•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Rabu, 02 November 2011

Found You, Princess Cilla [Part 6]


Found You, Princess Cilla - Part 6
Pertandingan basket final antara kelas XI.4 melawan kelas XII.1 di SMA Nusantara.
Banyak suporter yang sudah mulai berdatangan di lapangan indoor yang lumayan besar yang merupakan fasilitas dari SMA faforit ini. Suporter dari masing-masing kelas membawa alat-alat bunyi-bunyian untuk menyemangati teamnya. Benar-benar suasana yang menyenangkan dan penuh dengan persaingan.
Sisil yang masih saja belum mempunyai teman duduk sendirian di tempat yang sama seperti pertandingan sebelumnya. Tapi setidaknya dia sudah nggak sediam dulu sebelum bertemu dengan Juna, dan Juna berjanji akan datang di acara ini.
Dari tadi Sisil terus mengecek hp-nya yang nggak berdering-dering. Dia menunggu sms dari Juna, tapi malah terus-terusan nggak ada.
Pertandingan di mulai.

Semuanya bersorak memberikan semangat. Suasana yang sangat bising.
Sisil lagi serius menonton pertandingan dan melihat Ardi yang ternyata benar-benar mahir bermain basket, permainannya gesit dan bersih tanpa melanggar aturan.
“Hey!”.
Terdengar suara yang mengagetkannya.
“Ah kamu, lama banget sih”, timpal Sisil pada Juna yang sekarang sudah duduk disampingnya.
Juna meringis dan sedikit tertawa lalu mengacak-acak lembut poni Sisil, karena rambut Sisil yang panjang di ikat hari ini.
“Wah, tipis ya”, ucap Juna sambil melihat ke papan skor.
Teamnya Ardi dengan poin 38 dan team lawannya 37 poin. Benar-benar beda yang tipis.
Sampai akhirnya Ardi menerobos benteng lawan dan menembakkan bola dengan cepat. Dia berhasil menambah skor untuk teamnya.
“Three poin!”, ucap pencatat skor.
Kontan semua teman-temannya bersorak, begitu juga dengan Juna dan Sisil.
Kedudukan sementara 69 untuk team XI.4 dan 70 untuk XII.1.
Waktu menunjukkan tinggal satu menit lagi. Ardi yang ada didepan langsung diberi operan bola, dengan cepat dia berbalik badan untuk menerobos lawan. Dengan satu hentakkan dia seakan terbang membuat penonton menahan nafas dan Ardi langsung melepaskan bolanya, ditembakkan kearah ring.
“Yeeeeaaaahhh!!!”, terdengar sorak-sorai penonton.
Waktu pertandingan berakhir dan atas bola itu teamnya Ardi memperoleh kemenangan.
Tapi sedetik kemudian mereka semua terdiam karena Ardi yang terjatuh di lapangan karena tadi berbenturan dengan lawan yang menghalanginya. Ardi memegangi kaki kanannya yang benar-benar terasa sakit sekali.
“Ardi”, teriak Juna dan Sisil bersamaan.
Lalu keduanya turun untuk melihat keadaan Ardi yang benar-benar merasakan sakit.
---
Ardi nggak mau di rawat di rumah sakit. Dia maunya di rumah saja, jadi Papah dan Juna serta Sisil membawa Ardi pulang kerumah.
Ardi sedikit tertekan karena ucapan dokter yang melarangnya untuk bermain basket lagi, karena kalau dia bermain basket lagi lukanya yang walaupun sudah sembuh bisa kambuh dan malah membuat parah luka sebelumnya.
Juna, Sisil, dan Papah lagi duduk bersama di ruang keluarga, mereka membiarkan Ardi untuk istirahat. Kali ini mereka membahas soal warisan dari Ayah untuk Sisil yang di salah gunakan oleh ibu tirinya.
“Kamu tenang saja, om sudah mulai mengurus ini semua. Secepatnya om akan membawa kasus ini ke polisi, dan untuk itu om harap kamu tinggal disini saja”, ucap Papah serius pada Sisil yang duduk di sofa yang sama dengannya.
Sisil terdiam, dia bingung mau menjawab apa.
“Bantu Cilla beresin semua barang-barangnya”, ucap Papah pada Juna.
Juna mengerti apa maksud Papahnya dan langsung menarik tangan Sisil. Sisil yang bingung mengikuti saja kemana Juna menariknya.
Akhirnya mereka berdua pergi ke kontrakan Sisil untuk membereskan semua barang-barang Sisil, karena Sisil akan tinggal di rumah bersamanya.
“Apa nggak apa-apa kalau aku jadi beban kamu?”. Sisil mengahadap Juna yang sedang serius menyetir.
Juna meraih tangan Sisil dan digenggamnya erat, “Bukan beban, kamu anugrah buat aku”, ucapnya singkat untuk meyakinkan Sisil.
