•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Senin, 17 Oktober 2011

Jo#6 - Ada Rasa


Jovita benar-benar dibuat pusing sama ulah Ferdinand yang masih saja acuh dengan gosip-gosip yang ada di luaran sana. Masih banyak juga wartawan yang terus mengorek informasi kedekatan antara Ferdinand dengan Jo.
Tapi sekarang Jo berusaha untuk tetap enjoy aja, seperti apa yang Ferdinand katakan.
Jo menelan obat wajib yang harus dia konsumsi setiap paginya sebelum berangkat ke kampus. Sementara itu Jovan sudah siap dengan mobilnya dan terus memanggil-manggil Jo agar cepat keluar dari rumah. Hari ini Jovan nggak ada kuliah, tapi dia harus nganterin adiknya itu ke kampus, karena Jovan bener-bener bertekad buat menjaga Jo.
Di kampus, tepatnya di kelasnya Jo.
“Loe nggak merasa terganggu dengan semua gosip-gosip yang sudah beredar?”, tanya Neffira pada Ferdinand dengan nada cukup tinggi.

Ferdinand memamerkan senyumannya, “Gue nggak peduli”, jawabnya ringan sambil meletakkan tasnya diatas meja lalu dia duduk.
Neffira juga duduk disebelah Ferdinand, “Gue nggak mau loe nyesel nantinya. Karir loe bisa hancur karena ini. Fans-fans loe pasti pada marah dan milih ninggalin loe”, guman Neffira mengungkapkan pendapatnya.
Mendengar perkataan Neffira itu, kontan Ferdinand tertawa, “Mereka nggak ngurusin urusan pribadi gue. Mereka suka sama suara gue”, jawab Ferdinand pasti.
Bener-bener bikin dongkol Neffira, jawaban Ferdinand bukan jawaban yang Neffira harapkan. Niat Neffira memang bisa dibilang baik, karena kalau artis kebanyak gosip ya nggak banyak yang ngelirik. Tapi inti lain yang tersembunyi itu karena dia nggak mau Ferdinand dekat dengan Jo.
“Besok gue ada off air di mall. Loe mau ikut?”, tanya Ferdinand.
“Kalau besok gue nggak bisa. Gue ada fashion show di Bali”, jawab Neffira sambil mengibaskan rambutnya.
“Berapa lama?”, lanjut Ferdinand.
“Mungkin sekitar satu minggu”, jawab Neffira ringan sambil memain-mainkan kuku-kuku jarinya yang manis itu.
Desty dan Jo masuk bersama-sama ke kelas. Mereka nggak duduk di sebelah Ferdinand, kali ini mereka berdua memilih duduk di barisan paling depan.
“Kenapa nggak duduk disini aja?”, tanya Ferdinand dengan suara keras.
Desty dan Jo memalingkan wajahnya bersamaan, “Kita bosen duduk deket loe”, jawab mereka berdua bersamaan.
Mendengar jawaban dari keduanya membuat Ferdinand bangkit dari tempat duduknya dan memilih pindah duduk di kursi yang berada tepat di belakang Jo. Jo sama Desty belum mengetahui hal itu, karena keduanya masih sibuk dengan hp masing-masing.
“Gue traktir bakso di kantin mau nggak?”, gumam Ferdinand lirih diantara Jo dan Desty.
Kedunya sedikit terperanjat, karena terkejut melihat sosok Ferdinand yang ada di situ.
“Satu mangkok mah ogah!”, tukas Jo manyun.
“Dua mangkok deh, mau ya?”, lanjut Ferdinand memberikan penawaran.
“Gak tertarik”, tukas Desty.
Beberapa saat ketiganya terdiam, sama sekali nggak bersuara.
“Gue maunya sama abang tukang baksonya sekalian”, celetuk Jo.
Yang langsung membuat Desty serta Ferdinand ngakak minta ampun. Ditambah muka Jo waktu bilang kalimat itu, sok polos banget berasa nggak punya dosa. Tapi itu membuat mereka bertiga tertawa lepas. Sungguh menyenangkan.
---
Siang harinya.
