•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Jumat, 18 November 2011

25 Days Get A Boyfriend [Part 8]


Part 8

Hana menoleh ke sampingnya. Ada Erika, Cella, dan Renata. Dengan cepat Hana memberikan senyuman untuk ketiga sahabat kakaknya itu, mereka juga merupakan senior Hana waktu di SMA.
Hana melepaskan gandengannya pada Dika, kemudian menyapa ketiganya, nggak lupa juga untuk cipika-cipiki. Disitu Dika makin terkejut, karena ternyata Hana dan Erika saling mengenal, dia nggak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Erika, dan Cella berusaha untuk bersikap biasa saja.
Setelah itu Hana mencoba mengenalkan pacarnya itu pada sahabat-sahabat kakaknya itu, “Oh ya, kenalin kak ini Dika pacar aku. Sayang, ini kak Renata, kak Cella, dan ini kak Erika”, ucap Hana sambil menunjukkan satu persatu, dan membatu Dika untuk bersalaman.

“Aku tinggal dulu ya kak”, pamit Hana sambil menggandeng Dika pergi.
Dika masih sering melihat kebelakang untuk melihat Erika, Erika juga belum selesai untuk melihat Dika sampai Dika menghilang dari pandangannya. Lalu Cella mencoba menenangkannya, mencoba untuk memeluknya hangat. Rena yang nggak tahu apa-apa hanya diam nggak bereaksi.
“Gue nggak apa-apa kok, gue sudah pernah diposisi ini sebelumnya.”, ucap Erika sambil melepaskan pelukan Cella dengan tersenyum getir. “Gue pulang duluan ya, bilangin ke Hera kalau gue ada urusan mendadak dan gue bener-bener minta maaf”, pamit Erika pada Cella.
Cella tentu saja mengerti keadaan Erika sekarang. Dia membiarkan Erika pulang sendirian, karena memang dia yang menginginkan itu, biarkan gelap malam ini melebur semua duka Erika.
“Erika kemana?”, tanya Rena yang memang nggak tahu.
“Katanya nggak enak badan, jadi dia pulang duluan”, jawab Cella sambil terus melihat kearah Erika pergi.
Dari jauh Dika juga melihat Erika yang berjalan sendirian menuju pintu keluar. Dia benar-benar miris, nggak tahu harus berbuat apa, dia marah pada dirinya sendiri, dia marah karena dirinya seorang yang pengecut.
Setelah keluar dari ruangan itu air mata Erika mulai bercucuran deras, dia menyusuri lorong sendirian sampai akhirnya sampai dipintu keluar. Hujan malam ini sungguh menggambarkan Erika yang mengalami sakit hari, karena dikecewakan yang kedua kalinya oleh orang yang dia sayangi. Dia sakit.
Setelah menarik nafas panjang Erika lalu berjalan menembus hujan, nggak memperdulikan apa-apa. Air hujan ini membiaskan tangisan Erika yang deras. Terlihat ada seseorang yang keluar dan berdiri di pintu keluar gedung, dia terlihat mencari-cari sesuatu, dia melongok kesana kemari.
“Kamu nyariin apa sih?”, tanya Hana sambil merangkul tangan kanan Dika.
Ternyata cowok yang keluar itu Dika, dia sedang mencari-cari sosok Erika yang tadi dilihatnya pergi dari acara pernikahan itu. Dika masih mencari-cari sosok Erika tapi tetap nggak ketemu, Hana dengan keras menarik Dika kembali masuk dan perlahan-lahan Dika mengimbangi langkah Hana yang kemudian mereka berdua kembali keacara pernikahan itu.
Erika menyusuri jalan sendirian, air matanya bercampur dengan rintikan hujan yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.
“Kenapa hidup gue serumit ini?”, teriak Erika kesal, “Kenapa gue nggak pernah ngerasain bahagia?”, keluh Erika lagi sambil berlutut ditepi jalan. “Kenapa lo tega sama gue? Dika!! Kenapa lo tega sama gue?!”, ucap Erika keras, menumpahkan semua penat dan rasa sakit yang terpendam dihatinya.
---
Pagi yang nggak begitu cerah, imbas dari hujan semalam. Erika masih tertidur dikamarnya yang nyaman. Tadi malem dia pulang naik bus dengan badan yang sudah basah kuyup, membuatnya mengalami demam setelahnya dan pagi ini dia harus istirahat dulu dirumah. Dia nggak kekantor hari ini.
Bhara sedang ada di jalan menuju kantor, Bhara lagi telfon-telfonan sama Cella.
“Kenapa kalian berdua nggak pulang sama-sama? Terus kenapa Erika sampai basah kuyup gitu, tahu nggak dia itu demam tinggi semalam. Untung aku nggak jadi lembur jadi tahu kalau dia itu sakit”, gerutu Bhara panjang lebar di telfon.
