•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Selasa, 01 November 2011

Found You, Princess Cilla [Part 3]


Found You, Princess Cilla - Part 3

Sisil berjalan menyusuri jalanan yang basah akibat hujan sore tadi. Dia berjalan sambil menarik kopernya di jalanan yang sepi, dia nggak tahu harus kemana.
Dia berjalan dan terus berjalan, dan terlihat sedikit keramaian. Dia masuk kesebuah lapak angkringan yang ada dipinggir jalan. Angkringan itu belum begitu ramai karena mungkin pengaruh dari hujan tadi.
“Mau pesan apa mba?”, tanya seorang ibu pemilih kedai itu.
“Minumannya ada apa aja Bu?”, tanyanya ringan sambil melihat-lihat kearah dagangan yang tersaji didepannya.
“Ada wedang ronde, bajigur, teh manis anget, kopi, mba maunya apa?”, lanjut ibu itu ramah.
“Wedang ronde aja Bu”, ucap Sisil pasti.

Nggak lama kemudian wedang ronde hangat sudah tersaji dihadapannya, dia menikmati semua itu selagi masih panas agar dapat menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.
Ibu pemilik kedai melirik kearah barang bawaan Sisil, “Kok bawa koper mba?”, tanya Ibu itu penasaran.
Sisil sedikit tersenyum, “Saya diusir dari rumah saya sendiri”, jawab Sisil tanpa panjang lebar.
Ibu itu masih penasaran tapi dia menahan untuk bertanya lagi, dia merasa nggak sopan menanyakan itu semua. Sisil membayar apa yang dia pesan tadi dan berpamitan dengan ibu pemilik kedai.
“Mba, tunggu sebentar”, ibu itu mencoba menghentikan Sisil yang sudah akan keluar.
Sisil berbalik arah.
“Kalau mba butuh tempat tinggal, di depan sana ada kompleks kontrakan kecil yang tadi saya lihat masih ada satu yang belum ditempati”.
Sisil tersenyum dan keluar dari tempat itu. Dia berjalan menyusuri jalan yang sudah mulai sepi lagi dan berhenti dia sebuah kompleks kontrakan yang berjejeran satu sama lain. Ada tulisan yang menerangkan masih ada satu kamar yang kosong, dia berjalan memasuki halaman.
Disaat yang sama ardi dan Juna melewati jalan itu tapi keduanya nggak melihat sosok Sisil. Mereka masih asyik melepas rindu karena baru tadi siang Juna sampai di Indonesia. Dan sekarang keduanya menuju kerumah.
“Gimana sama kuliah loe?”, tanya Ardi dengan tetap serius mengendarai mobil.
“Papah sudah ngurus semuanya. Lusa gue sudah bisa masuk kuliah”, jawab Juna enteng.
Ardi melirik kearah kalung yang dipakai Juna, “Loe masih aja pakai kalung itu?”, tanya Ardi.
Juna mengangguk dengan semangat. Lalu dipegangnya bandul kalung yang dia pakai. Sebuah bandul berbentuk lingkarana yang ditengahnya berlubang membentuk binta yang salah satu kaki bintang itu memberi celah di sisi lingkaran itu.
Sisil sudah berada di tempat tinggalnya yang baru. Dia membuka dompetnya yang nggak pernah setipis ini. Dia menghitung jumlah uang yang ada di dalam dompet ungunya itu.
“Seratus empat puluh tiga ribu”, ucapnya lirih.
Kemudian dia mendesar karena dia menyimpulkan hidupnya kedepan pasti akan lebih sulit dari ini. Dia harus bisa mencari uang agar bisa bertahan hidup. Dia harus bekerja dan tentu saja dia juga harus tetap sekolah.
---
Sinar mentari yang cerah menyinari bumi, memberi kehangatan dan menghapus dingin yang menyelimuti. Sisil sudah siap berangkat kesekolah. Dia juga sudah sarapan bubur ayam tadi pagi.
