•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Sabtu, 01 Oktober 2011

Coffee Milk [Part 3]


Akhirnya kuliah selesai juga, Vanes dan Anis yang marah akibat sahabat mereka yang dikhianati oleh Bimo mencoba membalasnya, mereka harus menemukan Bimo secepatnya.
“Kita harus bener-bener kasih pelajaran buat Bimo, tega-teganya dia selingkuh”, ucap Vanes geram.
Kali ini Anis juga terlihat marah, “Ya. Bimo harus nyesel ngelakuin itu semua”, ucap Anis.
Bimo dan kawan-kawan lagi ada di kantin, Vanes dan Anis sampai juga disana. langsung saja Vanes menghadiahkan sebuah pukulan mantap dipipi kanan Bimo, “Itu spesial dari Tasya buat loe!”, ucap Vanes masih dengan mencengkram kerah baju Bimo.
Teman-teman Bimo yang lain mencoba menghalangi termasuk Evan disana tapi Bimo menghalangi mereka dan membiarkan Vanes memukulnya sekali lagi.
Sekarang perut Bimo yang kena pukul, “Ini dari gue yang nggak terima sahabat gue disakitin sama loe!”
Bimo benar-benar diam, dia menerima dengan ikhlas semua perlakuan Vanes karena dia benar-benar merasa bersalah atas Tasya yang hari ini nggak masuk kuliah.
Ancang-ancang untuk pukulan yang ketiga tapi seketika itu juga langsung di hentikan oleh Evan, “Sebenernya loe itu mahasiswi apa tukang pukul?”, teriak Evan keras pada Vanes.
“Itu bukan urusan loe!”, Vanes mencoba melawan tapi genggaman tangan Evan terlalu erat untuk delepaskan.
Bimo mencoba menengahi, “Biarin aja bro, gue nggak apa-apa kok!”
Tapi itu nggak membuat Evan melepaskan tangan Vanes, “Loe nggak terima sahabat loe disakitin, begitu juga gue! Apa lagi sama cewek urakan yang nggak tahu sopan santun kayak loe ini. Cewek tapi mainnya tangan, apa loe nggak pernah di didik sama orang tua loe? Hah! Ibu loe pasti nggak becus ngedidik loe!”, terika Evan keras dan lantang tepat didepan wajah Vanes.
“Sudah. Evan sudah!”, Bimo kembali menengahi.
Tangan Vanes terasa melemas lalu Evan melepaskan tangan Vanes yang benar-benar lemas.
“Sampai loe nyakitin Tasya lagi, gue nggak bakal maafin loe!”, teriak Vanes keras.
Vanes dan Anis lalu pergi meninggalkan mereka semua dikantin, meninggalkan penonton yang syok dengan peristiwa perkelahian itu.
Seketika itu juga Bimo memukul perut Evan.
“Kenapa loe mukul gue?”, tanya Evan nggak terima.
“Kata-kata loe tadi dibandingin sama pukulan yang gue terima itu nggak sama, lebih sakit Vanes dibanding gue!”, ucap Bimo pada Evan. “Apa maksud loe ibunya Vanes yang becus ngedidik dia? Dia itu nggak punya ibu!”, ucap Bimo makin keras, sampai-sampai seisi kantin mendengar itu semua.
Evan dan teman-temannya terdiam, “Ibunya meninggal saat melahirkan dia, dan dia tumbuh sampai sebesar itu tanpa ngerasain yang namanya ibu!”, teriak Bimo lagi, lalu dia pergi meninggalkan kantin.
_+++_
Papah dan Vanes sampai di tempat pesta, malam ini Vanes benar-benar terlihat anggun dengan balutan gaun malam yang kemarin dia beli. Baru saja memasuki ruangan pesta langsung ada yang mengajak Vanes, “Maaf om, apa boleh saya pinjam Vanes sebentar”, ucap Kevin.
“Loe kira gue barang apa pakai pinjem-pinjem segala”, timpal Vanes yang nggak suka dengan kalimat yang Kevin lontarkan.
Papah hanya bisa tertawa, “Ya silakan, jagain putri om ini ya”, ucap Papah membiarkan.
Kevin mengajak Vanes keatas pentas dan mereka duduk berdampingan didepan sebuah piano. Kevin mengajak Vanes untuk berduet memainkan piano, karena memang keduanya jago main piano. Vanes mau dengan apa yang Kevin tawarkan langsung saja Vanes memainkan chord ‘Love Song’ Sarah Bareilles. Dentingan piano yang mengalun membuat para tamu yang hadir memusatkan perhatian pada keduanya.