“Kasihan Erika”, ucap Cella setelah mendesah payah, “Ternyata Dika nggak sebaik yang kita kira. Dia ternyata sudah punya pacar sebelum dia berpacaran sama Erika”, lanjut Cella menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Bhara teringat pada Reza yang dulu juga menyakiti dan mengkhianati adiknya itu, “Maksud kamu apa?”, tanya Bhara lagi.
“Dika sudah punya pacar sebelumnya, dan pacarnya adalah Hana, adiknya Hera”, jawab Cella dengan gamblang dan mantap.
Raut wajah Bhara terlihat geram dan marah nggak ketulungan. Setelah menutup telfon dari Cella, dia bergegas memacu mobilnya kencang agar cepat sampai kantor. Sepertinya Bhara ingin menemui Dika secepatnya. Bhara nggak terima kalau adiknya itu disakiti oleh Dika.
Erika sudah terbangun dari tidurnya, dia melihat sekeliling kamarnya yang sudah diterangi oleh cahaya matahari. Tapi dia nggak memutuskan untuk bangun, dia memilih untuk tidur lagi agar tubuhnya kembali sehat, kepalanya juga masih pusing, tubuhnya lemas dan nggak bersemangat untuk mengawali hari ini.
Bhara menggebrak pintu ruang kerja Dika dengan keras lalu dengan cepat Bhara meraih dan mencengkram erat kerah kemeja Dika. Sebuah tinju dari tangan kanan Bhara mendarat dipipi kiri Dika. Darah keluar dari pojok bibirnya, kamarahan Bhara nggak terbendung lagi dan Dika terlihat tahu apa yang membuat Bhara memukulnya jadi dia nggak melakukan pembalasan karena memang dia merasa yang bersalah atas semua ini dan patut untuk mendapatkan hukuman.
“Jangan mentang-mentang adik gue suka sama lo, jadinya lo bisa nyakitin dia. Lo itu bener-bener pengecut! Kalau lo beneran cowok lo nggak bakal ngelakuin itu semua!”, teriak Bhara marah tepat didepan wajah Dika.
Para karyawan yang lain mulai menonton pertengkaran mereka berdua. Kemarahan Bhara sudah nggak bisa dibendung lagi. Untuk kali ini Bhara memukul perut Dika hingga Dika membungkuk memeluk perutnya sambil menahan sakit. Karyawan yang menonton mereka mencoba melerai tapi nggak berhasil.
“Biarkan. Kalian semua mendingan keluar saja. Dan jangan lupa tutup pintunya”, ucap Dika yang kemudian bangkit.
Para pegawai yang lain mulai keluar dari ruang kerja Dika, membiarkan Dika dan Bhara ada didalam hanya berdua saja. Pegawai yang tadi menonton mulai kembali bekerja walau sedikit masih antusias membicarakan tentang apa yang terjadi diantara Bhara dan Dika di pagi ini.
“Gue tahu. Gue emang salah, gue bodoh, gue terlalu pengecut untuk menjelaskan semua ini. Gue terlalu sayang sama Erika, jadi gue nggak berani ngomong ini semua”, ucap Dika dengan mata berkaca-kaca.
Bhara yang tadi duduk di sofa langsung tersentak dan berdiri, “Klo lo sayang sama Erika lo nggak mungkin nyakitin dia sampai separah ini!”, balas Bhara dengan masih menggunakan nada tinggi.
“Gue sudah putus sama Hana jauh sebelum gue kenal sama Erika. Tapi Hana nggak mau, dia minta sama gue buat sehari aja jadi pacarnya lagi. Dan hari itu adalah kemarin saat kakaknya menikah”, lanjut Dika menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.
Bhara tersenyum bengis, “Kenapa lo bisa putus sama Hana?”, tanya Bhara setelah dirinya duduk kembali.
Dika bersandar dimeja kerjanya, kedua tangannya mencengkram pinggir meja, “Seperti apa yang terjadi sama Reza dan Erika. Hana punya cowok lain selain gue. Dan gue sama sekali nggak ada cewek lain, waktu itu gue sayang banget sama dia”, jawab Dika yang nggak terasa mulai meneteskan air mata karena teringat masa lalu cintanya yang nggak mulus juga.
Sesaat kemudian, suasana hening. Dika maupun Bhara sama sekali nggak mengeluarkan suara. Mereka asyik dalam diam masing-masing, Bhara terus menimbang-nimbang akan memaafkan Dika atau tidak, apakah dia harus percaya pada Dika atau tidak. Dika juga nggak tahu harus berbuat apa agar hubungannya dengan Erika nggak rusak, dia sayang banget sama Erika.
“Lo beneran sayang sama Erika?”, tanya Bhara sambil melihat kearah Dika.
Sudah bisa ditebak, Dika mengangguk mantap, “Gue bener-bener sayang sama Erika. Cuman dia yang ada dihati gue. Gue cinta dia”, ucap Dika tulus dengan nada yang meyakinkan.
“Kalau gitu mungkin gue bisa bantu kalian buat sama-sama lagi”, gumam Bhara yang kemudian bangkit dan berjalan kearah pintu.