“Kamu tidur di kamarku aja, biar nanti aku tidur sama Ardi atau tidur di kamar tamu”, ucap Juna yang sedang menarik Sisil masuk ke kamarnya.
Sisil merasa nggak enak dengan sikap Juna yang terlalu baik padanya, “Aku di kamar tamu aja, aku nggak apa-apa”, timpal Sisil.
Tapi Juna nggak setuju lalu dia mendudukkan Sisil di kasur dan memegang erat kedua pundak pacarnya itu lalu meyakinkannya, kalau ini semua nggak apa-apa baginya. Juna malah akan senang kalau Sisil tidur di kamarnya.
“Oh ya aku sampai lupa belum mengganti bed cover-nya”, ucap Juna yang kemudian duduk disamping Sisil.
Sisil melihat kearah bed cover yang bergambar logo MU, secara Juna itu suka banget sama team bola itu. “Ini masih bagus, nggak di ganti juga nggak apa-apa”, ucap Sisil sambil meraba ke bed cover-nya berwarna merah itu.
“Tapi kamu kan sukanya ungu, nanti biar aku ganti dulu. Kamu temenin Ardi makan sana”. Juna bangkit dan mengangkat Sisil dengan memegang kedua  pundak Sisil lalu mengecup keningnya mesra.
Sisil tersenyum dan keluar dari kamar itu menuju kamar Ardi yang ada disebelah kamar Juna.
Dia melihat Ardi yang masih bermain PSP dan membiarkan saja makanan yang ada dimeja samping tempat tidurnya. Sisil duduk disisi kiri Ardi dan mengangkat piring berisi makanan itu, lalu mencoba menyuapi Ardi.
Ardi menggelengkan kepalanya, “Gue bukan anak kecil yang kalau makan harus disuapin”, timpal Ardi dengan masih memandang PSP-nya.
“Kalau loe bukan anak kecil lagi terus ngapain loe dari tadi main game mulu”, ucap Sisil nggak mau kalah dan langsung merebut PSP yang dimainkan Ardi dan meletakkannya jauh dari jangkauan Ardi.
“Nih makan!”, ucap Sisil yang kemudian menyerahkan piring berisi makanan pada Ardi.
Ardi berubah menyebalkan, dia mencoba untuk bermanja-manja dengan Sisil, “Suapin”, ucapnya seperti anak kecil.
“Tadi bilangnya loe bukan anak kecil lagi buat apa disuapin, sekarang malah loe sendiri yang minta disuapin. Dasar anak kecil!”, timpal Sisil kesal dengan ulah Ardi.
Dari pintu yang sedikit terbuka Juna melihat itu semua, dia cemburu tapi Sisil nggak mungkin mengkhianatinya apa lagi dengan Ardi. Tapi dia merasa Ardi benar-benar menyukai Sisil. Ardi sepertinya memang jatuh cinta pada Sisil dan itu membuat Juna sedikit ragu apakah hubungannya dengan Sisil benar atau salah.
Juna benar-benar mencintai Sisil, dari dulu sampai sekarang perasaan itu tetap sama dan sepertinya Sisil mempunyai rasa yang besar pula terhadapnya. Tapi ada Ardi yang tempo hari curhat pada Juna mengatakan dia menyukai seseorang teman sekelasnya, dan Ardi juga pernah menyatakan cinta pada Sisil, itu membuat Juna merasa nggak nyaman.
Dia merasa apa hubungannya ini salah karena dia bersenang-senang diatas sakit hati Ardi. Sakit hati Ardi yang ditolak oleh Sisil yang merupakan cewek yang dia suka, sakit hati karena kenyataannya Sisil lebih memilih Juna dan menjalin hubungan dengan Juna. Apalagi sekarang mereka ada di rumah yang sama.
Juna menutup kembali pintu kamar Ardi pelan-pelan, membiarkan mereka berdua ada didalam. Sisil yang sedang menyuapi Ardi.
---
Setelah makan malam Sisil langsung pamit ke kamar untuk tidur karena dia harus mengerjakan PR dan besok dia juga harus berangkat kesekolah jadi dia nggak boleh terlambat.
Malam ini Juna tidur bersama Ardi dikamar Ardi. Padahal sih Ardi nggak memperbolehkan Juna tidur di kamarnya dan menyuruh Juna untuk tidur di kamar yang lain saja. Tapi Juna memaksa ingin tidur bersama dengan Ardi karena sudah sangat lama mereka nggak pernah sedekat itu setelah perceraian kedua orang tua mereka.
“Hey! Jangan deket-deket”, gerutu Ardi yang merasa nggak nyaman karena Juna yang dari tadi mengusik daerah nya yang sudah dibatasi oleh guling.
Juna tertawa kegirangan karena membuat Ardi marah, karena wajah marah Ardi itu sangat lucu, benar-benar nggak pantes buat di sebut ekspresi marah.
