•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Selasa, 01 November 2011

Found You, Princess Cilla [Part 2]


Seminggu kemudian...
Emily dan Sisil lagi menikmati makan siang mereka di kantin. Mereka hanya duduk berdua saja, tadinya Emily akan bergabung dengan teman-temannya tapi dia merasa nggak enak dengan Sisil yang kelihatannya nggak punya teman di kelas.
Sisil memang seperti itu, dia cenderung pendiam, nggak banyak bicara, susah bergaul, acuh terhadap orang lain, dan tentu saja dia misterius karena membuat banyak orang disekelilingnya penasaran atas dirinya yang begitu penyendiri itu.
Ardi dan teman-temannya duduk nggak jauh dari mereka berdua. Tiba-tiba ada angin yang cukup kencang menerpa Sisil, membuat rambutnya terkibas ke punggungnya. Saat itu Ardi dapat melihat indahnya senyuman Sisil saat menikmati segarnya ngin itu.

“Cantik banget”, ucapnya lirih tapi masih bisa terdengar oleh teman-temannya.
“Siapa? Siapa yang loe bilang cantik?”, tanya Jovan yang duduk disampingnya.
Jovan melihat kearah mata Ardi melihta, “Wah, iya. Anak baru yang duduk bareng Sisil memang cantik. Ardi, mata loe bener-bener awas sama gituan!”, lanjut Jovan.
Tapi kemudian Ardi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah Sisil dan seseorang yang duduk disamping Sisil.
“Gue boleh duduk disini?”, tanya Ardi manis.
Teman-teman Ardi bersorak-sorai dari belakang untuk menyemangati Ardi.
“Boleh! Duduk aja”, sahut cewek yang duduk bersama Sisil.
Ardi langsung duduk, “Makasih”, ucapnya tulus.
Rambut Sisil kembali menutupi sebagian wajahnya tapi Ardi membiarkan begitu saja, dia sudah merasa puas dengan melihat senyuman Sisil yang begitu cantik tadi.
Tiba-tiba cewek yang duduk bersama Sisil mengajak berkenalan, “Gue Emily kelas X.8”, sambil menyodorkan tangannya mengajak Ardi bersalaman.
Tentu saja Ardi meraih tangan Emily, “Gue Ardi, kelas XI.4”, Ardi meraih tangan Emily.
Sesaat setelah itu Sisil yang merasa nggak nyaman bangkit dari tempat duduknya dan berlalu. Ardi mencoba mengejar tapi Emily menghalanginya, dia menyuruh Ardi untuk menemaninya makan siang bersama dan membiarkan Sisil pergi.
Sisil berjalan cepat menuju kelasnya sambil terus memegangi bandul kalungnya dan membelah perlahan kerumunan murid-murid yang lain yang tenagh menikmati waktu istirahat mereka.
---
Pagi ini Ayah akan sampai di Jakarta setelah menyelesaikan perjalanan bisnisnya ke Korea. Tentunya hal itu membuat Sisil dan Emily sangat merasa senang.
Sisil, Emily, dan Mamah Emily sudah sampai di bandara. Mereka bertiga menunggu kepulangan orang yang mereka cintai.
Tapi tiba-tiba terdengar suara hantaman dan ledakan yang sangat keras. Membuat semua orang panis tanpa kecuali, banyak yang mengira bunyi tersebut adalah ledakan bom tapi ternyata bukan. Suara itu berasal dan pesawat yang gagal mendarat, tergelincir dan menghantam jalan lalu meledak.
Ada pengumuman yang mengharuskan mereka semua tenang, tapi Sisil benar-benar merasa nggak tenang. Dia terus-terusan ingat sama Ayah yang hari ini naik pesawat agar bisa sampai di Jakarta. Petugas mengumumkan kalau pesawat yang gagal landing itu adalah pesawat dari Korea tujuan Jakarta.
“Ayaah!”, teriak Sisil histeris.
Lalu dia berlari mencoba masuk ke bandara untuk melihat pesawat yang ditumpangi Ayahnya itu. Dia mencoba melewati kerumunan orang-orang yang juga panik dan khawatir dengan apa yang terjadi.
