•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Senin, 17 Oktober 2011

Jo#8 - Remuk Jantungku


Part8#Remuk Jantungku#

Ferdinand dan Desty lagi di parkiran berduaan, mereka menunggu Jo dan Jovan yang belum juga sampai di kampus. Desty terkejut saat melihat koran gosip pagi ini, ada berita mengenai Ferdinand, Jo, dan Neffira.  Judulnya ‘Gara-gara Cemburu’.
Hari ini Neffira nggak masuk kuliah karena ada pemotretan, akhir-akhir ini dia memang sedang sibuk pemotretan dan juga fashion show di luar kota. Dia sudah jadi model yang profesional, banyak yang memakai jasanya untuk memperagakan baju.
Sudah 15 menit Ferdinand dan Desty menunggu.
Akhirnya setelah penantian selama 20 menit, Jo dan Jovan sampai juga di kampus.
Desty langsung membukakan pintu untuk Jo, “Gimana keadaan loe? Tangan loe gimana? Loe baik-baik aja kan?”, tanya Desty khawatir.

Jo memperlihatkan tangan kirinya yang diperban tebal, “Gue baik-baik aja”, ucap Jo ringan menyepelekan lukanya.
Jovan menghampiri ketiganya, “Cuman 6 jahitan, nggak apa-apa buat dia. Yang berpuluh-puluh jahitan aja bisa dilaluin”, ucap Jovan enteng, yang kemudian dihadiahi tendangan di betis oleh Jo.
Yang di maksud sama Jovan tentang berpuluh-puluh jahitan itu ya luka akibat pisau bedah yang membelah dadanya Jovita saat memasang katup jantung mekanik yang membantu pemompaan darah di tubuh Jo yang lemah itu.
“Mana Neffira?”, tanya Jovan dengan nada keras, “Gue harus kasih pelajaran sama dia”, ucap Jovan makin geram.
“Dia nggak berangkat”, jawab Desty.
“Masih sakit?”, tanya Ferdinand perhatian.
Tentu saja Jo menggelengkan kepalanya, luka kecil bagi Jo, “Sudah nggak sakit”.
“Sini tasnya biar gue bawain sampai kelas”, ajak Ferdinand yang langsung meraih tas yang Jo bawa dan langsung diselempangkan di bahunya.
Ferdinand menggandeng tangan kanan Jo dan berjalan pergi menuju kelas. Desty dan Jovan nggak sadar kalau tinggal mereka berdua disitu, mereka masih geram dengan Neffira yang masih saja mencari gara-gara dengan Jovita.
“Lho, Ferdinand dan Jo kemana?”, tanya Desty keras.
Dari jauh Ferdinand melampaikan tangan, “Gue sama Jo kekelas duluan ya”, teriak Ferdinand tanpa memandang Jovan dan Desty.
“Eh tunggu gue!”, teriak Desty yang kemudian berlari mengejar mereka berdua.
Jovan terlihat sebel, “Kenapa sih nggak bareng sama gue aja kekelasnya”, gerutu Jovan lirih sesaat setelah Desty pergi.
Desty mencoba melepas genggaman tangan Ferdinand pada Jo, “Woi, bukan mughrim!”, tukas Desty.
Tapi Ferdinand nggak melepaskan genggamannya itu, “Nggak usah ngaggu!”, gumam Ferdinand sambil terus memandang keadah depan.
Mereka bertiga berjalan berjajar menuju kelas mereka yang ada di lantai 3.
“Fer, tas gue berat. Bawain sekalian kek”, keluh Desty.
“Maaf, AFC nggak dapet layanan spesial seperti ini. Lagi pula fans gue pun nggak dapet layanan seperti ini, cuman Jo yang bisa dapetin ini semua”, jawab Ferdinand yang malam memperkencang genggaman tangannya.
Membuat jantung Jo berdebar begitu kencangnya. Sepertinya Jo suka sama Ferdinand yang memang banyak yang suka ini, tapi ini buka suka seperti itu, ini suka terhadap lawan jenis. Ada getaran cinta disini. Sungguh membuat iri puluhan pasang mata yang melihat mereka bergandengan tangan.
“Sini biar gue bawain?”, sahut Jo yang kemudian menengadahkan tangan kirinya untuk meraih tasnya Desty.
Desty manyun sejadinya, “Nggak perlu”, ucapnya singkat sambil menepis lengan Jovita.
---
Dikantin sudah cukup ramai, mereka lagi pada membahas tentang berita hangat yang ada dikoran mengenai Ferdinand, Jo, dan Neffira semalam di Jo Jo cafe.