Dia keluar dari tempat tinggalnya yang baru, mengunci pintu dan duduk di kursi dekat pintu untuk memakai sepatu sekolahnya yang nggak berwarna ungu, karena memang hanya sepatu hitam yang boleh dipakai di SMA Nusantara.
“Eh ternyata ada penghuni baru. Mau berangkat kesekolah ?”, tanya seorang cowok yang keluar dari kontrakan disebelah kontrakan Sisil.
Sisil mengangguk sambil memberikan seulas senyuman, dia nggak berkata apa-apa.
“Sekolah di SMA Nusantara ya?”, tanya cowok itu lagi.
“Iya”, jawab Sisil singkat.
Lalu cowok berdiri di samping motor sport-nya, “Mau sekalian berangkat sama gue?”, ajak cowok itu.
Sisil terlihat ragu, wajahnya menyiratkan keraguan. Dan bisa terbaca oleh cowok itu.
“Tenang aja, gue bukan tipe cowok yang kurang ajar. Gue juga punya adik cewek seumuran sama loe, jadi gue nggak bakaln macem-macem sama loe. Loe bisa anggep gue kakak loe”, ucap coeok itu panjang lebar untuk meyakinkan Sisil yang sudah selesai mengikat tali sepatu.
Sisil berdiri dan mengangguk, “Gue mau dianterin loe”, ucapnya sambil berjalan mendekat pada cowok itu.
Cowok itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan, “Gue Zaki”.
Nggak seperti biasanya, Sisil menjabat tangan Zaki dan memperkenalkan dirinya, “Gue Sisil”, ucapnya ringan.
Benar-benar nggak terbiasa. Sisil nggak terbiasa buat naik motor seperti pagi ini.
“Loe kerja atau kuliah?”, tanya Sisil dalam perjalanan menuju sekolahnya.
“Gue kerja, gue juga kuliah. Siang gue kuliah malem gue kerja”, jawab Zaki.
Beberapa detik berlalu hanya diisi suara-suara bising dari kendaraan yang berlalu-lalang disisi kanan dan kiri mereka berdua.
“Loe ada kerjaan nggak buat gue?”. Akhirnya Sisil memberanikan diri untuk bertanya soal itu, karena memang dia benar-benar membutuhkan pekerjaan.
Sampai di depan pintu gerbang SMA Nusantara. Ardi turun dari mobilnya Juna, hari ini dia nggak bawa mobil karena lagi di service rutin.
“Loe nggak perlu jemput gue”, ucap Ardi pada Juna.
Juna mengangguk lalu melihat kearah depannya, dia melihat seseorang yang dia kenal.
“Zaki? Sama siapa tuh?”, tanya Juna lirih.
“Gue masuk duluan ya”, pamit Ardi.
Juna nggak mempedulikan adiknya itu, dia masih memperhatikan cewek yang tadi diboncengin sama Zaki, sepertinya dia mengenal cewek itu tapi dia nggak tahu siapa dia. Dia merasa nggak asing dengan cewek itu.
---
Bel istirahat berbunyi dan ruang kelas XI.4 dengan cepat sepi karena penghuninya keluar untuk pergi kekantin. Tinggal ada Ardi dan Sisil. Sisil masih sibuk dengan beberapa buku pelajaran dan Ardi sibuk memperhatikan Sisil yang terlihat lelah dan penuh kesedihan.
Tiba-tiba kelas itu menjadi sedikit berisik karena kedatangan Emily. Emily datang dengan membawa sebuah kotak makan, dia berencana makan siang bersama dengan Sisil.
“Kak, gue bawain nasi goreng nih. Kakak pasti belum makan kan?”, tanya Emily riang.
Ardi hanya memperhatikan mereka berdua.
“Nggak!”, jawab Sisil ketus.
“Ayolah kaka. Kita makan sama-sama”, ajak Emily lagi.
Tapi Sisil yang marah karena perlakuan tante Santy dan Emily nggak bisa melupakan kejadian malam itu begitu saja, dia bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam kearah Emily. Dengan keras dia memukul meja membuat Emily dan Ardi terkejut, “Gue bilang, gue nggak mau!”, teriak Sisil keras.
Kemudian dia berlalu meninggalkan Emily yang masih berada dikelasnya Sisil.