---
Sore ini suasana berkabung masih sangat terasa, beberapa buket bunga bela sungkawa masih berjejer didepan rumah megah Sisil. Emily dan Mamahnya masih bertemu dengan para pelayat yang datang kerumah mereka.
Setelah pulang dari makam, dia mengurung siri di kamar. Dia nggak mau diganggu, dia ingin sendiri, dia hanya bertemankan kalung yang dipakainya dan beberapa album foto dirinya bersama Ayah dan Mamahnya.
Air mata Sisil belum kering, dia mencoba untuk tetap bertahan hidup tanpa kedua orang tuanya. Dia harus kuat, dia nggak boleh lemah, tapi dia ragu akan hal itu. Dia ragu akan bisa bertahan, tapi hati kecilnya mengatakan Sisil bisa menghadapi dan melewati ini semua.
“Kenapa secepat ini, bahkan Ayah nggak ngasih kesempatan buat Sisil minta maaf sama Ayah”, ucap Sisil tersedu-sedu.
---
Ardi memasang earphone-nya, karena ada telfon masuk sedangkan dia sedang mengemudi.
“Hallo”, sapa Ardi, “Ada apa bang?”, tanya Ardi tanpa basa basi karena dia sudah tahu Juna yang menelfon. “Disitu kan tengah malem, ngapain loe telfon gue?”, lanjut Ardi.
Terdengar suara Juna yang menguap, “Lusa gue pulang. Jemput gue di bandara jam 2 siang”.
“Ya, gue tahu!”, timpal Ardi yang sudah sering diingatkan oleh Juna yang kayaknya benar-benar ingin cepat menginjakkan kakinya di Indonesia. “Loe tuh sudah sering bilang soal itu sama gue, gue pasti nggak lupa jemput loe”, lanjutnya meyakinkan.
Juna tertawa senang, “Ya sudah, gue lanjut tidur, bye”, Juna menutup telfon.
Ardi melepaskan earphone-nya dan kembali serius mengemudikan mobilnya menuju sekolahan.
Sisil berjalan sendirian memasuki sekolahan setelah turun dari taksi, dia nggak berangkat bersama dengan Emily, dia memilih berangkat sendirian.
Dia berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong sekolah menembus riusnya para murid-murid yang lain yang baru sampai ke sekolahan. Dia berjalan dengan pandangan kosong, dia terlihat nggak baik.
“Dia berangkat tapi apa yang terjadi sama dia?”. Gumam Ardi lirih, dia melihat sosok Sisil yang berbeda dari biasanya.
Sisil memang bukan tipe cewek yang mudah bergaul, centil, bersemangat, dan murah senyum, Ardi menyadari itu. Tapi sekarang dia nggak melihat Sisil yang lemah dan rapuh dengan sangat jelas, yang biasanya hanya terlihat dari kedua mata indahnya sekarang bisa terbaca dari seluruh bahasa tubuhnya.
Sisil masuk kekelas dan langsung duduk di tempat duduknya, mengacuhkan teman-teman sekelasnya yang sudah berdatangan. Ardi bergegas duduk di kursi yang biasa Hadi duduki, dia mencoba mengawali percakapan dengan Sisil yang tengah membaca buku.
“Loe sakit?”, tanya Ardi pelan.
Sisil sama sekali nggak memandang Ardi dan memberikan jawaban, Sisil acuh nggak menghiraukan Ardi yang ada didepannya.
“Loe lagi sakit ya? Gue anterin loe ke UKS yuk, wajah loe pucat banget”, lanjut Ardi yang kemudian memegang tangan kanan Sisil yang sedang memedang ujung buku.
Ardi mendapat tatapan tajam dari Sisil, dengan mata besarnya dia melihat kearah Ardi, “Nggak usah sok jadi temen gue! Gue nggak perlu dikasihani sama loe!”, Sisil benar-benar ketus lalu membebaskan tangannya dari cengkraman Ardi.
“Gue nggak sok jadi temen loe, gue selalu nganggep loe temen gue. Dan gue tulus ngelakuin ini semua”, lanjut Ardi dengan nada serius.
Tapi Sisil nggak bergeming, dia masih dengan sikapnya yang ketus, “Loe nggak perlu jadi temen gue!”, ucap Sisil makin ketus.