“Jadi Neffira itu suka sama Ferdinand, tapi Ferdinandnya malah jadiannya sama Jovita?”, ucap seseorang setelah membaca artikel di koran.
“Ya gitu kayaknya, makanya hubungan Jo sama Neffira selama ini nggak baik. Semua itu gara-gara Ferdinand”, sahut teman yang ada disampingnya.
Nggak lama kemudian Jo, Desty, dan Ferdinand berjalan bersama-sama menuju tempat duduk yang kosong. Jo dan Desty duduk berhadapan, sedangkan Ferdinand asyik duduk disamping Jo.
“Mau makan apa?”, tanya Ferdinand pada Jo.
“Gue mie ayam sama es teh manis ya Fer”, jawab Desty bodo amat.
“Ok. Kalau Jo mau makan apa?”, tanyanya lagi.
“Bakso sama es teh tawar aja deh”, jawab Jo akhirnya.
Setelah itu Ferdinand bangkit dan pergi untuk memesan makanan.
Sambil memain-mainkan sumpit yang ada di tangannya, “Kayaknya Ferdinand bener-bener suka sama loe Jo”, celetuk Desty ringan.
Jo tersenyum menahan malu, “Masa sih? Apa bukannya gue yang kayaknya suka sama dia yah?”, jawab Jo sedikit gemetaran.
“Jadi loe suka sama dia? Tapi konteksnya bukan fans sama idolanya lho”, lanjut Desty.
Jo mengangguk pasti dengan penuh semangat.
Desty nggak melanjutkan kalimatnya lagi karena Ferdinand sudah datang. Ferdinand membawa sebuah nampan yang berisi dua mangkok bakso, satu mangkok mie ayam, dua gelas es teh manis, dan satu gelas es teh tawar pesanan Jo.
“Layanan istimewa buat AFC”, ucap Ferdinand saat memberikan semangkok mie ayam dan segelas es teh manis pada Desty.
Desty tersenyum puas.
Setelah membagikan makanan, Ferdinand mengambilkan sendok untuk Jo dan membantu Jo menambahkan saos, kecap, dan sambal di mangkok baksonya.
“Jo bisa sendiri kali, nggak usah di bantuin se-alay gitu”, timpal Desty sambil mengaduk-aduk mie ayam faforitnya.
Tapi ucapan Desty itu nggaki dipedulikan oleh Ferdinand.
“Aaa”, Ferdinand menyuapkan bakso untuk Jovita.
Jovita menggelengkan kepalanya nggak mau, “Tangan kiri gue yang sakit, tangan kanan gue sehat wal afiat. Jadi kalau buat makan pasti bisa, nggak perlu disuapin”, ucap Jovita panjang lebar yang kemudian mengambil sendok yang baru yang letaknya nggak jaug dari hadapannya.
Tapi tangan kiri Ferdinand langsung mencengkram tangan kanan Jo, membuat Jo nggak bisa bergerak, “Sudah biar gue suapin aja”, paksa Ferdinand.
Membuat orang-orang disekitar mereka mulai memusatkan perhatian pada yang mereka berdua lakukan. Diam-diam ada yang mengabadikan moment itu, tapi Ferdinand cuek bebek, membiarkan semuanya tahu tentang kemesraannya sama Jo. Tentang perhatiannya sama Jo, dan tentang rasa sayangnya sama Jo.
---
Sore hari dirumah keluarga Jo.
Papah, Mamah, dan Jo lagi nonton tv sama-sama. Menonton serial drama Korea faforit Jovita. Mamah sih suka-suka aja nonton itu, ya sama aja kayak sinetron yang biasa Mamah tonton di tv, tapi Papah yang nggak suka nonton gituan terlihat bosan. Tapi apa daya, dia ingin bersama dengan anak tercintanya itu jadi Papah memaksakan diri untuk bertahan menonton serial drama tersebut.
“Bang Jovan belum pulang juga?”, tanya Mamah pada Jo yang lagi tiduran dipangkuan orang yang melahirkannya.
Jo menggelengkan kepalanya, “Katanya ada kuliah tambahan, jadi dia pulang agak malem”, jawab Jo ringan.
“Paling anak itu pacaran”, tukas Papah yang duduknya nggak jauh dari Mamah dan Jo.
“Bang Jovan belum punya pacar. Dia masih sibuk ngurusin Jo, sampai-sampai nggak sempet nyari pacar”, gumam Jo yang tetap serius menonton serial drama Korea.
