•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Jumat, 18 November 2011

25 Days Get A Boyfriend [Part 9]


Part 9

Erika bangun dari tidurnya karena sinar matahari yang sudah tinggi menyilaukan matanya. Dia membuka matanya dan melihat ada tas seseorang di atas kursi didekatnya, itu tasnya Cella. Tadi malam Cella menginap dirumahnya, menemaninya karena Erika sedang nggak enak badan. Erika beranjak bangun dan berjalan membuka pintu menuju balkon.
“Dia nggak pulang?”, gumam Erika saat melihat di halaman rumahnya yang luas ada mobil Dika.
“Dia memang nggak pulang”, ucap Cella tiba-tiba.
Erika melonjak terkejut melihat Cella yang sekarang sudah disampingnya. Cella baru selesai mandi dan sekarang berdiri disamping kanan Erika.

“Dika mau ketemu sama lo”, lanjut Cella sambil menoleh kearah Erika.
Erika juga melakukan hal yang sama, menoleh kearah Cella, “Dan gue nggak mau ketemu sama dia”, tukas Erika ketus kemudian masuk kembali ke kamarnya.
Erika naik ke ranjangnya lagi, dia malas untuk keluar dari kamarnya di hari minggu yang cerah ini. Apalagi harus bertemu dengan Dika yang membuatnya kecewa sangat-sangat. Kembali, Erika menutup seluruh tubuhnya dengan seliimut.
Tapi dengan cepat Cella menarik semua selimut itu, Erika nggak bisa berbuat apa-apa.
“Setidaknya lo harus dengerin penjelasan dari dia. Kalau lo terus gini gimana semuanya akan jelas?”, gerutu Cella dengan nada keras.
Erika terdiam. Lalu sedetik kemudian dia bersuara, “Lo nggak pernah ngerasain gimana sakitnya gue. Kakak gue itu tipe cowok yang bener-bener setia, jadi lo nggak akan pernah merasakan apa yang gue rasain”, ucap Erika lemah, dia menahan tangisnya.
Sekarang Erika nggak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya, “Gue sakit Cell. Hati gue terlalu sakit buat nerima luka yang sama di tempat yang sama juga. gue sakit!”, ucap Erika yang kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Cella berjalan mendekat pada Erika lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat. Erika membalas pelukan sahabatnya itu, walaupun nggak pernah merasakan rasa sakit yang Erika alami, tapi karena sekarang dia berpelukan dengan Erika, sedikit dia bisa merasakan gimana sakit hatinya Erika.
“Gue butuh waktu Cell. Luka ini nggak bisa sembuh gitu aja”, lanjut Erika masih memeluk sahabatnya itu.
Cella hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu mengelus-elus lembut punggung Erika. Dia merasa salah karena memaksa Erika untuk bertemu dengan Dika, sekarang dia tahu kalau saatnya ini belum tepat. Luka Erika masih basah, belum ada tanda-tanda untuk kering sama-sekali.
Ternyata dari luar kamar Erika, Dika nggak sengaja mendengar percakapan antara kedua bersahabat itu. Dika makin merasa kesalahannya itu terlmapau besar pada Erika, dia ragu kalau Erika akan memberi maaf padanya. Tapi sedetik kemudian terbersit ada harapan dipikirannya, dia harus berusaha keras untuk semua ini.
Dika tersenyum seketika itu juga, “Lo harus bisa buat Erika percaya sama lo lagi!”, ucap Dika bersemangat pada dirinya sendiri.
Kemudian Dika melanjutkan langkahnya menuruni tangga untuk sarapan bersama dengan Bhara. Nggak lama kemudian Cella ikut bergabung dengan keduanya dan Erika masih betah didalam kamarnya, tapi kali ini Erika lagi ada di kamar mandi untuk mandi.
“Erika nggak ikut sarapan?”, tanya Bhara pada Cella.
Cella mengangguk sambil mengambil piring, “Dia nggak mau sarapan hari ini”, jawab Cella.
“Pasti gara-gara gue ada disini”, timpal Dika memelas.
“Bukan gara-gara lo”, ucap Cella buru-buru, “Tapi gara-gara kebodohannya yang sudah percaya sama lo”, tukas Cella ringan.
Dika mendesah pasrah.
“Oh ya. Setelah ini gue sama Erika mau ke butiknya Mamah”, ucap Cella yang sudah memanggil Mamahnya Erika dan Bhara dengan sebutan Mamah juga. “Erika juga bilang kalau dia mau nginep ntar malem di rumah Mamah”, lanjut Cella.
Bhara menelan makanannya, “Kalau gitu biar nanti gue yang anter kalian berdua”, tukas Bhara cepat.
