•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Senin, 14 November 2011

25 Days Get A Boyfriend [Part 2]


Part 2

Erika, Cella, Renata, dan Hera pergi ke kantin kampus bersama-sama. Sudah lama mereka nggak bertemu dengan Hera yang sekarang ada bersama mereka, menggejutkan mereka di hari bahagia mereka bertiga.
Setelah memesan makanan dan minuman, mereka berempat duduk bersama meluapkan rasa kangen mereka.
“Oh ya, ada yang ingin gue omongin sama kalian”, ucap Hera sedikit membuat penasaran.
“Apa?”, tanya Erika, Cella, dan Renata serempak seperti ada yang memberi aba-aba.
Hera terseringai membuat sahabat-sahabatnya itu penasaran, “Dua puluh lima hari lagi gue nikah sama Hendra”, ucap Hera serius diiringi senyuman manis.

Erika, Cella, dan Renata melongo karena terkejut mendengar berita itu.
Hera berubah cemberut melihat ekspresi sahabat-sahabatnya itu, “Kalian nggak ikut seneng?”, tanya Hera sebel.
Sedetik kemudian, ketiganya memberikan pelukan hangat untuk Hera, “Kita seneng banget!”, ucap Erika, Cella, dan Renata kembali bersamaan.
Mereka berempat bersorak gembira atas berita baik itu. Nggak lama kemudian makanan dan minuman pesanan mereka datang dan acara peluk-pelukannya udahan dulu. Mereka harus menikmati apa yang tadi mereka pesan untuk sedikit merayakan keberhasilan hari ini.
“Kenapa baru kasih kabar sekarang?”, keluh Cella.
Hera kembali tersenyum, “Gue nggak mau bilang-bilang dulu sebelum semuanya benar-benar siap. Oh ya jangan lupa, kalian bertiga wajib bawa cowok kalian ke acara kawinannya gue!”, celetku Hera sambil menunjuk-nunjuk kearah Erika, Cella, dan Renata.
Cella mengangguk bersedia, Renata agak ragu, dan Erika nggak tahu harus berekspresi seperti apa.
“Gue nggak janji Daniel bakalan bisa dateng”, uca Renata yang ragu pacarnya akan datang, secara Daniel itu kuliahnya di luar negri jadi nggak bisa segampang itu buat pulang.
Pandangan tertuju pada Erika.
“Lo bisa kan?”, tanya Hera pada Erika yang terlihat kebingungan.
Hanya Cella yang sudah tahu kalau Erika putus dari Reza, sedangkan Renata dan Hera belum tahu mengenai itu karena Erika nggak mau menceritakan kesakitannya atas perlakuan Reza terhadapnya, Reza mencampakannya.
Cella terlihat bingung melihat wajah Erika yang terdiam.
Tapi sedetik kemudian Erika tersenyum lebar, “Tenang aja. Gue pasti dateng sama cowok gue”, lanjut Erika bersemangat walau terlihat juga ada raut ragu terlukis diwajahnya.
Semuanya terlihat senang.
---
Karena supirnya lama banget nggak menjemputnya di kampus, jadi dia memutuskan untuk pulang sendirian naik bus transjakarta. Dia nggak bisa naik taksi karena entah karena apa dia pasti akan muntah kalau naik taksi. sesuatu yang aneh tapi ini memang terjadi pada Erika.
Didalam bus dia duduk dipojok belakang sendirian. Keadaan di bus itu nggak terlalu ramai karena bukan jam anak sekolah berangkat ataupun karyawan kantor pada pulang. Dia kembali teringat peristiwa saat dia dicampakan oleh Reza. Erika menangis karena teringat peristiwa itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri dihadapannya, tapi Erika nggak memperdulikan orang itu. Dia masih sibuk dengan tangisnya. Sebuah tangan yang memegang saputangan terlihat didepan wajahnya.
“Hapus air mata loe”, ucap orang itu ringan.
“Makasih”,ucap Erika singkat tanpa melihat kearah orang yang memberinya saputangan tadi.
Dengan cepat Erika meraih saputangan itu lalu diusapkannya di wajah untuk menghapus air mata dan ingusnya. Nggak lama kemudian bus itu berhenti dan orang yang memberikan saputangannya untuk Erika turun di halte itu.