“Gue cuman mau bisa lebih kenal loe lagi, gue ingin deket sama loe, gue ingin buat loe tersenyum”. Ardi bangkit dari tempat duduk Hadi dan berjalan ke tempat duduknya dan duduk manis disana.
Ardi memandang penuh harap pada Sisil yang masih serius dengan bacaannya, Sisil sama sekali nggak peduli sama Ardi yang masih masih saja memandang kearahnya dengan tatapn hangat.
---
Sisil, Emily dan Mamah Emily sudah duduk rapi di ruang keluarga, mereka kedatangan seseorang. Seseorang pengacara Ayah yang akan membacakan surat wasiat yang pernah Ayah tulis semasa dia masih hidup.
“Langsung saja bacakan sekarang, kami sudah siap”, ucap tante Santy sedikit memaksakan.
“Baiklah...”, pengacara itu mulai membacakan isi dari surat wasiat yang Ayah tulis.
“Untuk Sisil, putri ayah tercinta. Ayah akan menyerahkan semuanya, menyerahkan semua aset perusahaan, saham-saham Ayah, rumah, villa, mobil, dan semuanya kepada kamu, tapi kamu belum bisa mempergunakan semuanya jika kamu belum berumur 20 tahun”, ucap pengacara Ayah.
Mendengar penjelasan itu tante Santy sedikit terperanjat, dia terkejut.
Tapi kemudian pengacara melanjutkan membaca wasiat Ayah, “Sebelum kamu berusia 20 tahun, Ayah hanya memberikan jatah uang seratus juta rupiah setiap bulannya. Dan untuk istriku dan Emily yang aku cintai, masing-masing dari kalian akan mendapatkan sebuah mobil dan akan mendapatkan jatah bulanan sebesar dua puluh juta rupiah”, lanjut pengacara itu.
Benar-benar membuat terkejut. Tante Santy bangkit dari tempat duduknya, dia nggak percaya dengan  apa yang di bacakan pengacara itu, dia meragukan keaslian dari surat wasiat itu. Dia menginginkan semuanya tapi kenapa sebagai istri dia hanya mendapatkan sesuatu yang kecil, mobil dan hanya jatah bulanan.
“Nggak! Nggak mungkin. Surat itu pasti palsu!”, protes keras tante Santy.
Sisil terkejut, Emily juga terkejut dan memusatkan pandangan pada Santy yang benar-benar nggak terima dengan semua ini.
Pengacara sudah  pergi dari tadi. Emily dan Sisil ada dikamar masing-masing.
Tiba-tiba tante Santy membuka kasar pintu Sisil dan menarik rambut Sisil dengan kencang, membuatnya terjatuh ke lantai.
“Loe harus enyah dari rumah ini! Gue nggak mau lihat loe lagi disini!”, teriak tante Santy masih dengan mencengkram erat rambut Sisil.
Suara Santy terdengar sampai kamar Emily. Kontan dia dengan cepat keluar dan pergi kekamar Sisil dengan pintu yang sudah terbuka lebar.
Sisil sedang memasukkan baju-bajunya kedalam koper yang nggak terlalu besar.
“Cepat!”, teriak tante Santy lagi.
Sisil mulai memasukkan buku-buku pelajarannya, nggak lupa album foto Ayah dan Mamahnya, lalu memasukkan kotak perhiasan koleksi Mamah ke dalam koper tapi dengan cepat direbut oleh Santy.
“Tapi itu milik Mamah”, Sisil nggak rela melepas itu.
Tapi dengan kekuasaannya Santy, Sisil dibuat nggak bisa berbuat apa-apa.
Sisil sudah siap dengan kopernya yang sudah terkunci rapat, dia menyelempangkan tas sekolahnya dan memasukkan dompet warna ungunya. Dengan cepat Santy merebut dompet  itu dan membukanya. Dia mengambil dua buah kartu kredit dan tiga kartu ATM yang berjejer rapi di dalam dompet Sisil.
“Loe boleh pergi sekarang!”, Santy melemparkan dompet itu ke tubuh Sisil.
Sisil memungutnya dan beranjak keluar dari rumah yang merupakan haknya.

TO BE CONTINUED....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...