Tiba-tiba hp-nya Jo berdering, ada sms masuk.
Kesatria Bergitar, “Ada kuliah tambahan jam 7 malem ini”, ucap Ferdinand memberikan informasi.
Jo terkejut, bergegas dia pamit sama Mamah dan Papahnya. Dia berlari cepat ke kamarnya lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia harus siap-siap, sebentar lagi sudah jam 6. Dari tadi dia males banget buat mandi gara-gara waktunya tersita oleh serial drama faforitnya yang tayang setiap hari di tv.
“Bi, pesenin taksi”, teriak Jo dari dalam kamarnya.
Dia sedang berganti pakaian dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah.
“Berangkat bareng Mamah sama Papah aja Jo”, sahut Papah yang ternyata sudah siap dengan pakaian yang rapi.
Hari ini Mamah sama Papah kebagian jadwal jaga malam.
Setelah siap Jo cepat-cepat turun menghampiri kedua orang tuanya. Mamah sama Papah akan mengantarkan Jo ke kampusnya.
Nggak butuh waktu lama buat sampai dikampus. Jo langsung turun dan bergegas menuju kelas karena sudah hampir jam 7 malam. Papah sama Mamah kembali melanjutkan perjalanan mereka ke rumah sakit untuk bekerja.
Jo berjalan cepat menyusuri lorong kampus yang lumayan sepi itu. Dia haru melewati jalan-jalan yang sepi sendirian malam-malam seperti ini. Kemudian dia melewati lapangan basket indoor dengan cepat, tapi kemudian dia menghentikan langkahnya karena mendengar suara pantulan bola basket di lantai.
Dia melongok ke dalam lapangan itu, ternyata ada Ferdinand yang lagi main basket sendirian. Melihat ada Ferdinand disitu, diam-diam Jo masuk dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Dia melihat Ferdinand yang memakai ‘you can see’ dan trening, seragam basket. Ferdinand dengan lincah memain-mainkan bola itu dan memasukkannya kedalam ring berkali-kali.
Jo makin mendekat sampai akhirnya Ferdinand menyadari Jo ada disitu. Ferdinand melempar bola itu pada Jo dan menyuruh Jo untuk memberikan bola itu padanya lagi. Keduanya saling berhadap-hadapan tepat di tengan lapangan basket itu. Ferdinand meraih bola yang Jo berikan lalu membuangnya kearah belakang Ferdinand.
Tiba-tiba Jo dikejutkan dengan lampu-lampu kecil yang menyala indah di tribun. Benar-benar indah. Jo sangat terpesona dengan semua itu. Cahaya remang-remang yang ditimbulkan oleh lampu-lampu kecil itu membuat suasana menjadi romantis.
Lagi-lagi Ferdinand memberikan kejutan, dia memberikan Jo sebuah buket bunga mawar merah yang lumayan besar. Nggak tahu dari mana asalnya yang jelas sekarang Ferdinand akan berbicara sesuatu yang serius sama Jovita.
“Jujur. Gue suka sama loe, bukan sebagai teman, tapi gue sebagai cowok suka sama cewek. Dan langsung aja, mau nggak loe jadi cewek gue?”, tanya Ferdinand serius.
Suasana ruangan itu hening. Hanya ada mereka berdua disana. Jo masih nggak percaya dengan apa yang dia alami sekarang ini, tapi sesaat kemudian dia memantapkan hatinya untuk berbicara.
“Maaf, gue nggak bisa jadi cewek loe. Gue nggak pantes jadi cewek loe. Gue harap hubungan kita tetap baik, kita tetap mejadi sahabat”, ucap Jo gemetaran.
Jo nggak menyentuh bunga itu sekalipun, dia langsung bergegas keluar dari lapangan itu meninggalkan Ferdinand sendirian.
Ferdinand benar-benar kecewa, dijatuhkannya buket bunga mawar itu ke lantai dan kembali teringat saat-saat dia merancang kejutan ini semua. Gimana susahnya dia meminta ijin buat menyewa lapangan ini, gimana repotnya dia memasang lampu-lampu kecil itu sendiri, dan gimana senengnya dia saat Jo benar-benar ada dihadapannya tadi.
Tapi sekarang Ferdinand mendapat jawaban yang membuat hatinya hancur. Dia nggak mengira akan seperti ini jadinya. Dia terduduk lemah di lantai lapangan basket, dan kemudian lampu-lampu kecil itupun ikut padam bersamaan dengan makin merananya Ferdinand.
***
to be continued.....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...