•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Kamis, 03 November 2011

Found You, Princess Cilla [Part 8]


Found You, Princess Cilla Part 8

Siang ini Sisil sudah bisa pulang ke rumah, dia sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Hanya saja Sisil perlu untuk kontrol ke rumah sakit setidaknya sekali seminggu, untuk memantau kondisi tubuhnya, untuk menjaga agar tidak ada infeksi yang diakibatkan tusukan waktu itu.
Hari ini juga Sisil sudah bisa pulang lagi kerumahnya yang dulu dia tempati bersama dengan Ayah dan ibu tirinya. Tante Santy dan Emily sudah nggak tinggal disitu lagi, mereka bebas dengan jaminan dan pergi jauh entah kemana.
Hari ini juga Juna ada kuliah dari pagi sampai sore, jadi dia nggak bisa mengantar Sisil pulang. Juna mempercayakan Sisil pada Papah dan Ardi.
Sisil benar-benar dibuat bingung. Tiga hari ini sikap Juna terhadapnya benar-benar aneh, seakan-akan dia menghindari Sisil, Juna seperti ingin menjauh dari Sisil. Dan Sisil merasakan itu semua, dia benar-benar takut untuk kehilangan Juna lagi.

“Semuanya sudash siap, ayo kita pulang”, ajak Ardi perhatian.
Dia memapah Sisil keluar dari kamar rumah sakit untuk menemui Papah yang sudah siap didepan rumah sakit dengan mobilnya yang akan mengantarkan Sisil pulang.
Ternyata Juna nggak di kampus, dia ada didalam mobilnya di sebuah tempat yang nggak terlalu jauh dari mobil Papah. Juna memperhatikan Sisil yang dipapah Ardi memasuki mobil, dan nggak lama kemudian mobil itu melaju. Juna mengikuti dari belakang.
“Apa nggak sebaiknya kamu tinggal di rumah om dulu. Kamu berani tinggal sendirian?”, tanya om Mugraha yang khawatir.
Sisil tersenyum menandakan dia baik-baik saja, “Nggak apa-apa om, sebelumnya Sisil juga sudah pernah hidup sendiri. Lagian ada mbok Jum sam pak Nardi yang masih kerja di rumah”, jawab Sisil dengan nada yang meyakinkan.
Mbok Jum itu pembantu Sisil yang bekerja dari awal mereka pindah ke rumah itu sama juga dengan pak Nardi yang bekerja sebagai satpam di rumahnya itu.
June terus mengikuti kemana mobil itu pergi. Matanya terlihat sayu seakan ingin menangis, dia merasa bersalah pada Sisil tapi dia benar-benar nggak tahu harus berbuat apa. Dia benar-benar mencintai Sisil tapi dia juga nggak mau menyakiti hati Ardi yang merupakan adik satu-satunya.
---
“Kamu nggak kangen sama aku?”, tanya Sisil manja melalui telfon pada Juna.
“Kenapa kamu tanya seperti itu? Tentu aku kangen sama kamu, tapi aku lagi banyak tugas. Jadi aku nggak bisa kerumah kamu hari ini”, jawab Juna menolak Sisil.
Sisil yang lagi berdiri di balkon rumahnya terlihat cemberut, Juna terus memperhatikannya dari dalam mobilnya yang terparkir di jalan di seberang rumah Sisil. Dia bisa dengan leluasa mengawasi Sisil.
“Sudah ya, aku mau ngerjan tugas lagi”, Juna serta merta langsung menutup telfonnya.
Sisil benar-benar dibuat kecewa. Dia marah kali ini sama  Juna, sangat marah karena dia merasa dipermainkan oleh Juna. Juna yang selalu bilang sayang tapi juga selalu mengacuhkannya dan membiarkannya sendirian padahal Juna pernah berjanji akan selalu menemani Sisil kapanpun Sisil membutuhkannya. Kalau Sisil memanggilnya dia akan datang menemuinya, tapi sekarang Sisil merasa ragu.
“Maafin aku. Aku akan melepaskan kamu”, ucap singkat Juna saat melihat Sisil memasuki rumahnya.
Sesaat kemudian Juna menyalakan mobilnya dan pergi dari situ. Sisil yang diambang pintu nggak jadi masuk dan bergegas melihat keluar lagi karena mendengar suara mobil. Tapi sayang dia nggak melihat mobil diluar rumahnya, lalu dia kembali masuk kedalam rumahnya.
“Loe ada dimana bang? Kenapa loe terus-terusan nggak pulang? Loe kenapa?”, tanya Ardi melalui telfon pada Juna.
Juna sedikit tertawa, “Gue masih banyak tugas, jadi gue harus nginep dirumah temen gue lagi malem ini”, ucap Juna ringan masih menyetir.