“Gue kangen sama loe. Sudah lama banget ya kita gak saling usil-usilan kayak gini”, ucap Juna sambil membenarkan posisi tidurnya. Dia terlentang menghadapt ke langit-langit kamar Ardi.
Juna tersenyum mengingat kembali masa-masa kecilnya bersama dengan Ardi adiknya dan tentu saja dengan Sisil juga. “Loe tuh paling sering buat princess Cilla nangis, dan gue yang selalu membuat princess Cilla jadi tersenyum dan tertawa lagi. Loe itu bener-bener nyebeli dulu, nakal banget pula”, lanjut Juna sambil memandang kosong kearah langit-langit.
Ardi terdiam, dia juga mengingat-ingat kembali masa kecilnya bersama Juna dan tentu saja bersama Sisil pula. Dia ingat betul pernah mendorong Sisil ke kolam renang dengan sengaja karena Sisil terus berdua-duaan dengan Juna. Sisil yang nggak bisa berenang kelabakan dan dengan cepat Juna menolongnya.
“Jangan sekali-kali dorong princess Cilla ke kolam renang lagi?”, celetuk Juna sambil mengarahkan pandangannya pada Ardi.
Ardi juga memandang kearah Juna lalu mengangkat alisnya untuk menanyakan apa maksudnya yang sebenarnya.
“Princess Cilla masih belum bisa berenang!”, jawab Juna akhirnya.
Tanpa ekspresi apa-apa Ardi kembali memandang ke langit-langit nggak mempedulikan Juna yang dari tadi membahas tentang Princess Cilla.
Beberapa saat keduanya terdiam.
Terdengar dering hp yang membuat Sisil bangkit dan meraih hp-nya yang ada di meja. Ternyata ada telfon ada telfon dari tante Santy, sang ibu tirinya yang hanya menginginkan harta Ayah dan tega mengusirnya dari rumah.
“Kamu dimana sekarang? Besok pengacara Ayah kamu akan datang untuk menemui kamu, jadi tante harap kamu pulang sekarang”, ucap tante Santy tanpa basa-basi.
“Nggak. Gue nggak mau pulang”, ucap Sisil nggak sopan karena memang dia sudah nggak mau bermanis-manis lagi dihadapan tante Santy.
“Kurang aja ya kamu! Nggak sopan pakai elo, gue segala! Dasar udik, anak nggak tau untung! Awas...”, ucap tante Santy panjang lebar.
Tapi dengan cepat Sisil memutuskan telfon itu. Dia nggak mau berbicara dengan tante Santy. Tapi nggak lama kemudian hp Sisil berdering lagi, dan dia langsung mengangkat telfon itu dengan malas.
“Ada apa lagi?”, ucap Sisil ketus, keras, dan dengan ekspresi yang sebel.
Orang yang menelfonnya terkejut, “Kamu kenapa?”, ucapnya dengan nada habis terkejut.
Sisil nggak mendengar suara tante Santy, dia mendengar suara laki-laki yang sering menelfonnya, dia mendengar suara Juna. Lalu dia melihat layar hp-nya, benar saja ini memang telfon dari Juna.
Karena Sisil dari tadi diam saja, Juna melanjutkan kalimatnya, “Kamu kenapa? Ada yang gangguin kamu tadi?”, ucapnya perhatian.
Sisil mengangguk, “Iya, tante Santy telfon aku lagi. Dia minta aku pulang besok karena pengacaranya Ayah mau datang”, ucap Sisil menjelaskan apa yang terjadi.
“Bilang saja besok kamu mau datang”, saran Juna.
Membuat Sisil tercengang dia bingung dan diam untuk berfikir.
“Besok kamu datang bareng sama aku sama Paph juga. Biar semuanya kita selesaikan besok”, ucap tegas Juna yang terdengar sangat serius.
Ardi yang belum tidur hanya melihat kearah kakaknya yang terlihat asyik menelfon princess-nya yang selalu dia agung-agungkan.
“Semuanya akan baik-baik aja. Sudah malam, sekarang kamu matiin hp dan pergi tidur. Jangan lupa berdoa dan jangan lupa juga mimpiin aku ya”, lanjut Juna penuh kasih sayang, “Muaach”, sebuah kecupan melalui jaringan telepon.
Telefonpun terputus, Juna meletakkan hp-nya di meja disisi tempat tidur yang ada didekatnya. Menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya.
“Jujur gue suka banget sama Cilla bang. Sudah dari dulu, tapi gue nggak bisa buat Cilla suka juga sama gue. Dia terlalu cinta sama loe, dan gue juga tahu loe juga terlalu cinta sama dia. Gue rela loe sama Cilla karena gue yakin itu yang terbaik. Dan gue harap loe selalu bisa buat Cilla selalu tersenyum bahagia, karena itu satu hal yang nggak bisa gue lakuin”, ucap Ardi dalam hati sambil melihat kearah Juna yang sudah tertidur.

TO BE CONTINUED...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...