Ferdinand benar-benar mentraktir Jo dan Desty makan bakso di kantin. Setiap harinya hubungan mereka memang makin akrab saja. Nggak lama kemudian Jovan juga ikutan gabung dan mendapat bakso gratis juga, pokoknya bebas makan, biar Ferdinand yang membayar semuanya, tapi cuman buat Jo, Jovan, dan Desty.
“Ntar gue ada latihan basket, jadi kita pulang agak sorean ya Jo”, ucap Jovan disela-sela acara makan siangnya.
“Berarti gue nanti gue ke lapangan dong?”, sahutnya.
Jovan mengangguk semangat, “Nunggu di lapangan aja, daripada loe sendirian di mobil bikin gue khawatir gila”, lanjut Jovan.
“Iya deh, tapi beliin es krim ya?”, lanjut Jo meminta.
Lagi-lagi Jovan mengangguk dengan semangat.
“Loe nggak pulang aja bareng gue Jo?”, ajak Desty yang juga masih menikmati baksonya.
Dengan cepat Jovan angkat bicara, “Jangan! Jo harus tetep sama gue”, ucap tegas Jovan.
“Iya Des. Gue sama bang Jo aja, lagian kalau pulang duluan dirumah sepi. Papah sama Mamah pasti belum pulang”, ucap Jo.
Sementara itu Ferdinand hanya memandangi wajah-wajah mereka satu-persatu saat mereka berbicara, dia juga masih sibuk menikmati baksonya.
Sore harinya.
Jovan lagi asyik latihan basket sama anak-anak UKM basket, mereka lagi mengetes kemampuan anak-anak yang ingin masuk UKM basket. Dari tribun Jo menonton latihan itu sambil sesekali meng-update twitter dan facebooknya. Sesekali dia juga main game di hp-nya untuk mengurangi rasa bosannya.
“Bang Jovan!”, teriak Jo dari atas tribun. Jovanpun menengok kearah Jo, “Es krimnya mana?”, tanya Jo dengan nada suara keras.
“Ntar!”, teriak Jovan menanggapi Jo.
Terang aja dari tadi Jo manyun terus, apa yang dia mau ternyata belum di kabulkan oleh Jovan. Benar-benar dibuat dongkol tuh mood-nya Jo sore itu. Tapi dari kejauhan ada Ferdinand yang berjalan menaiki tribun dengan membawa dua buah cone es krim ditangannya. Lalu Ferdinand duduk manis di samping Jo yang masih belum sadar ada Ferdinand disitu.
“Ini buat loe”, ucap Ferdinand.
Jo menoleh dan terkejut melihat ada es krim didepan matanya, dia terperanjat sampai bergeser posisi duduknya. Ferdinand sering sekali membuatnya terkejut, bener-bener bisa dibilang hobinya Ferdinand, yang sering sekali membuat orang-orang disekitarnya terkejut.
“Mau nggak?”, tanya Ferdinand lagi.
Tentu saja mau, Jo langsung menggapain es krim itu dan membukanya, “Makasih”, ucapnya manis banget.
“Nggak bosen nunggu sendirian disini?”, ucap Ferdinand sambil membuka es krim cone yang dipegangnya.
“Menurut loe?”.
Untung ada Ferdinand. Kali ini Jo sudah nggak merasa dongkol lagi karena permintaannya nggak diturutin sama Jovan, dan Ferdinand datang dengan es krim yang Jo inginkan dari tadi. Mereka berdua makin dekat, cukup sering mereka duduk berdua seperti itu. Dikelas pernah, di perpustakaan juga pernah, di parkiran sambil nunggu Jovan pernah, di kantin sambil nungguin Desty juga pernah, dan sekarang di tribunpun sambil nonton basket pernah juga. [Asyik asyik asyik-red]
“Loe cantik, loe baik, loe manis, loe juga lucu, tapi kenapa loe belum punya cowok? Loe pasti nggak laku ya”, tukas Ferdinand.
Kontan Jo memukul kepala Ferdinand, “Enak aja loe bilang kayak gitu! Gue tuh belum punya cowok karena cara mereka ngungkapin cintanya itu bukan yang gue penginin!”, jawab Jo ketus.
Masih dengan melumat es krim, “Emangnya loe mau ditembak kayak apa? Pakai pistol ato senapan angin?”, ledek Ferdinand lagi.
“Loe makin ngawur aja ya. Gila loe”, ucap Jo.
