•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Selasa, 01 November 2011

Found You, Princess Cilla [Part 4]


Found You, Princess Cilla - Part 4

Zaki dan Juna lagi duduk bersama di kantin, mereka berdua makin akrab setiap harinya. Keduanya berada di kelas yang sama. Karena Juna, dengan cepat Zaki juga mulai dikenal banyak mahasiswa lain, Juna memang jadi idola.
“Di tempat loe ada sepatu basket juga kan?”, tanya Juna sambil mengaduk-aduk minumannya.
Zaki mengangguk, “Selagi basket masih dibilang olah raga, pasti sepatu basket ada di toko sepatu olah raga”, timpalnya ringan.
Juna tertawa mendengar gurauan dari temannya itu.
Ardi duduk diluar kales bersama beberapa temannya, sedangkan Sisil sedang menikmati makan siangnya di dalam kelas. Sebungkus roti sedang dia nikmati untuk makan siang kali ini, dia harus benar-benar berhemat. Dia belum mendapatkan uang dari pekerjaannya.

Ardi bangkit dari tempat duduknya dan melihat kedalam kelas dari jendela. Dia melihat Sisil yang sedang menikmati sebungkus roti. Dia sangat ingin mengajak Sisil ke kantin tapi apa daya pasti dia akan langsung ditolak oleh Sisil.
Bel masuk kembali berbunyi, saatnya untuk pelajaran olah raga. Warga XI.4 membawa pakaian mereka keluar dari kelas menuju tempat ganti pakaian dan pergi untuk berolah raga.
Sebelum meninggalkan kelas Ardi meletakkan sebotol jus jambu diatas meja Sisil tanpa berkata apa-apa. Sisil juga nggak berkata apa-apa, dia hanya serius dengan apa yang sedang dia kerjakan. Hari ini dia memutuskan nggak ikut berolah raga.
---
Juna berjalan sendirian masuk kesebuah pemakaman umum, dia membawa sekeranjang bungan untuk dia taburkan di makam nantinya. Dia berhenti disebuah makam yang nggak jauh dari pohon, membuat tempat itu teduh.
Dia menaburkan bunga diatas makam, menyiramkan air, dan memanjatkan doa kepada Alloh SWT. Juna serius dengan apa yang dia  lakukan. Sesaat kemudian dia tersenyum melihat kerah nisan.
“Siang tante”, ucapnya sembari tersenyum. “Juna selalu berharap tante medapatkan tempat terbaik disisi Alloh, amin”. Lanjut Juna berbicara pada makam itu. “Juna pulang ke Indonesia buat bertemu dengan Cilla, tapi sudah dua minggu ini Juna belum juga bertemu dengan Cilla. Juna nggak tahu Cilla ada dimana”, Juna menundukkan wajahnya, dia merasa nggak berguna.
Ada makam baru di sisi kanan makam yang Juna kunjungi. Juna merasa penasaran dengan siapa yang terkubur di makam baru itu, lalu dia melihat kearah nisan untuk membaca nama seseorang.
Tiba-tiba Juna terlonjak karena terkejut, “Om Bayu?”, ucapnya nggak percaya dengan apa yang dia baca.
Tertera juga tanggal kematian dari Bayu yang Juna sebut itu. Dua hari sebelum dia pulang ke Indonesia. Om Bayu yang Juna panggil itu adalah Ayah, ayah dari Cilla. Juna mendekat ke makam baru itu dan jongkok di sisinya.
“Nggak mungkin”, dia berusaha nggak mempercayai itu semua, tapi ini memang benar makam Bayu Handoyo ayah dari Cilla. “Kenapa om pergi secepat ini? Bagaimana keadaan Cilla sekarang, dimana sekarang dia tinggal tanpa om disisinya?”, tanya Juna seperti orang gila yang berbicara pada nisan yang ada dihadapannya.
“Gue harus bisa menemukan Cilla secepatnya, gue yakin dia nggak dalam keadaan baik”, batinya.
Setelah cukup lama disitu Juna pamit untuk pulang.
Lagi-lagi Sisil dengan cepat keluar dari kelas, kali ini Ardi mencoba mengejarnya. Ardi keluar dari kelas dan berlari untuk mengejar Sisil tapi entah dengan kekuatan apa Sisil begitu cepat menghilang, bahkan di halaman sekolah Ardi sudah nggak melihat sosok Sisil lagi.