Tapi Cella menggelengkan kepalanya mantap, “Nggak perlu. Erika mau naik bus aja”, jawab Cella.
Dika serius dengan makananya, nggak mempedulikan apa yang Cella dan Bhara bicarakan. Tapi dalam keseriusannya itu dia terus memikirkan gimana caranya agar dia bisa mendapatkan maaf dari Erika. Dia tahu kesalahannya itu fatal, apalagi dia pernah berjanji nggak akan menyakiti Erika seperti Reza yang dulu menyakiti Erika. Tapi nyatanya sekarang ini Erika marah atas kesalahan yang telah Dika lakukan.
Erika sudah berpakaian rapi, lalu duduk di depan cermin tempat dimana dia biasa merias wajahnya yang bersih itu. Kedua matanya menatap lekat-lekat  kedua matanya sendiri yang tergambar di cermin. Lalu kembali dia teringat saat dia liburan ke dufan bareng Reza dan dia juga teringat saat malamnya dia di putuskan oleh Reza karena ternyata Reza sudah punya yang lain.
Dan Erika menggeleng-gelengkan kepalanya agar nggak berfikir mengenai itu lagi, kemudian dia memandang kedua matanya yang ada dicermin. Kali ini dia teringat saat Dika ternyata pacarnya Hana. Erika teringat saat mendapati itu diacara pernikahan sahabatnya yaitu Hera. Sungguh menyesakkan hatinya. Menyiksa dan menimbulkan luka yang mendalam.
---
Mamah sedang menyiapakn sarapan untuk anaknya tercinta yaitu Erika yang tadi malam menginap di apartemen-nya. Sedangkan Erikanya sendiri belum bangun karena memang tadi malam keduanya terlibat obrolan curhat-curhatan yang sungguh menyita waktu.
Setelah sarapan siap Mamah pergi kekamarnya untuk membangunkan Erika dan mengajaknya untuk sarapan bersama. Seperti dulu waktu masih anak-anak, Erika memang sulit untuk dibangunkan, dia meniru sifat Papahnya yang memang sedikit malas untuk bangun lebih awal. Erika sangat senang berkutat dengan tempat tidur.
“Ayo bangun sayang”, ucap Mamah sedikit memaksa.
Tiba-tiba hp Erika terlihat menyala, Mamah meraih hp itu yang ternyata di silent dan dilayar hp itu terlihat ada 12 panggilan tidak terjawab semuanya dari Dika, dan 5 pesan masuk empat diantaranya dari Dika dan yang satunya dari Cella.
Mamah yang penasaran mencoba membuka pesan itu diam-diam.
“Maafin gue. Gue sayang sama lo, please kasih kesempatan gue buat ngomong”, isi pesan singkat Dika yang pertama untuk Erika.
Lanjut ke SMS yang kedua masih dari Dika, “Jaga diri baik-baik, jangan lupa makan. Gue nggak mau lo sakit. Kalau lo ada waktu, gue mau kita ketemu”, isi pesan Dika yang kedua.
Beralih ke SMS yang ketiga lagi-lagi dari Dika, “Salam buat Mamah. Bilangin sama Mamah, gue minta maaf karena sudah bikin lo kecewa. Gue nyesel banget, gue bener-bener nggak bisa kalau tanpa lo. Jangan tidur kemaleman ya”.
SMS terakhir dari Dika, pesan yang sampai pagi ini, “Bangun sayang. Lo ada acara di kampus, jangan lupa sarapan dulu. Oh ya, mau naik bus atau gue jemput? Please bales SMS ini atau nggak please jawab telfon gue”, isi pesan dari Dika untuk Erika di pagi ini.
Mamah tersenyum ringan masih melihat layar hp Erika, “Jadi namanya Dika”, ucap Mamah.
Mamah teringat cerita Erika tadi malam, mengenai seorang cowok yang sudah menyakiti perasaannya. Seorang cowok yang nggak mau Erika sebutkan namanya, tapi karena sms itu Mamah langsung tahu siapa sebenarnya yang Erika ceritakan tadi malam kepadanya.
Tiba-tiba Mamah terkejut karena hp yang dipegangnya sudah direbut Erika.
“Ya ampun Erika! Ngagetin Mamah aja”, gerutu Mamah cepat.
Erika memasang muka sebel, “Mamah ngapain pegang-pegang hp Erika?”, tukas Erika ketus.
Tapi Mamah menanggapinya dengan senyuman lalu bangkit berdiri disamping Erika, “Mandi, terus sarapan, abis itu Mamah anterin kamu ke kampus”, ucap Mamah lalu pergi keluar dari kamar.