Ardi berdiri dari duduknya hendak pergi mengejar Sisil tapi dengan cepat langkahnya terhenti karena Emily cepat-cepat memeluknya begitu erat. Emily menangis di pelukan Ardi. Benar-benar nggak merasa nyaman Ardi saat itu tapi dia berusaha menepuk pundak Emily pelan-pelan untuk menenangkannya.
---
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Dengan cepat Sisil merapikan buku-bukunya, lalu dia menghilang dengan cepat dari ruang kelasnya itu. Dia bergegas untuk pulang ke rumahnya yang sekarang. Tempat tinggalnya yang kecil dan pengap.
Sisil berdiam diri di dalam kamarnya, dia hanya mengamati album foto dirinya bersama dengan Ayah dan Mamahnya sewaktu dia masih kecil. Dia rindu kedua orang tuanya. Tadi malam juga dia bermimpi bertemu dengan Ayah dan Mamahnya.
“Bener-bener aneh!”, keluh Ardi yang langsung duduk disofa ruang keluarganya.
Juna dan Papah mereka lagi asyik main PS dan duduk diatas karpet. Jena mendongak ke arah Ardi yang tempat duduknya lebih tinggi daripada dirinya, “Loe kanapa?”, tanyanya singkat lalu kembali serius bermain.
“Cewek itu bener-bener aneh!”, ucap Ardi lagi. “Gue mencoba baik sama dia tapi dia malah marah-marah sama gue, dia bilang gue nggak usah jadi teman dia. Terus sama adiknya sendiri juga dia kasar banget, adiknya bawain bekal untuknya tapi malah dibentak dan ditinggal begitu aja! Uh menyebalkan!”. Ardi mengacak-acak rambutnya.
“Dan loe suka sama cewek itu?”, tanya Papah.
Papah memang seperti itu, bisa berkamuflase. Disaat-saat tertentu dia berubah menjadi ayah di saat yang lain dia juga bisa berubah menjadi teman anak-anaknya. Sekarang Papah sedang menjadi teman mereka, Ardi dan Juna bebas menggunakan elo dan gue.
Ardi terdiam sejenak lalu kembali berkata, “Dia misterius, gue suka sama dia”, ucapnya dengan nada datar.
“Kalau loe suka tembak aja”, saran dari Juna.
Lalu Ardi dengan cepat memukul kelapa kakaknya itu, “Nggak segampang itu bang!”, timpalnya.
---
Zaki dan Sisil duduk bersam didepan kontrakan Sisil. Mereka berdua membicarakan mengenai pekerjaan. Di tempat Zaki bekerja ada lowongan untuk pelayan toko baru. Zaki bekerja di sebuah toko khusus sepatu olah raga, dan Sisil mau bekerja disana.
Mulai besok Sisil sudah bisa mulai bekerja setelah pulang sekolah, sesuatu pekerjaan yang diharapkan Sisil dan sepertinya nggak akan mengganggu kegiatan di sekolahnya.
Tiba-tiba hp Zaki berdering nyaring, “Gue terima telfon dulu ya, sampai jumpa besok”, pamit Zaki ramah.
Sisil mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya.
“Halo Juna, ada apa loe telfon gue?”, sapa Zaki dengan seseorang disana yang bernama Juna.
Sisil mendengarnya dan menghentikan langkahnya yang sudah ada diambang pintu. Dia mengingat sepuluh tahun yang lalu, dia mengingat seseorang yang dekat dengannya, seseorang yang mempunyai nama yang sama dengan nama orang yang menelfon Zaki malam ini.
Dengan cepat Sisil menggenggam erat bandul kalungnya, kalung yang dulu seseorang berikan untuknya, seseorang berharga untuknya, seseorang yang sudah dia tunggu selama sepuluh tahu ini, seseorang yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan setia untuk menunggu kedatangannya.

TO BE CONTINUED....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...