Setelah selesai dengan membersihkan wajahnya, Erika mulai mengangkat kepalanya dan mencari sosok yang memberinya sebuah sapu tangan tadi. Tapi seketika itu juga dia terkejut karena nggak ada penumpang lain selain dirinya. Hanya ada dia dan petugas bus.
Sontak dia terkejut bukan kepalang, dia bangkit melihat ke halte yang sudah cukup jauh itu. Dia melihat seorang cowok yang berpakaian rapi sepertinya orang kantoran, dengan tas gendong yang fashionable. Erika mengira cowok itu yang tadi memberinya saputangan.
Dia melihat kearah saputangan yang sudah basah oleh airmata dan ingusnya itu. Terlihat ada tulisan di saputangan motif kotak-kotak dengan warna gradasi biru.
“M.Z.?”, ucapnya membaca inisial yang ada disaputangan itu.
“Megie Z?”, lanjutnya ringan. “Ah mana mungkin!”, tepisnya dengan cepat lalu kembali duduk.
Malamnya di kamarnya yang masih terang oleh cahaya lampu.
“Pokoknya dalam duapuluh lima hari ini gue harus dapetin pengganti Reza!”, janji Erika sambil menatap wajahnya dicermin yang ada dikamarnya.
Erika tersenyum lebar, dia benar-benar harus berusaha kali ini untuk mendapatkan pasangan untuk datang ke acara pernikahannya Hera sama Hendra. Erika mengoleskan krim malam dipermukaan wajahnya yang halus, lalu setelah selesai dia langsung pergi tidur. Naik ke kasurnya yang empuk dan nyaman.
Tapi sepuluh menit kemudian dia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk wajahnya. Dia terlihat memikirkan sesuatu, dia terlihat nggak tenang malam ini.
“Gimana caranya gue bisa dapetin pacar dalam waktu sesingkat itu?”, teriaknya kesal sambil mengacak-acak selimutnya dan menendangnya jauh. “Gue harus gimana??”, teriaknya lagi. Dia benar-benar kebingungan.
---
Pagi dengan matahari bersinar cerah tapi raut wajah Erika benar-benar muram, nggak ada keceriaan sama sekali. Sudah tiga dua hari ini dia nggak ada kegiatan dan bermalas-malasan dirumah. Nggak seperti mahasiswa-mahasiswa lain yang mulai mencari pekerjaan, dia nggak perlu melakukan itu karena dia sudah mendapatkan posisi di perusahaan keluarganya yang besar.
Erika dan Bhara kakaknya sedang sarapan bersama di meja makan. Kedua orang tua mereka sudah lama bercerai dan tinggal berpisah, jadi mereka memutuskan untuk tinggal berdua di rumah mereka yang dulu saat tinggal bersama kedua orang tuanya. Dan mereka mendapatkan sebuah anak perusahaan yang cukup berkembang dan dipimpin oleh Bhara.
Dan Bahara merupakan pacar dari Marcella Wijaya. Mereka berencana untuk menikah juga tapi bukan tahun ini, melainkan tahun depan. Karena tahun ini Marcella ingin menikmati masa kerjanya dan akan menikah setelah itu.
“Dari pada di rumah nggak jelas ngapa-ngapain, mendingan loe ikut gue ke kantor. Loe bisa sedikit berlajar disana”, ucap Bhara setelah menelan nasi goreng buatan mbok Atun.
Erika sedikit mendesah payah, “Disana ada cowok yang keren nggak bang?”, tanya Erika nggak bersemangat sama sekali.
“Banyak! Makanya ayo ikut aja ke kantor”, lanjut Bhara bersemangat mengajak Erika ke kantor.
Tapi Erika nggak begitu bersemangat, dia sudah selesai dengan sarapannya, “Kkalau gitu, gue mandi dulu ya bang”, ucap Erika yang kemudian berlalu dari hadapan kakaknya.
Bhara yang sedang mengunyah makanan sedikit tersedak, “Jadi loe dari tadi disini itu belum mandi?”, teriak Bhara kesal.
Erika mengangguk masih nggak bersemangat.
Bhara meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang ke meja dengan keras, lalu bangkit dan nggak menyelesaikan makannya. Dia keluar untuk menyiapkan mobil yang akan dikendarainya menuju kantor.