Terlihat Hana yang nggak senang, “Kenapa sih harus dia lagi!”, dia bener-bener nggak suka sama yang namanya Vanes.
Para tamu yang hadir memuji keahlian Vanes dan Kevin yang begitu baik dalam memainkan tuts piano.
“Kita kalah start nih!”, ucap lesu salah satu anak yang seumuran dengan Kevin.
Biasalah, anak-anak dari para pemilik saham ikutan hadir ke pesta itu.
“Bagas, sudah lama kita nggak ketemu”, salah satu teman Papah memeluknya.
Papah menanggapi pelukan itu, pelukan dari sahabatnya, “Gimana kabar kamu?”, tanya Papah seraya melepas pelukannya.
“Tentu saja baik, oh ya kenalin ini jagoanku”, teman Papah itu mengenalkan anaknya.
“Evan”, ucap Evan ramah.
Papah juga menyambutnya dengan ramah.
“Dia kuliah di kampus yang sama dengan anak kamu”, ucap Bundanya Evan.
“Siapa Bunda?”, tanya Evan yang emang nggak ngerti siapa.
“Vanes. Masa kamu nggak kenal?”, Bunda malah balik tanya.
Mendengar jawaban Bunda dia teringat dengan Vanes yang ada dikampusnya, si junior yang urakan dan nggak tahu sopan santun menurutnya, cewek bermotor sport yang tadi siang menghajar Bimo sampai babak belur, Vanes yang dianggapnya nggak banget kalau pakai rok apalagi memakai gaun malam diacara seperti ini.
Lalu Papah menunjukkan Evan dimana Vanes anaknya, Papah menunjukkan Vanes yang lagi main piano sama Kevin. Karena kurang jelas melihat dari situ Evan berjalan mendekat kearah piano sambil terus memperhatikan pianisnya.
“Nggak mungkin!”, ucap Evan nggak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Nggak mungkin apanya bro?”, kata seorang cowok yang mengagetkan Evan.
Itu cowok yang tadi yang bilang kalah start sama Kevin. Evan mengenalnya begitu juga sebaliknya, “Itu yang namanya Vanes?”, tanya Evan belum percaya.
Cowok itu mengangguk pasti, “Tentu saja!”
Tersihir, Evan tersihir dengan penampilan Vanes yang benar-benar memukau, berbeda dari biasanya, sangat berbeda dengan Vanes yang sering dia lihat di kampus. Vanes malam ini benar-benar memukau dengan balutan gaun malam hitamnya, dipagu sepatu yang membuatnya menjadi tambah tinggi, dan pulasan lipstik merah yang membuatnya begitu menggoda.
Lagu nya sudah selesai Kevin membantu Vanes turun dari panggung kecil itu.
“Kak Evan”, Hana yang datang langsung merangkul tangan Evan mesra seperti apa yang sudah sering dia lakukan.
Kevin mengajak Vanes untuk bergabung dengan teman-teman mereka yang lain, termasuk Hana dan Evan. Kevin senang karena malam ini Evan datan, karena biasanya Evan ogah datang keacara seperti ini.
“Loe pasti kenalkan sama Evan ini?”, tanya Kevin pada Vanes.
“Nggak!”, jawab Vanes singkat.
Evan nyolot setelah mendengar jawaban dari Vanes, “Gue juga nggak kenal sama loe!”, timpal Evan yang membuat Kevin geli.
“Itu tuh gara-gara loe yang jarang gabung sama kita-kita! Vanes selalu jadi primadona di acara ini”, kata Kevin menjelaskan.
Dan mendapat pendukung dari yang lainnya, karena memang sebagian besar dari anak-anak pemilik saham adalah laki-laki, perempuanynya hanya beberapa saja. Hana terlihat nggak suka dengan apa yang kakaknya itu katakan. Kevin dan Hana merupakan kakak beradik yang nggak begitu akur. Sama saja dengan Evan dan Vanes yang nggak akur juga.
“Preman pakai rok”, ledek Evan.
“Weits jaga omongan loe bro!”, teman cowok Vanes yang lain nggak terima dengan omongan Evan terhadap Vanes.