“Makasih...makasih.. makasih banyak”, ucap Dika sambil mendekati Bhara.
Bhara berbalik badan menghadap Dika, “Tapi gue nggak janji. Walaupun dia sayang sama lo, tapi dia juga sakit gara-gara lo”, ucap Bhara yang kemudian membuka pintu dan keluar meninggalkan Dika sendirian.
Dika terdiam setelah mendengar kalimat Bhara tadi. Dia sangat tahu kalau dia sangat bersalah pada Erika, bersalah pada orang yang dia sangat sayangi, tapi dalam benaknya dia berjanji akan berusaha dengan berbagai cara agar bisa mendapatkan maaf dari Erika, dan mendapatkan cinta Erika lagi. Dia akan berusaha keras.
---
Erika baru selesai mandi, dia sudah berganti baju, dan kembali duduk diatas ranjangnya. Dia enggan untuk beranjak dari kamarnya. Sudah dari tadi Cella ada dikamarnya, menemaninya, dan membuatkan bubur untuk Erika sahabatnya dan merupakan calon adik iparnya.
Terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah Erika, bukan satu mobil tapi terdengar ada dua mobil. cella mencoba melihat siapa yang datang dari jendela kamar Erika yang menghadap langsung ke halaman.
“Bhara dan Dika”, ucap Cella yang lalu kembali mendekat pada Erika.
Mendengar nama Dika disebut Cella, Erika berubah malas sekali. Cepat-cepat dia rebahan dan menutup seluruh tubuh termasuk wajahnya menggunakan selimut. Dia masih malas bertemu dengan Dika yang telah mengkhianatinya, sama seperti dengan apa yang pernah Reza lakukan padanya.
“Lo nggak mau ketemu sama Dika?”, tanya Cella ringan makin mendekatkan tubuhnya pada Erika.
“Kepala gue pusing. Gue mau istirahat, gue nggak mau diganggu”, tukas Erika.
Cella menghela nafas payah, “Mungkin aja Dika mau ngejelasin semuanya. Lo nggak mau denger?”, tanya Cella sambil membuka selimut yang menutupi wajah Erika.
Wajah Erika terlihat juga, “Gue mau istirahat, lo bisa tinggalin gue sendirian kan?”, perintah Erika pada sahabatnya itu.
Erika kembali menutupi wajahnya dengan selimut yang ada. Lagi-lagi Cella menghela nafasnya payah kemudian dilanjutkan desahan saat dia turun dari tempat tidur Erika, lalu berjalan keluar dari kamar Erika itu.
Sambil memutar gagang pintu, “Istirahat yang bener, biar cepet sembuh”, ucap Cella.
Cella keluar dari kamar Erika juga. Baru beberapa langkah berjalan didepan Cella sudah berdiri Bhara dan Dika. Bhara mencium kening Cella lalu merangkulnya mesra.
“Lo ngapain kesini”, tanya Cella dengan nada ketus.
“Gue tahu lo pasti marah juga sama gue. Tapi gue bisa jelasin semuanya, gue cuman sayang sama Erika”, ucap Dika tulus.
Cella mendesah seketika, “Gue nggak butuh penjelasan dari lo”, timpal Cella masih ketus.
Bhara mencoba menenangkan dengan mengusap-usap pundak Cella.
“Gue akan jelasin semuanya sama Erika”, ucap Dika mantap.
“Tapi sayangnya dia nggak mau ketemu sama lo”, jawab Cella dengan ogahnya. “Dia terlalu sakit buat menerima luka yang besar di tempat yang sama”, lanjut Cella mempertegas suaranya.
“Sudahlah”, Bhara mencoba melerai, “Dia tulus sayang sama Erika”, lanjut Bhara membela.
Cella mendesah payah tanpa menjawab apa-apa.
“Dika, lo masuk aja ke kamar Erika. Jelasin semuanya”, ijin dari Bhara untuk Dika.
Dika berjalan mendekati pintu tapi dengan cepat Cella memegang pundak kiri Dika, “Katanya kepala dia pusing, dia ingin istirahat dan nggak mau diganggu. Mendingan besok aja lo jelasin semuanya”, ucap Cella yang terdengar juga mendukung kalau Dika dan Erika tetap bersatu.
Dika terlihat murung, “Dia bener-bener marah sama gue ya?”, tanya Dika memelas.
Didalam kamarnya, Erika menangis tersedu-sedu dalam selimutnya yang tebal. Kepalanya serasa makin berat atas semua permasalahan ini. Dia nggak menyangka kalau Dika akan membohonginya, seperti halnya Reza.
Bhara mengajak Dika dan Cella untuk turun keruang makan, mereka makan malam bersama. Erika yang nggak bisa tidur akhirnya membuka selimutnya karena kegerahan, lalu beranjak bangun dan membuka pintu kamarnya yang menuju balkon. Dia melihat masih ada mobilnya Dika disana, jadi dia memutuskan untuk tetap didalam kamar saja.
To Be Continued....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...