•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Rabu, 12 Oktober 2011

Jodohku, Mauku Cuma Kamu [Part 5]


Papah, Mamah, Adit, Oliv, dan Oxel sudah siap di meja makan, hari ini mereka akan sarapan bersama. Terdengar ada yang memencet bell, langsung saja mbok Sumi membukakan pintu, ternyata cewek yang kemarin dijemput oleh Adit di bandara.
“Pagi om, pagi tante, pagi semuanya”, cewek itu bersikap akrab, “Aku masak berlebihan nih, lupa kalau sekarang tinggal sendiri”, cewek itu meletakkan sepiring ayam goreng diatas meja makan, “Tante, Om, aku boleh ikut gabung sarapan disini kan?”, tanya cewek itu yang terlihat makin akrab.
“Ayo sini gabung sarapan disini aja, kamu duduk disebelah Oxel aja”, sahut Mamah mempersilakan cewek itu. “Oh ya, kenalin ini Oliv istrinya Adit”, Mamah memperkenalkan Oliv sama cewek itu, “Oliv, ini Vina teman Adit waktu masih kecil”.
Keduanya saling berjabat tangan dan sarapan bersama-sama.
Disela-sela makannya, “Nanti aku sama Oxel mau ke makam Bunda, mau ikut nggak?”, ajak Oliv pada suaminya itu.
Adit mengalihkan pandangannya seutuhnya untuk Oliv, “Maaf banget, aku sudah janjian sama Vina mau ngerjain skripsi bareng”, Adit menolak ajakan Oliv, “Maaf banget”, Adit merangkul Oliv dengan mesra.
Terlihat Vina nggak senang dengan apa yang Adit lakukan terhadap Oliv.
Oliv memegang paha Adit, “Nggak apa-apa kok, masih ada lain waktu”, istri yang baik, “Ayo makannya dilanjutin”, ajak Oliv pada Adit untuk melanjutkan makannya.
Vina lebih tua setahun setengah ketimbang Adit, dan niat dia pulang ke Indonesia yaitu untuk bekerja disini. Adit meminta bantuan Vina untuk membimbingnya menyusun skripsinya agar cepat selesai dan dapat lulus serta wisuda tahun ini juga. Keduanya juga terlibat cinta monyet layaknya Rama dan Oliv dulu, sepertinya Adit sudah nggak merasakan hal yang sama seperti dulu, entah dengan Vina masih menyukainya ataukah tidak.
Papah dan Mamah sudah pergi duluan ke tujuan mereka masing-masing, Adit mengantarkan Oxel dan Oliv ke mobil, dari dalam rumah sampai ke depan mobil Adit nggak melepaskan genggaman tangannya pada Oliv, “Hati-hati di jalan, jangan ngebut!”, wanti-wanti Adit pada istrinya yang sudah duduk di dalam mobil.
Oliv mengangguk ringan.
Dikecupnya kening Oliv, “Pulangnya jangan kemaleman ya”, pinta Adit lagi.
Lagi-lagi Oliv mengangguk, “Ok!”, jawabnya singkat.
Dari dalam rumah ternyata ada yang mengintai yaitu Vina, sangat terlihat dia nggak senang dengan apa yang Adit lakukan bersama Oxel. Setelah Oliv dan Oxel pergi, Adit langsung masuk kerumah lagi dan dikejutkan dengan rangkulan Vina yang begitu tiba-tiba, “Hayaa!”, Vina yang mengagetkan, “Ayo kelas bimbingan skripsinya dimulai”, ajak Vina akrab.
Senyuman tergambar dari bibir Adit, “Ayo”, sahutnya singkat.
Mereka berdua benar-benar disibukkan dengan pengerjaan skripsi itu, walaupun sudah mendapat bimbingan dosen di kampus, Adit masih membutuhkan referensi dari orang lain agar dapat menyelesaikan itu semua dengan sempurna.
Setelah selesai mengirim doa untuk Bunda mereka, Oliv dan Oxel sedikit bercengkramah dengan Bundanya walaupun hanya lewat nisan yang ada dihadapan mereka. Terlihat Oxel bener-bener rindu dengan Bundanya dan sangat haus dengan kasih sayang seorang ibu, kalau Oliv sih sudah mendapatkan kasih sayang dari Mamah sebagai pengganti Bunda.
“Bunda, gimana keadaan Bunda disana? kalau disini Oxel sama kak Oliv sehat-sehat aja, moga disana Bunda baik-baik aja”, ucap Oxel sambil mengelus-elus nisan Bundanya.
Adit dan Vina ngerjain skripsi di ruang kerja yang ada di rumah itu. Dengan mesra Vina mencoba memeluk Adit dari belakang, Adit langsung melepaskannya, “Loe kenapa? Sekarang gue sudah nikah Vin, nggak pantes kita kayak gini!”, tegur Adit keras.