Sisil kesebuah toko sepatu olah raga di sebuah Mall terkemuka, dia berjalan kearah lokernya untuk mengambil seragam kerja, dan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sekarang Sisil sudah siap untuk bekerja, dia menghampiri Zaki dan membantunya yang sedang menata beberapa pasang sepatu yang tadi sempat dicoba oleh customer yang datang.
“Eh loe. Sudah sampai dari tadi?”, tanya Zaki sambil memutar tubuhnya menghadap Sisil.
Sisil mengangguk saja  lalu melanjutkan pekerjaannya.
Ada customer yang datang dan langsung memanggil Zaki, ternyata itu Juna yang berjanji akan datang sore ini untuk memebeli sepatu basket.
“Gue kesana dulu ya”, pamit Zaki.
Lagi-lagi Sisil mengangguk dan melanjutkan kegiatannya menyusun rapi sepatu-sepatu.
Zaki mengantarkan Juna ke blok khusus sepatu basket, Juna mulai memilih dengan seksama.
“Sepatu buat loe?”, tanya Zaki.
Juna menggelengkan kepalanya, “Bukan, ini sepatu buat Ardi. Gue belum ngasih hadiah buat dia saat dia ulang tahun jadi gue mau kasih dia hadiah sepatu ini”, jawab Juna menjelaskan, “Soalnya dia atlet basket di sekolahannya”, lanjutnya sambil memilih-milih sepatu.
Sebuah sepatu basket berwarna merah diraih oleh Juna, “Yang ini ukuran 42 ada nggak?”, tanya Juna pada Zaki.
Zaki melihat ke arah bandrol yang tergantung di sepatu itu untuk mengecek ketersediaan sepatu itu dengan ukuran 42.
“Ada”, jawab Zaki, “Mau gue ambilin?”.
“Tentu saja”, timpal Juna sedikit tertawa.
Tapi Zaki nggak langsung mengambilnya, dia memanggil Sisil untuk mengambilkan sepatu yang Juna inginkan.
Nggak butuh waktu yang lama Sisil sudah siap dengan apa yang Zaki perintahkan tadi. Dia menyerahkan sepatu basket warna merah ukuran 42 itu pada Zaki dan dia kembali ke pekerjaannya yang lain. Juna lagi asyik memilih-milih sepatu yang lain dan Zaki menyerahkan sepatu  yang tadi Juna inginkan.
“Gimana?”, tanya Zaki.
Juna mengangguk pasti, dia sudah cocok dengan sepatu itu, “Ya, bungkus!”, ucapnya singkat.
Saat di kasir Juna melihat sosok cewek yang pernah dia lihat di sekolahan Ardi. Cewek yang pernah diboncengin oleh Zaki, cewek yang nggak asing buatnya, tapi tetap saja dia belum bisa memastikan cewek itu siapa namanya.
“Itu cewek loe ya?”, tanya Juna pada Zaki yang sedang membungkuskan sepatu yang tadi Juna beli.
Zaki menyerahkan sepatu itu, “Bukan. Dia itu adik gue”, jawab Zaki sekenanya.
Karena memang dia menganggap Sisil adalah adiknya.
Juna mendesah, “Oh... kirain cewek loe. Oh ya namanya siapa?”, lanjut Juna mencari tahu.
“Sisil, namanya Sisil”, jawab Zaki singkat.
“Sisil? Nama yang bagus”, lanjut Juna.
---
Hari ini ada pertandingan basket di SMA Nusantara, yang merupakan kegiatan dari perayaan ulang tahun sekolah itu. Sudah tiga hari ini kegiatan belajar mengajar sementara diliburkan, digantikan acara-acara olah raga dan kegiatan positif lainnya untuk memperingari ulang tahun sekolah.
Pertandingan semi final, antara kelas XI.4 melawan kelas XII.1 yang merupakan juara acara yang sama tahun lalu. Semua warga XI.4 sudah duduk rapi di tribun, mereka akan menyaksikan atlet basket dari kelas mereka bertanding melawan kakak kelas.
Sisil juga ada disana, tapi dia masih saja sendirian nggak bergabung dan ngobrol dengan teman-temannya. Dia memandang kosong kearah lapangan, wajahnya terlihat lelah dan nggak bersemangat.
Dari luar lapangan Ardi mendongakkan kepalanya untuk melihat ke tribun, dia mencari sosok yang penting baginya.
“Gue akan berusaha menang demi loe”, ucap Ardi sambil tersenyum, dia melihat kearah Sisil yang masih memandang kosong kearah lapangan.
Nggak lama kemudian para tim basket dari kedua kelas yang akan bertanding bersiap-siap di lapangan, mereka melakukan pemanasan sebentar.