Sudah setengah jam Bhara setia menunggu Erika yang belum juga keluar dari rumah. Didalam mobil Bhara terus menggerutu karena adiknya itu lama banget mandinya. Karena sangkin sbelnya, Bhara memencet-mencet klakson mobilnya untuk memancing Erika keluar.
“Cepetan!”, teriak Bhara dari dalam mobil mewahnya.
Lalu nggak lama kemudian Erika keluar dengan mengenakan dress kantor yang nggak terlalu formal lalu di balut blazer dengan warna yang senada. Dia menenteng sebuah tas tangan yang cukup menampung semua barang-barang bawaannya. High hills yang dipakainya juga terlihat mewah namun gak terlalu wah.
Dia berjalan anggun menuju mobil kakaknya dan dengan cepat duduk di kursi penumpang yang tepat ada disamping tempat duduk kakanya.
Masih dengan menahan amarahnya, “Lo ngapain aja sih? Lama banget! Gue terlambat nih!”, gerutu Bhara pada adiknya itu.
Dengan ekspresi datar Erika memasang sabuk pengaman, “Kalau nggak mau terlambat lebih lama, mending sekarang kita langsung berangkat”, ucap Erika yang sudah duduk manis menghadap ke depan mobil.
Bhara yang geram langsung menancap gasnya keluar dari parkiran rumah, dan memacu mobilnya itu kencang agar cepat sampai di kantor. Karena ada sesuatu yang penting hari ini di kantor, dan sebagai pemimpin dia nggak boleh terlambat mengikuti acara itu.
Bhara benar-benar ngebut.
“Loe gila ya bang! Kalau gini gue bisa mati jantungan!”, teriak Erika marah karena kakaknya itu menyetir dengan cepat.
Sekilas Bhara melihat kearah Erika lalu kembali serius melihat jalanan, “Semua ini gara-gara loe!”, tukasnya singkat.
Akhirnya mereka berdua sampai di kantor dengan selamat. Bhara dan Erika turun dari mobil, Bhara melemparkan kunci mobilnya pada petugas valey. Lalu keduanya masuk bersama-sama menuju ruangan Bhara yang ada di lantai 10 gedung yang tinggi itu.
Erika mulai menebar pesonanya, memancing para pegawai cowok, kali aja ada yang tertarik kepadanya. Tapi nggak ada seorangpun yang tersenyum hangat kepadanya, para karyawan tersenyum hormat padanya dan Bhara. Ini gara-gara sikap Bhara yang terlalu keras pada bawahannya, tapi ini memang ciri kepemimpinan Bhara.
Erika berjalan disisi Bhara, mereka berdua keluar dari lift dan menuju ruang kerja Bhara. Mereka berdua berjalan melewati ruangan karyawan. Banyak diantara karyawan yang mengucapkan salam pada Bhara.
“Pagi”, sahut Bhara pada karyawannya yang mengucapkan salam.
Sampai juga mereka berdua di pintu ruangan Bhara. Tapi dia berhenti sejenak karena sekretarisnya menyapanya.
“Pagi”, sahut Bhara yang kemudian berbalik badan, “Orang kepercayaan Papah yang pindah dari kantor pusat kesini, apa dia sudah datang?”, tanya Bhara memastikan.
Dengan pembawaan yang tenang seperti halnya sekretaris, Alya menjawab pertanyaan bosnya itu, “Tuan Mahardika Zafalani sudah datang dari setengah jam yang lalu. Lima menit yang lalu beliau datang kesini untuk mencari Anda, tapi...”, jawab Alya lengkap.
Bhara menyelas kalimat Alya, lalu dia mengalihkan pandangannya pada Erika, “Lo tunggu di dalem dulu ya”, Bhara menunjuk kearah ruangannya, “Gue mau nyamperin orang baru itu dulu”, lanjut Bhara.
Erika mengangguk mengerti, lalu mereka berdua berpisah. Erika masuk kedalam ruangan kakaknya dan Bhara berjalan menuju ruangan karyawan baru yang Papahnya kirimkan dari kantor pusat, nama karyawan itu Mahardika Zafalani.
To Be Continued.....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...