“Loe boleh sibuk, tapi apa loe nggak bisa ngasih waktu lima menit aja buat Sisil. Dia bener-bener ingin ketemu sama loe”, lanjut Ardi geram.
Juna terdiam dia nggak bisa berkata apa-apa.
“Kalau loe sudah nggak sayang sama dia bukan gini caranya. Kalau gini loe itu malah buat dia sakit, dan gue nggak mau lihat dia sakit”, ucap Ardi lagi.
Juna masih terdiam, dia nggak tahu harus berkata apa.
“Harusnya loe yang selalu ada disisinya dia, loe masih cowoknya bang. Dia butuh loe”, ucap Ardi lagi.
Karena bingung harus berkata apa, akhirnya Juna mematikan telfon itu. Dia melempar hp-nya ke tempat duduk penumpang yang ada disampingnya. Juna merasa galau, dia nggak tahu harus bersikap seperti apa.
Ardi membanting hp-nya kelantai, dia marah pada kakaknya itu.
“Harusnya loe nggak pernah pulang ke sini dan nggak bikin gue jauh dari Sisil. Gue suka sama dia, kenapa loe malah jadian sama dia!”, teriak keras Ardi dari dalam kamarnya.
Tapi nggak ada yang mendengarnya karena Papah pasti sudah tertidur.
Ardi berusaha mengalah dan mengikhlaskan Sisil bersama dengan Arjuna kakaknya, tapi disisi lain hatinya belum bisa ikhlas melepaskan Sisil. Ardi masih mengharapkan Sisil menjadi miliknya.
Juna juga sedang kalut, dia benar-benar banyak pikiran. Dia mencoba mengalah pada Ardi, Juna ingin melepaskan Sisil dan membiarkan Ardi yang memiliki Sisil. Tapi hatinya mengatakan nggak ingin melepas Sisil. Juna memegang bandul kalungnya kuat-kuat, “Gue sayang sama loe, princess Cilla!”, teriak Juna dari dalam mobil.
Didalam kamarnya yang serba ungu, Sisil menggenggam erat bandul kalungnya. Dia merasakan kehangatan dalam kalung itu, lalu dia mengecup bandul kalung itu, “Jangan pernah pergi lagi, aku mohon”, ucap Sisil berharap, sangat berharap.
---
Ardi menjemput Sisil. Pagi ini mereka berangkat bersama kesekolahan.
Lagi-lagi Sisil bertanya pada Ardi mengenai Arjuna.
Walau sedikit malas menjawab, Ardi berusaha bersikap biasa aja, “Semalam dia nggak pulang lagi dan gue juga belum tahu dimana dia sekarang”, jawan Ardi apa adanya.
Sisil menghela nafasnya payah sedikit terasa nyeri diperutnya akibat luka tusukan itu.
“Luka loe masih sakit?”, tanya Ardi yang menyadari Sisil yang meringis kesakitan.
Tapi Sisil dengan cepat tersenyum, “Gue nggak apa-apa, cuman nyeri sedikit nanti juga baikkan”, ucapnya ringan saja.
Beberapa saat kemudian mereka berdua terdiam. Suasana didalm mobil itu berubah menjadi sunyi.
Sampai akhirnya Ardi mengawali pembicaraan, “Loe bener-bener sayang sama abang gue?”, tanya Ardi.
Sisil nggak langsung menjawab, dia memandang kearah Ardi, “Apa kurang tergambar dari sikap-sikap gue? Loe ngeraguin gue?”, tukas Sisil yang mengira Ardi meragukan perasaannya terhadap Juna.
Ardi tersenyum lalu tertawa, “Jadi loe bener-bener saya sama dia ya”, ucap Ardi.
“Tentu saja!”, lanjut Sisil mempertegas perktaannya tadi.
Sampai juga mereka diparkiran SMA Nusantara yang luas itu. Mereka melepas sabuk pengaman yang mereka kenakan dan mencoba membuka pintu mobil tapi terhenti karena hp-nya Sisil berdering keras.
Sisil mengambil hp-nya yang ada didalam tas lalu melihat layar hp-nya, telfon dari Zaki. Langsung saja dia mengangkatnya.
“Hallo, tumben telfon kak”, sapa Sisil ramah.
“Ada yang penting yang harus gue omongin ke loe”, ucap Zaki serius, “Hari ini Juna akan kembali ke Amerika, dia berangkat pagi-pagi tadi”, ucap Zaki.
Membuat Sisil benar-benar terkejut, dia menganga karena kaget mendengar berita itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa dia nggak ngomong tentang kepergiannya ke sana”, keluh Sisil, nggak terasa air matanya menetes.
Juna baru sampai dibandara, dia membawa koper yang dulu dia bawa saat pulang ke Indonesia. Juna sesekali menoleh kebelakang, sepertinya dia berharap ada yang datang dan menghalangi kepergiannya.
Sisil dan Ardi nggak jadi sekolah, mereka bergegas ke bandara untuk mencegah kepergian Juna.