“Eh ini beneran tahu. Loe maunya gimana, cowok nembak loe dengan cara gimana?”, lanjut Ferdinand mengutarakan maksudnya.
Jo terdiam sambil memandangi lapangan basket indoor tersebut. Dia melihat sekeliling lapangan dan membuatnya tersenyum-senyumsendiri. Melihat Jo yang sedang senyum-senyum sendiri serta melihat kesebuah titik, Ferdinand mengikuti apa yang Jo sekarang lakukan.
“Lapangan basket, dia masukin bola ke ring tanpa ada yang gagal, lampu-lampu cantik bertebaran di tribun, dan tiba-tiba dia memberikan sebuah buket penuh bunga mawar merah yang cantik, lalu bilang semua isi hatinya”, ucap Jo mulai ngelantur.
“Ribet juga ya, huft”, Ferdinand menghela nafasnya panjang.
Mendengar helaan nafas Ferdinand yang begitu panjang dan payah, Jo lantas mengalihkan pandangannya pada Ferdinand yang masih melihat kearah lapangan. Jo memperhatikan wajah Ferdinand sang idolanya yang kali ini sangat dekat dengannya, nggak disangka-sangka jantung Jo berdegup kencang, dia merasakan ada getaran-getaran aneh dalam dirinya saat memperhatikan Ferdinand yang kali ini memang sangat dekat dengan wajahnya.
Tiba-tiba, dengan cepat Ferdinand memalingkan wajahnya hendak melihat Jo. Kontan Jo dan Ferdinand terkejut bersamaan, melonjak, dan posisi duduk mereka menjadi sedikit menjauh. Benar-benar mengagetkan, membuat kikuk, canggung, dan terasa aneh. Keduanya lalu terdiam dengan rasa malu mereka masing-masing, sambil terus menutupi malu dengan terus menikmati es krim yang masih ada ditangan mereka berdua.
“Jo!”, teriak seseorang yang memanggil nama Jo.
Kontan Jo mencari orang yang memanggil namanya, ternyata Jovan yang sudah selesai dengan latihan basketnya.
“Ayo pulang”, ajak Jovan sambil menyelempangkan tasnya.
“Ya bang”, sahut Jo yang kemudian bangkit dari tempat duduknya, “Gue pulang duluan ya”, pamit Jo pada Ferdinand.
Ferdinand bangkit juga, “Gue juga mau pulang”, lanjutnya yang kemudian berjalan duluan didepan Jo.
---
Malem ini Jo dan Jovan makan malem di cafe, soalnya Mamah sama Papah pulang malem jadi mereka memilih untuk makan malam di cafe saja.
Jo duduk masis sendirian, dia lagi menunggu pesanannya. Sedangkan Jovan lagi mengontrol kinerja pegawainya. Malem ini terasa begitu dingin, tapi didalam cafe suasananya hangat dan nyaman, membuat para tamu betah untuk berlama-lama disini. Daripada cuman nunggu Jo nggak lupa main game di hp-nya, seperti biasanya.
Ditempat lain di waktu yang sama.
Ferdinand sama managernya baru keluar dari sebuah radio, Ferdinand tadi ada acara wawancara disana.
“Mau makan dimana Fer?”, tanya sang manager yang namanya om Frans.
Sambil membuka pintu mobilnya, “Didekat sini ada cafe-nya seniorku di kampus, kita kesana aja”, jawab Ferdinand sambil memasuki mobilnya.
Ferdinand bertugas menunjukkan arah pada supirnya. Tujuan mereka untuk makan malam kali ini yaitu Jo Jo cafe, cafenya Jovita dan Jovan yang letaknya memang nggak jauh dari radio tadi. Jadi nggak butuh waktu yang lama, rombongan Ferdinand sampai di pelataran cafe yang cukup luas. Lalu mereka bertiga masuk bersama-sama ke dalam cafe itu yang malam ini terlihat ramai, secana ini kan malam minggu.
“Fer, kita duduk disana aja”, om Frans menunjukkan tempat duduk yang kosong.
“Ya, kita duduk disana aja”, sahut Ferdinand yang kemudian berjalan kearah tempat duduk yang kosong itu.