Terlihat ada Juna, dia datang ke acara itu. Dia ingin melihat adiknya bermain, dia ingin melihat sepatu hadiah darinya akan membuat timnya Ardi memenangkan pertandingan hari ini. Dia berjalan ke tribun yang sepertinya mendukung kelasnya Ardi.
Dia duduk di kursi paling belakang, kursi yang sepi oleh pendukung. Diujung kiri tempat duduk dia duduk sendirian dan di ujung kanan tempat duduk ada seorang cewek yang juga duduk sendirian. Juna mengenal cewek itu, cewek itu Sisil adik dari Zaki. Tapi dia nggak lantas mendekatinya karena terlihat Sisil sepertinya ingin sendiri.
Teman-teman sekelas Ardi menyerukan nama Ardi, mereka histeris saat Ardi melambaikan tangan kearah mereka. Tapi Ardi melambaikan tangan bukan untuk mereka tapi untuk Juna yang duduk di belakang mereka.
“Makasih sepatunya bang”, teriak Ardi.
Membuat cewek-cewek yang tadi mengeluh-eluhkannya memutar badan dan melihat kearah belakang mereka. Mereka dibuat terkejut, karena ternyata dibelakang mereka ada cowok ganteng, berbadan atletis, berkulit nggak terlalu putih, duduk di belakang mereka.
“Dia pasti kakaknya Ardi, uh ganteng banget”, ucap seseorang cewek yang sekarang mengeluh-eluhkan Juna.
Pertandingan dimulai.
Sisil mencoba menikmati pertandingan itu, tapi perhatiannya lebih tertuju pada sepatu yang Ardi pakai. Sepasang sepatu basket yang nggak asing baginya, sepatu basket warna merah menyala yang kemarin dia ambil karena ada seseorang yang membeli. Dia berfikir mungkin kemarin yang membeli sepatu itu adalah Ardi.
---
Karena ada tugas yang cukup banyak dari dosen mereka, Juna memilih untuk menginap dikontrakan Zaki malam ini. Tapi Zaki ada pekerjaan sebentar malam ini lalu dia menyuruh Juna untuk beristirahat dulu di kontrakannya sembari menunggu Zaki pulang.
Hari ini Sisil libur kerja. Setelah mandi dan berganti pakaian dia keluar untuk membeli makan malam. Dia lapar, dari tadi siang dia belum makan. Tapi sebelum keluar dari rumah Sisil mengecek dompetnya dulu. Dia mendapati dompetnya yang semakin menipis.
Karena uang hasil dari bekerja sudah dia bayarkan untuk sekolahnya. Dia juga baru ingat kalau bulan lalu dia belum membayar kontrakan. Dia benar-benar merasa miskin.
Sisil keluar dari kontrakannya dan mengunci rapat-rapat pintunya. Malam ini cukup dingin karena tadi sore turun hujan lagi. Dia merapatkan jaketnya dan berjalan keluar dari kontrakannya.
“Tunggu”, ada seseorang yang membuatnya menghentikan langkah.
Sisil berbalik arah dan melihat seseorang yang belum dia kenal sedang berjalan kearahnya dari kontrakan Zaki.
“Kata Zaki loe adiknya, tapi kenapa kalian nggak tinggal satu rumah?”, tanya cowok itu penasaran.
Sisil nggak langsung menjawab, dia mencoba menatap kedua mata cowok bertubuh tegap dan tinggi itu, “Loe siapa?”, tanya Sisil datar.
“Gue temennya Zaki”, ucap Juna sambil mengajak Sisil bersalaman, “Nama loe Sisil kan? Nama gue Juna”, lanjut Juna memperkenalkan diri.
Sisil terkejut, di terperanjat dan mundur selangkah dari hadapan cowok itu yang mengaku dirinya bernama Juna. Juna membaca wajah Sisil yang terlihat terkejut, dia menurunkan tangannya kembali, tidak jadi bersalaman.
Juna mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Sisil, “Loe kanapa?”, tanyanya singkat.
Bukannya menjawab Sisil malah menarik kerah T-shirt warna kelabu yang Juna pakai dan menarik sesuatu yang melingkar dileher Juna. Terlihat sebuah kalung berbentuk lingkaran dengan lubang bintang di tengahnya.
“Kalung ini”, ucap Sisil lirih.
Dengan cepat Juna mengerti maksud dari Sisil dia juga meraih kalung yang melingkar di leher Sisil dan melihat bandung yang nambak dari balik baju yang Sisil pakai.
“Kalung ini”, ucap Juna terkejut.

TO BE CONTINUED....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...