Sisil teringat kata-kata Zaki tadi, “Dia bingung antara tetap di Indonesia dan mempertahankan loe jadi princess dihatinya dan membuat luka di hati Ardi, atau dia melepaskan loe, membiarkan loe sama Ardi dan menghilang dari hidup loe”, ucapan Zaki benar-benar dia ingat semuanya.
“Bukan maksud dia menghindari loe selama beberapa hari ini. Dia bingung menghadapin ini semua. Loe yang dicintainya dan Ardi yang juga dia cintai, dia nggak mau menyakiti kalian berdua”. Air mata Sisil terus mengalir mengingat apa yang Zaki katakan.
Juna sedang duduk sendirian di ruang tunggu. Dia kembali teringat saat dia pertama kali pergi ke Amerika. Dia teringat saat berpamitan pada princess Cilla-nya, dia ingat pada kalung yang dia pakaikan pada princess Cilla waktu itu. Dia sungguh menyayanginya.
Dia juga mengingat saat awal dia bertemu lagi dengan Sisil yang merupakan jelmaan dari princess Cilla. Dia makin mencintai Sisil, dia benar-benar mencintainya.
Sisil dan Ardi sampai dibandara. Sisil segera turun di pintu terminal keberangkatan, Ardi melanjutkan menyetir untuk memparkirkan mobilnya.
Sisil berlari kesana-kemari untuk menemukan Juna. Dia nggak mau ditinggalkan oleh Juna untuk yang kedua kalinya. Dia berusaha dengan keras untuk mencari Juna, menghentikan kepergian Juna. Walau perutnya lagi-lagi terasa nyeri karena luka tusukan itu.
Juna berjalan menarik kopernya lalu mengangkat kopernya itu ke mesin pengecekan yang ada di bandara.
Dan Sisil masih belum menemukan Juna, dia terus berusaha mencari Juna.
Ardi yang sudah memparkirkan mobilnya mulai memasuki bandara dan ikut mencari Juna.
Akhirnya Sisil melihat sosok Juna, “Arjuna!”, teriak keras Sisil.
Membuat orang-orang disekelilingnya memusatkan perhatian padanya.
“Arjuna!”, teriak Sisil sekali lagi.
Juna mendengarnya lalu mengalihkan pandangannya mencari suara yang memanggilnya tadi.
Perut Sisil benar-benar nyeri, sampai-sampai dia terjatuh karena sudah nggak kuat menahan sakitnya. Sisil terduduk dilantai bandara.
“Cilla”, teriak Juna yang bergegas berlari kearah princess-nya.
Dia khawatir dengan keadaan Sisil atau Cilla itu.
Juna juga jongkok dan memegang pundak Sisil, mencoba melihat keadaan Sisil.
Sisil menangis, dia sudah nggak memegang perutnya lagi, dia melupakan sakitnya demi Juna. Sesaat kemudian Sisil memukul-mukul dada Juna karena dia merasa dipermainkan oleh Juna. Dia terus memukul-mukuli Juna.
“Kamu jahat! Jahat. Jahat. Aku kecewa sama kamu!”, ucap Sisil disela-sela pukulannya terhadap Juna.
Juna membiarkan saja Sisil berlaku seperti itu padanya. Dari jauh Ardi melihat mereka berdua.
“Kenapa kamu pergi lagi? Kenapa kamu mau ninggalin aku? Bukannya kamu sudah janji mau tetap disini sama aku!”, ucap Sisil menumpahkan kekesalannya.
Juna nggak bisa melihat air mata Sisil. Dengan cepat dia memeluk tubuh kecil Sisil. Dia memeluk tubuh Sisil erat-serat, membuat orang-orang melihat kearah mereka. Juna nggak berkata apa-apa, dia membiarkan Sisil menumpahkan segala sakit hatinya.
Beberapa saat kemudian tangisan Sisil sedikit mereda. Ini saatnya untuk Juna berbicara.
“Nggak ada niatan buat aku ninggalin kamu. Aku terlalu bodoh kalau sampai ninggalin cintaku. Aku terlalu cinta sama kamu”, ucap Juna serius.
“Aku sudah dengar semuanya dari kak Zaki. Aku mengerti semuanya, Ardi juga sudah tahu tentang ini”, ucap Sisil.
Membuat pelukan itu terlepas. Juna memegang kedua pundak Sisil, alisnya terangkat, “Maksud kamu?”, tanya Juna lagi.
“Loe nggak perlu pergi bang!”. Ardi sudah ada disamping mereka.
Juna mengajak Sisil berdiri.
“Gue ikhlas. Bener-bener ikhlas melepas dia. Asal loe terus bahagiain Sisil, gue nggak akan ngrebut dia dari tangan loe”, ucap Ardi cukup meyakinkan.
Juna tersenyum pada Ardi lalu tersenyum juga pada Sisil.
“Jangan tinggalin aku”, ucap Sisil penuh harap.
Juna tersenyum lalu mencium kening Sisil, dalam dan begitu lama.

***t.a.m.a.t***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...