Kevin mencoba menengahi agar nggak terjadi perkelahian, Evan mengikuti ajakan Hana untuk nggak bergabung dengan mereka semua. Tapi Kevin, Vanes, dan yang lainnya enjoy aja, mereka akrab bersama-sama. Mereka mengajak Vanes untuk minum bersama tapi tentu saja Vanes menolak, dia lebih menyukai susu daripada soft drink. Dia sudah menyiapkan minuman untuk dirinya sendiri, dikeluarkannya dari dalam clunch merahnya sebuah ultra milk putih kemasan kotak.
“Vanes. Vanes. Kapan loe berhenti minum kayak gituan?”, ledek Kevin pada Vanes yang benar-benar terlihat cuek.
“Biarin!”, timpalnya singkat. “Oh ya Vin, loe besok ada waktu nggak?”.
Kevin meletakkan minumannya dimeja, “Emangnya ada apa?”.
“Motor gue setangnya di setting gih, nggak asyik banget. Terus pasangin juga stiker, bosen polos kayak gitu”, ucap Vanes menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Ok deh. Besok gue ambil motor loe dimana? Rumah atau kampus?”.
“Kampus aja gue cuman kuliah sebentar, sekalian gue ikut ke bengkel loe. Tapi loe ke kampus gue dulu biar loe yang boncengin gue”.
“Siap!”, ucap Kevin menyanggupi.
Tiba-tiba Papah, kedua orang tua Evan, dan kedua orang tua Kevin menghampiri Kevin dan Vanes yang lagi asyik ngobrol berdua.
“Nyanyi lagi sana sama Kevin”, pinta Papah.
Tapi Vanes nggak mau, malu katanya karena sudah makin banyak saja tamu yang datang. Tapi kedua orang tua Kevin juga memaksanya, dan kedua orang tua Evan juga memaksanya, akhirnya sesuai tuntutan orang-orang itu Kevin mengajak Vanes naik keatas panggung. Kevin mengantarkan Vanes duduk menghadap piano, lalu Kevin mengambil sebuah gitar, kali ini kolaborasi antara gitar dan piano melantunkan I’m Yours yang dipopulerkan oleh Jason Mraz.
Evan nggak memperhatikan Hana kali ini, dia tersihir lagi dengan penampilan Vanes dan Kevin. Suara Vanes dan Kevin yang merdu dan juga permainan alat musik dari keduanya membuat suasana malam itu menjadi begitu nyaman dan menyenangkan. Malam ini dia mengetahui sisi lain dari Vanes yang belum pernah dia tahu sebelumnya, Vanes ternyata jago piano dan juga pintar menyanyi.
“Bagas, anak kamu berbakat untuk menjadi penyanyi, kenapa nggak kamu orbitin aja?”, ucap Papah Evan.
Papahnya Vanes tertawa geli, “Aku sih terserah sama Vanesnya aja, kalau dia mau kenapa enggak!”.
Para tamu nggak puas, mereka meminta mereka berdua untuk bernyanyi sekali lagi. Dari atas panggung Vanes meledek para penghibur yang sudah diundang, “Nanti honornya dibagi dua ya?”, ledek Vanes pada penyanyi yang sudah diundang.
Semuanya tertawa termasuk Evan yang nggak terasa ikut terhibur dengan lelucon dari Vanes.
Lagi-lagi demi tuntutan penonton, Vanes dan Kevin bernyanyi untuk yang ketiga kalinya. Vanes memainkan tuts pianonya terlebih dahulu, dia memainkan chord Just The Way You Are milik Bruno Mars, lalu dengan cepat Kevin menyesuaikan dengan apa yang Vanes mainkan. Kali ini Kevin membiarkan hanya suara Vanes yang mengalun, Vanes sedikit dibuat geram sama Kevin gara-gara Kevin nggak mau menyanyi dan malah membiarkan dirinya yang menyanyi sendirian.
Suara merdu Vanes menggema, semua bersorak untuk Vanes yang layak untuk dijadikan sebagai penyanyi. Hana yang geram karena nggak diperhatikan oleh Evan memilih untuk pergi ke tempat kedua orang tuanya dan merengek untuk pulang. Tapi kedua orang tuanya malah mengacuhkannya, karena masih tersihir dengan pesona yang Vanes pancarkan. Malam itu begitu indah untuk semuanya kecuali Hana.
***3***



Bersambung ke Coffee Milk [Part 4]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...