Para tamu yang sedang makan mulai ribut membicarakan Ferdinand yang baru saja datang. Ferdinand, om Frans, dan pak supir duduk di sebuah sofa berbentuk L yang sangat nyaman itu. Kemudian mereka bertiga memesan makanan yang akan mereka makan nanti.
Benar-benar menjadi riuh tapi cukup terkendali juga dengan rasa malu yang para tamu miliki. Tapi ada sekelompok anak-anak SMA mungkin, mereka berempat lagi makan disana terus ngelihat Ferdinand, dan langsung mereka menghampiri tempat duduk Ferdinand.
“Kak Ferdinand, boleh minta foto bareng nggak?”, tanya seorang cewek.
Ferdinand tersenyum, “Kenapa enggak, mumpung makanannya belum datang. Tapi kalau makanannya sudah dateng kakak langsung makan ya”, ucap Ferdinand ramah disertai senyuman yang sangat amat menawan.
Mereka berempat bersorak kegirangan, bener-bener girang. Mereka bergantian berfoto bersama Ferdinand. Om Frans bersedia buat memotret mereka, nggak lupa mereka berempat juga meminta tanda tangan dari Ferdinand, dengan senang hati Ferdinand memberi mereka apa yang mereka mau.
Di sisi lain masih di cafe itu.
“Ada apa sih? Rame bener anak-anak itu?”, ucap Jo penasaran dengan keriuhan yang dibuat oleh keempat remaja yang masih anak SMA itu.
Jo melongok-longok disela-sela acara makan malamnya. Tapi dia nggak bisa melihat apa-apa karena terhalang oleh anak-anak itu. Tapi sesaat kemudian ada pelayan yang datang membawakan makanan, membuat keempat cewek itu enyah dari hadapan Ferdinand. Kembali Jo melongok karena dia masih penasaran siapa yang tadi dikerumunin sama anak-anak itu.
“Ferdinand?”, ucapnya setelah melihat ada Ferdinand disitu.
Lalu Jo mengambil hp-nya dan mengetikkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan ke Ferdinand. Baru saja Ferdinand akan melahap makanannya tapi diusik oleh suara hp-nya yang berdering, ada sms dari Jo. “Gue ngefans banget sama kakak, boleh minta tanda tangannya ya kak?”, ucap Jo melalui sms.
Tersenyum ringan melihat sms itu, lalu Ferdinand membalasnya, “Nggak boleh, loe bolehnya minta foto gue aja. Oh ya, gue lagi di cafe nih, loe nggak ke cafe ya?”, tanya Ferdinand melalui sms yang kemudian menikmati makanannya.
Ferdinand nggak tahu kalau Jo ada disitu.
“Gue tahu kok loe di cafe”, ucap Jo lagi-lagi melalui SMS.
Setelah membaca balasa pesan singkat dari Jo, Ferdinand menghentikan acara makan malamnya dan melihat kesekeliling cafe untuk mencari sosok Jo yang katanya melihat dia di cafe ini.
Sesaat kemudian mereka berdua salng bertemu pandang dan nggak lupa mereka juga saling bertukar senyum. So sweet banget. Ferdinand kembali mengambil hp-nya dan hendak menelfon seseorang. Hp-nya Jo berdering nyaring, terlihat dilayar Ferdinand yang menelfon.
“Halo”, sapa Jo sambil tersenyum senang.
“Temenin gue makan malem ya?”, ajak Ferdinand.
“Gue sudah makan”, jawab Jo.
“Gue ke situ ya, loe cuman perlu temenin gue kok. Loe nggak perlu makan lagi”, ucap Ferdinand yang kemudian diakhiri dengan sebuah senyuman dan telfon mereka terputus.
Ferdinand bangkit dari tempat duduknya, membawa makanan dan minumannya sendiri menuju tempat duduk Jo yang memang hanya ada dua kursi. Keduanya duduk berhadapan dan terus saling berpandang satu sama lain, yang benar-benar menyita perhatian dari para tamu yang ada disitu. Keempat cewek yang tadi minta tanda tangan dan foto juga kembali riuh karena nggak rela melihat Ferdinand makan malam berduaan dengan Jo. Mereka juga kenal Jo karena pernah digosipkan dengan Ferdinand sang idola mereka.
***
to be continued....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...