Dengan cepat Vina kembali seperti semula, “Maaf, gue inget gimana akrabnya kita dulu”, jawabnya ringan, “Ya sudah ayo kita lanjutin lagi ngerjain ini”, ajak Vina mengalihkan pembicaraan.
Tapi Adit malah bangkit dari tempat duduknya, “Gue mau ambil minum, loe mau minum apa?”, tanya Adit masih dengan nada ketus.
“Nggak gitu, biar loe disini aja ngerjain ini dulu. Gue aja yang ngambil minum, loe mau minum apa?”, tanya Vina dengan cepat.
“Orange juice aja”, pinta Adit singkat lalu kembali duduk.
Vina keluar dari ruangan itu lalu beranjak kedapur untuk membuat minuman, dia membuat sendiri minuman untuknya dan Adit karena nggak ada mbok Sumi disitu, mbok Sumi lagi menjemur pakaian di luar. Setelah minuman siap Vina merogoh sakunya, entah apa yang dia cari. Sebuah botol, seperti botol obat diambilnya lalu dikeluarkan satu tablet dari botol itu, lalu di hancurkan dengan sendok kemudian dimasukkan dalam minuman Adit. Obat apa itu?
Setelah semuanya siap, Vina balik ke ruangan kerja yang ada dirumah itu untuk memberikan minuman itu untuk Adit. Mbok Sumi kembali ke dapur, “Obat apa ini? Kok dimasukin ke minuman?”, tanya Mbok Sumi. Tadi mbok Sumi melihat semua yang Vina lakukan didapur.
Karena ingin mengetahui obat apa itu sebenarnya mbok Sumi membawa sisa obat yang masih ada di sendok keluar dan setelah sampai disana dia terlihat mencari-cari sesuatu. Nggak lama kemudian ada kucing yang datang, mbok Sumi membuat kucing itu mau untuk menjilati sendok yang masih ada obatnya itu.
Awalnya kucing itu nggak bereaksi apa-apa tapi setelah kucing itu berjalan beberapa merer, “Ya ampun!”, ucap mbok Sumi kaget karena melihat kucing itu langsung tertidur di tanah, “Obat tidur?”, ucap mbok Sumi sedikit ragu.
Oxel minta pergi ke toko buku, dia penggemar berat novel lokal dan novel-novel itu sulit untuk dia dapatkan di Jepang sana. Sementara Oxel memilih-milih bukunya, Oliv serius dengan bukunya, dia membaca sampel buku di toko buku tersebut dengan serius. Tiba-tiba ada yang duduk disebelahnya dan langsung menyapanya.
“Selly, sama siapa loe kesini?”, tanya Oliv seketika setelah menyadari kalau yang ada disampingnya itu Selly.
Selly nggak menjawab tapi dia menunjukkan seseorang yang datang bersamanya, siapa lagi kalau bukan Rama!
“Sendirian aja atau sama Adit?”, tanya Adit sambil mendekati keduanya.
Oliv menutup bukunya sejenak, “Sama Oxel tuh”, dia menunjukkan keberadaan Oxel.
Melihat ada Oxel disitu Rama langsung menghampirinya.
“Siapa ya”, Oxel nggak mengenal Rama.
Rama memukul kepalanya sendiri, “Mana mungkin dia ingat”, ucapnya menyalahkan diri sendiri, “Oh ya, gue Rama, temen kakak loe”, Rama memperkenalkan dirinya.
Dan Oxel benar-benar nggak ingat jadi ya sudahlah Rama kembali bergabung dengan Oliv dan Selly yang kembali serius dengan buku yang sama yang sesuai dengan jurusan yang diambil mereka. Rama duduk diantara keduanya lalu menopang dagunya sambil melirik kearah Selly dan Oliv yang nggak bergeming sama sekali.
Oxel datang dengan banyak buku di tangannya, “Sudah yuk kak, aku sudah selesai”.
“Apa nggak penuh-penuhin bagasi pesawat tuh?”, ledek Oliv pada adiknya.
Oxel terseringai.
“Ya sana ke kasir duluan”, Oliv menyuruh Oxel ke kasir duluan, “Gue duluan ya”, pamit Oliv pada kedua sahabatnya itu.
Kedua mengangguk dan memberi salam bersamaan, lalu membiarkan Oliv pergi dari hadapan mereka. Oliv mampir dikasir untuk membayar buku-buku yang Oxel beli, “Dasar! Senengnya yang gratisan!”, timpal Oliv.
