuk banget”, pamit Pinkan.
Tapi buru-buru Bunda menghalanginya, “Kamu tidur disini aja, Bunda khawatir ninggalin kamu sendirian disana. Kamu tidur disini aja ya, kamu bisa tidur di kamarnya Bian lagi”, pinta Bunda walaupun kedengarannya sedikit memaksa.
Dengan terpaksa karena nggak enak dengan Bunda, Pinkan akhirnya setuju untuk tinggal malam ini dirumah Bian. Bunda mengantarkan Pinkan menuju kamar Bian, meninggalkan Ayah nonton tivi sendirian.
Setelah mengantarkan Pinkan tidur, Bunda turun untuk menemui Bian.
“Eh ada Vina. Kok kamu nggak bilang-bilang sih”, ucap Bunda ramah.
Keduanya bercipika-cipiki.
“Selamat malam tante”, sapa Vina manis.
Setelah mengobrol sedikit Bunda akhirnya mengungkapkan keperluannya yang sebenarnya, “Oh ya, Pinkan malam ini tidur di kamar kamu. Tolong kamu kunciin dulu rumah Pinkan, ini kuncinya”, ucap Bunda sambil menyerahkan kunci rumah Pinkan pada Bian.
Mendengar perkataan Bunda itu membuat emosi Vina jadi naik, dia makin benci sama Pinkan.
To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...