•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Kamis, 17 November 2011

25 Days Get A Boyfriend [Part 5]


Part 5

Erika mencoba melihat siapa yang bertanya.
“Kalian berdua pacaran?”, tanya suara cowok itu lagi.
Tiba-tiba Dika merangkul Erika dengan mesra, “Kenalin. Ini Erika cewek gue”, ucap Dika spontan.
Membuat Erika melongo sejadinya. Ditambah lagi ada Bhara didepannya. Tadi Bhara yang bertanya seperti itu. Tapi anehnya Erika nggak berusaha melepaskan rangkulan Dika, dia malah menikmatinya.
“Erika. Lo bener pacarnya Dika?”, tanya Bhara pada adiknya.

Erika nggak bisa berekspresi apa-apa. Dan Dika yang kemudian turun tangan.
“Iya. Erika ini pacar gue”, ucap Dika sekali lagi dan membuat Erika makin melongo. “Lo kenal sama Bhara?”, tanya Dika pada Erika.
Erika tentu saja menganggukkan kepalanya, “Dia abang gue”, jawab Erika pelan.
Mendengar jawaban dari Erika, kontan Dika menelan ludahnya dengan susah. Lalu tersenyum kearah Bhara yang masih belum percaya mereka berdua berpacaran.
Dika mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Bhara. “Kenalin, gue Dika calon adik ipar lo”, ucap Dika sambil tersenyum lebar.
Erika makin bingung dengan ulah Dika tersebut yang konyol dan spontan. Tapi Erika merasa nyaman waktu Dika mengenalkan dirinya sebagai calon adik ipar pada Bhara. Tapi Bhara kemudian menjitak kedua kepala orang yang ada dihadapannya itu.
Bhara menyuruh mereka berdua cepat menuju meja yang sudah dia pesan untuk makan siang hari ini. Ternyata Dika adalah manager muda yang baru dipindahkan dari kantor pusat. Dika yang ebrnama lengkap Mahardika Zafalani ini merupakan anak buah dari Bhara yang merupakan kakak dari Erika.
Sungguh kebetulan yang membingungkan.
Dika kemudian menjelaskan semuanya. Dia nggak ada apa-apa dengan Erika, mereka baru kenal. Tapi Dika mengakui secara tersirat dia tertarik pada Erika, dan Bhara membiarkannya untuk dekat dengan Erika. Bhara kasihan pada Erika yang sudah disakiti oleh Reza yang ternyata menduakan cinta adiknya itu.
“Aaaa”, Dika mencoba menyuapi Erika.
“Tangan lo yang sakit kok malah lo yang nyuapin ya?”, tukas Erika.
Tapi Dika tetap memaksa.
Mereka berdua terlihat makin akrab saja. Membuat Bhara dan Cella senang karena Erika sudah bisa tersenyum lepas lagi setelah di sakiti oleh Reza yang bajingan itu.
---
Didalam kamarnya, Dika masih memandangi fotonya bersama teman-teman kantornya yang baru waktu makan siang bersama kemarin. Didalam foto itu juga ada Erika, dan memang dari tadi kedua mata Dika hanya melihat ke arah Erika yang tersenyum sangat manis difoto itu.
Tapi kemudian ponselnya berdering nyaring, dia juga teringat dengan ringtone ini. Ringtone yang sama dengan ponsel Erika kalau ada panggilan masuk. Tapi sayangnya ini bukan telfon dari Erika. Tertulis dilayar ‘Hana’ adalah nama orang yang memanggilnya.
Walaupun nggak bersemangat dan terkesan ogah mengangkat telfon itu, Dika tetap mengangkat telfon itu, “Hallo”, sapanya lemah.
“Kamu lagi ngapain sayang? Weekend ini pulang nggak? Aku kangen banget sama kamu”, ucap seorang cewek dari seberang sana.
Dika mendesah, “Minggu ini aku nggak pulang”, jawab Dika singkat.
“Yah. Padahal aku kangen banget sama kamu. Bisa aja sih aku ke situ tapi aku nggak enak sama kakakku. Bentar lagi kan dia mau nikah”, lanjut cewek itu panjang lebar.
“Aku capek, aku tutup telfonnya ya”, ucap Dika malas.