Semua buku itu Oliv yang membayar, Oxel nggak mau membayar itu semua dengan duitnya sendiri. Selagi punya kakak yang baik kenapa nggak dimanfaatin, lalu keduanya memutuskan untuk pulang karena memang sudah mulai larut malam dan mereka ingin makan malam dirumah bersama-sama dengan keluarga mereka yang sekarang.
Sampai dirumah, Mamah lagi membantu mbok Sumi menyiapkan makanan. Papah lagi nonton berita sore, sedangkan Adit nggak kelihatan batang hidungnya.
Oliv dan Oxel memasuki rumah lalu memberi salam, Papah yang pertama menjawabnya dan menyuruh keduanya untuk mandi, mereka juga menyapa Mamah yang ada didapur.
“Mandi dulu sana”, kata Mamah, “Oh ya, Adit ketiduran di tuh, jangan lupa bangunin dia ya”, perintah Mamah untuk Oliv.
Oxel naik kekamar yang sudah disiapkan untuknya dan langsung pergi mandi, sedangkan Oliv berjalan menuju ruang kerja untuk membangunkan Adit. Setelah memasuki ruangan itu terlihat Adit yang tertidur lelap di sofa yang ada didalam ruangan itu, dengan pelan-pelan Oliv mencoba membangunkan suaminya itu, “Sayang, sudah sore ayo bangun. Mandi terus makan”, ucap Oliv untuk membangunkan Adit.
Tapi Adit nggak bangun juga jadi Oliv menaikan nada suaranya, “Ayo sayang, bangun”, kali ini suara Oliv lebih keras.
Dan setelah beberapa kali mencobanya Adit bangun juga dari tidurnya.
“Akhirnya bangun juga. Capek banget ya? Sampai tidurnya kayak kebo gini”, ledek Oliv sambil merapikan rambut suaminya yang berantakan.
Adit beranjak duduk, dia mengeluk kepalanya pusing sekali.
“Kamu tidur di sofa sih nggak pakai bantal pula, ya pasti kepala kamu sakit”, ucap Oliv sambil merubah posisinya duduk disamping Adit.
Adit tersenyum ringan lalu memeluk istrinya dengan mesra, “Aku sayang sama kamu”, ucapnya manis.
“Me too”, jawab Oliv singkat. “Sudahlah”, Oliv melepaskan pelukan itu, “Ayo mandi, sudah sore”, ajak Oliv pada Adit.
“Mandi bareng ya?”, ledek Adit.
Oliv malah cemberut.
“Bercanda kok sayangku”, Adit mencubit kedua pipi istrinya itu lalu mencium kening Oliv. “Kamu mandi duluan sana, aku mau beresin buku-buku dulu”, ucap Adit sambil melirik kearah meja yang berantakan.
Oliv mengerti dan keluar dari ruangan itu dan kembali kekamarnya, lalu mandi dengan bersih. Sementara itu Oxel sudah selesai dengan mandinya dan kembali turun untuk siap-siap makan malam.
“Oxel, sini”, Papah memanggil Oxel.
Keduanya duduk berdampingan layaknya anak kandung dan ayah kandungnya, mereka menonton berita sore, Oxel juga sering menonton berita seperti sekarang ini bersama dengan Ayahnya sewaktu di Jepang. Oxel terlihat sedikit canggung dengan orang yang baru seperti Papah.
Papah merangkul Oxel, “Kalau disini orang tua Oxel sama Oliv ya Mamah sama Papah, jadi nggak perlu malu-malu. Panggil aja Papah dan anggap aja Papah seperti orang tua Oxel sendiri ya”, pinta Papah.
Oxel mengangguk mengerti dengan apa yang Papah maksud, Mamah datang dengan membawa nampan yang berisi teh hangat untuk Papah dan Oxel, dan sepiring pisang goreng, “Mamah juga Mamahnya Oxel”, ucap Mamah sambil duduk di sebelah Oxel.
Oliv yang baru saja turun dari kamarnya melihat adegan itu membuat hatinya sedih, dia teringat Ayahnya dan Mamahnya, dia merasa kasihan pada Oxel yang nggak pernah merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya dan dia senang sekarang ini Oxel dapat merasakan kasih sayang dari orang tuanya yang sekarang. Nggak terasa Oliv meneteskan air matanya.
“Kenapa nangis?”, tanya Adit sambil memeluk Oliv dari belakang.
Langsung Oliv menghapus air matanya dan melemparkan senyuman, “Aku inget Ayah sama Bunda”, Oliv tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya, “Kasihan Oxel, belum sempat merasakan kasih sayang dari Bunda. Untung sekarang ada Mamah sama Papah”, Oliv menggenggam erat tangan Adit sambil melirik kearah suaminya itu.
Adit mengecup mesra pelipis Oliv kemudian keduanya tersenyum lebar.
***5***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...