Erika melihat ke layar hp-nya, dia melihat ada pesan masuk dari Dika tapi nggak dia baca. Langsung aja dicuekin, hp itu juga dilempar ke sisi ranjangnya yang kosong. Erika bangun dan pergi untuk mandi karena hari ini dia harus kekampus untuk mengurusi persiapan wisuda.
Jam 10 kurang lima menit lagi. Erika sudah sampai di kampus, dan Mamah pamit untuk pergi ke butiknya. Erika berjalan sendirian menuju ruang pertemuan yang ada di lantai 3 gedung kampus yang luas itu. Tadi dia sudah menghubungi Cella yang katanya Cella sudah ada di dalam ruangan itu.
“Lo kesini sendirian”, tanya Renata yang ternyata baru datang juga.
Renata dan Erika berjalan bersama-sama menuju ruang. Renata juga khawatir dengan keadaan Erika yang sudah beberapa hari ini nggak dia temui.
“Daniel nggak pulang?”, tanya Erika sambil terus menyusuri jalan.
Renata menggelengkan kepalanya. “Untuk sekarang sih enggak. Tapi nanti kalau gue wisuda dia bakalan dateng”, jawab Renata bersemangat.
Sampai juga disebuah ruangan yang cukup besar, sudah banyak mahasiswa-mahasiswa lain yang memenuhi tempat duduk di ruangan itu. Renata dan Erika mencari-cari seseorang, siapa lagi kalau bukan Cella yang ternyata sedang melambai-lambaikan tangan kearah mereka, memberi kode kepada keduanya.
Erika dan Renata tersenyum lebar dan ikut melambai, lalu keduanya berjalan menuju tempat duduk Cella.
“Kalian lama banget!”, timpal Cella kesal pada kedua sahabatnya itu.
“Maklumlah, macet”, alasan yang terlalu standar yang di lontarkan Erika.
“Iya macet parah banget!”, lanjut Renata mengamini apa yang Erika katakan tadi.
Mereka bertiga duduk berdampingan, Erika ada ditengah-tengah antara Cella dan Renata. Pakaian yang mereka pakai hari ini terbilang sama, karena sama-sama berwarna biru tua. Sungguh kebetulan padahal mereka nggak janjian.
“Oh ya, setelah ini kalian disuruh ke butik Mamah. Buat coba kebaya wisuda”, ucap Erika sambil menoleh kekanan untuk melihat Cella lalu menoleh kekiri untuk melihat Renata.
Cella memandang Erika cepat, “Cuman gue sama Renata? Lo tentunya ikut juga kan?”, tanya Cella balik.
Erika dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Gue ada janji sama Papah. Gue ngajak Papah makan sama-sama”, jawab Erika sambil memberikan senyuman untuk Cella.
“Cuman lo sama Papah lo? Bhara nggak ikutan?”, tanya Renata nggak mau kalah.
Kali ini Erika menggelengkan kepalanya lagi, “Buat apa ngajak bang Bhara, gue sudah bosen makan bareng dia melulu, lagian dia juga lagi banyak kerjaan dan harus ngurusin pacarnya pula”, jawab Erika panjang sambil melirikan matanya kearah Cella.
Renata dan Erika tersenyum seketika saat melihat wajah Cella yang kesal. Tiba-tiba Erika merasakan hp-nya bergetar, ada sms masuk dan itu dari Dika. Cella melihat itu sedangkan Renata lagi ngobrol dengan mahasiswa lain yang duduk disamping tempat duduknya.
“Nggak dibuka?”, tanya Cella karena melihat Erika mengacuhkan sms dari Dika.
Erika benar-benar nggak mempedulikan sms dari Dika lalu memasukkan hp-nya kedalam tas. Erika juga nggak memperdulikan Cella yang terus-terusan membahas mengenai Dika, Dika, dan lagi-lagi Dika.
Papah dan Erika sudah duduk bersama disebuah restoran yang cukup mewah. Keduanya sudah memesan makanan untuk makan malam mereka, Erika terlihat senang bisa makan bareng Papahnya yang sudah beberapa bulan ini nggak dia temui. Karena memang mereka mempunyai kesibukan masing-masing, karena Papah juga baru pulang dari London dalam rangka melakukan perjalanan bisnis.
“Erika kangen banget sama Papah”, gumam Erika senang sekali.
Papah tersenyum lebar, “Papah juga kangen banget sama kamu sayang”, ucap Papah sambil mengacak-acak gemas rambut anaknya itu.
Erika kembali tersenyum karena senang. Nggak lama kemudian makanan dan minuman yang mereka pesan datang, dan sesaat setelah itu ada dua orang yang datang mengejutkan Erika.
“Bang Bhara? Ngapain lo kesini?”, timpal Erika cepat saat melihat ada Bhara didepannya bersama dengan Dika juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...