“Tunggu. Tunggu sebentar”, tukas cewek itu cepat-cepat. “Aku tahu kamu masih marah sama aku. Aku minta maaf. Tapi please, aku butuh kamu disaat pernikahan kakak aku. Aku janji, setelah itu aku bakal lepasin kamu”, lanjut cewek itu serius dengan nada memelas.
Dika nggak berkata apa-apa lagi dan langsung menutup telfon itu. Dia malas menghadapi Hana. Hana adalah pacarnya, mereka berpacaran sudah setahun dan sudah sempat putus dua kali. Dika yang meminta putus tapi Hana terus menolaknya, beralasan dia sangat mencintainya tapi keegoisan Hana benar-benar nggak bisa ditolerir. Apalagi setelah Dika tahu kalau Hana pernah pacaran dengan sahabatnya waktu dia dan Hana masih ada hubungan, tapi Dika yang baik itu memberi kesempatan terakhir untuk Hana.
Ponsel Dika kembali berdering, dengan cepat dia langsung mengangkat telfon itu, “Ada apa lagi?”, bentak Dika pada orang yang menelfonnya.
Tapi sedetik kemudian telfon itu terputus. Dika akhirnya melihat layar hp-nya, melihat siapa yang tadi menelfonnya.
“Erika?”, ucapnya nggak percaya, “Bodoh banget sih gue!”, ucap Dika menyalahkan diri sendiri lalu mulai menelfon balik Erika.
Nggak lama kemudian Erika mengangkat telfon dari Dika, “Hallo”, sapa Erika dengan nada bergetar.
“Maaf. Maaf. Maaf banget. Gue nggak tahu kalau yang tadi telfon itu lo, gue kira orang lain”, ucap Dika tulus karena merasa sangat bersalah.
“Owh”, desah Erika, “Nggak apa-apa kok. Oh ya, sepatu gue masih di mobil lo ya?”, tanya Erika.
Dika kembali memingat kejadian kemarin saat dia menolong Erika. Menggantikan sepatu Erika yang rusak dengan sepatu yang dia beli untuk adiknya, “Oh iya. Besok gue kasih ke lo”, jawab Dika.
“Kasihin ke bang Bhara aja ya. Soalnya besok gue nggak kekantor. Gue besok mau kekampus”, lanjut Erika menjelaskan.
“Kalau gitu lusa aja ya, kalau lo ke kantor baru gue akan kasih sepatu itu ke lo”, paksa Dika karena dengan cara itu dia bisa bertemu dengan Erika lagi.
“Ehmm, ya sudah. Lusa juga nggak apa-apa”, ucap Erika ringan.
---
Erika, Cella, dan Rena sudah selesai dengan kegiatan dikampus dalam menyambut hari wisuda mereka. Setelah ini mereka bertiga langsung pergi ke butik Mamahnya Erika. Mamah Erika dikenal sebagai seorang designer baju yang handal. Mamah Erika spesialis kebaya. Dia merancang baju kebaya dan membuat modifikasi gaun dengan kain batik dan yang lainnya.
Mereka bertiga akan mencoba baju untuk mereka wisuda nanti. Baju pernikahan Hera juga dibuat oleh Mamah Erika ini. Mereka juga mendapatkan baju seragam untuk menghadiri acara pernikahan Hera dari mamah Erika. Pokoknya mereka akan dipastikan tampil anggun dan memukau.
“Ini pinggangnya masih kegedean. Harus dikecilin lagi”, ucap Mamah saat mengoreksi kebaya yang dia rancang untuk anaknya itu. “Kamu kurusan ya? Dikasih makan apa kamu sama abang kamu?”, tukas Mamah setelah berkutat dengan meteran.
Erika terseringai, “Diet Erika berhasil ya mah?”, jawab Erika sambil tersenyum garing.
Mamah hanya menghela nafas lalu beralih pada Cella. “Pas. Semuanya pas. Pertahanin tubuh kamu sampai setahun kedepan ya, biar mamah nggak usah ngukur kamu lagi”, ucap Mamah sambil tersenyum.
Cella mengangguk, dia mengerti apa maksud calon mertuanya itu. Setidaknya sampai tahun depan dia harus menjaga tubuhnya agar tetap seperti sekarang agar mamah nggak repot-repot mengukur tubuhnya lagi kalau mau membuatkan kebaya untuk pernikahannya dengan Bhara.
“Aduh Rena. Kamu kok makin kurus aja”, celetuk Mamah.
“Ini bukan kurus tante, ini langsing”, tukas Renata percaya diri.
“Ini pasti gara-gara Daniel yang nggak pulang-pulang ya?”, tanya Mamah sambil terseringai.
Rena nggak menjawabnya, dia hanya manyun sejadinya mendengar kalimat Mamahnya Erika tadi.
Mereka terlihat begitu anggun. Pakaian yang mereka pakai sangat cocok di tubuh mereka, mereka bergitu mempersona.
---
Erika sedang asyik dengan telfonnya, dari jam delapan sampai sekarang jam sepuluh malam Erika belum melepaskan hp-nya yang rasanya sudah melekat erat di telinganya itu. Begitu juga dengan Dika, karena memang mereka berdua sedang telfon-telfonan.
“Besok lo kekantor kan?”, tanya Dika memastikan.
“Ya, besok gue ke kantor. Sekalian ngembaliin sepatu yang tempo hari lo pinjemin ke gue”, jawab Erika sambil merubah posisi tidurnya.
“Emangnya kapan gue pernah minjemin sepatu buat lo?”, ucap Dika yang kemudian berdiri dan berjalan menuju balkon kamarnya, “Sepatu itu nggak perlu lo balikin. Sepatu itu buat lo”, lanjutnya sambil menghirup udara malam yang dingin.
Erika bangkit dan duduk diranjangnya, “Sepatunya bagus, gue suka. Makasih ya”, sahut Erika sambil tersenyum kearah sepatu ungu yang Dika berikan padanya.
Sepatu itu sudah dicuci bersih, dikeringkan, dan dimasukkan kedalam kotak mika. Lalu diletakkan di meja tempat dia merias dirinya. Dia sangat menjaga sepatu itu. Sedangkan Dika nggak pernah menggunakan saputangan lain lagi selain saputangan yang pernah dia pinjamkan pada Erika. Pokoknya cuci, kering, pakai, cuci, kering, pakai, begitu seterusnya.
Tiba-tiba Eriak dikejutkan dengan kedatangan Bhara kedalam kamarnya.
“Kalau masuk kamar orang lain ketuk pintu dulu dong bang!”, gerutu Erika keras.
Bhara dengan cepat berlari dan langsung naik keranjang lalu duduk disamping Erika, “Lo tuh yang keranjingan telfon mulu sampai nggak denger gue ngetuk pintu kamar lo”, tukas Bhara yang juga kesal.
Erika kembali meletakkan hp-nya di telinga, “Sorry. Abang gue ganggu nih” gerutu Erika kesal.
Kemudian Bhara merebut telfon itu dan meletakkannya di daun telinganya, “Sudah malem bro”, ucap Bhara singkat.
Lalu memberi sinyal untuk Erika memijat kedua pundak Bhara, dengan terpaksan seperti biasanya Erika memijat abangnya itu. Abangnya yang bekerja untuk menghidupi dirinya, membiayai kuliahnya, dan memenuhi semua kebutuhannya.
“Lo ngapain di kamar Erika?”, tukas Dika kesal.
Bhara terseringai, “Dia adik gue bro. Terserah gue mau ngapain dia”, jawab Bhara bengis.
Dengan cepat Erika menghadiahkan pukulan dipundak Bhara.
“Aduuuh! Sakit tahu!”, timpal Bhara.
“Makanya kalau ngomong tuh diatur!”, balas Erika nggak kalah ketus. “Oh ya bang, besok abang disuruh ketempat Mamah. Disuruh nyoba baju tuh”, lanjut Erika.
Dika mendengarkan saja percakapan kedua kakak beradik itu. Yang cewek adalah orang yang dia suka dan yang cowok adalah bosnya di kantor. Dika bener-bener di cuekin, Bhara dan Erika asyik ngobrol berdua. Tapi setidaknya Dika bisa jadi tahu gimana hubungan Bhara dan Erika tersebut.
To Be Continued....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...