•☺• Selamat Datang di Rumah Cerita 'Blognya mahasiswa TI yang lebih suka menulis cerita' <<<<<•☺•ECHY FACTS•☺•>>>>> Gue suka FC Barcelona •☺• Golongan darah gue A •☺• Lebih suka film genre Thriler daripada Horror •☺• Jangan lupa follow twitter Echy @cieEchy •☺• Echy itu Mandiri dalam arti sebenarnya dan juga dalam arti mandi sendiri •☺• Pengin punya Apartemen, moga kesampean #AMIN •☺• Penampilan Kampungan Wawasan Internasional •☺• Lebih suka ngelamun daripada ngelantur •☺•

Selasa, 08 November 2011

Sayembara Cinta Tiara [Part 3]


Sayembara Cinta Tiara Part 3

“Mamah! Kenapa Tiara nggak dibangunin!”, teriak Tiara dari dalam kamarnya.
Dengan cepat dia keluar dari selimutnya, meraih handuk yang tergantung di pintu masuk kamar mandi dalam kamarnya, lalu masuk kekamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Handphone-nya yang ada di meja belajar berdering, ada telfon dari Tika.
“Pasti dia belum bangun!”, ucap Tika yang sedang duduk bersama Bayu saat menuju kampus.
“Oh ya, kemarin ada lima orang cowok yang katanya mau ikut sayembara itu. Mereka mau ketemu sama kita, jadi gue bilang aja besok pagi mereka harus dateng ke restoran lo, kita ngadain audisi disana”, ucap Bayu.
“Tapi waktu mereka datangnya dibuat beda-beda kan?” tanya Tika memastikan.

Bayu mengangguk, “Tentu saja”, jawabnya singkat.
“Soalnya ada beberapa cowok juga yang tertarik sama Tiara dan gue minta mereka datang ke restoran gue juga. Ntar gue hubungin lagi mereka tepatnya jam berapa mereka harus datang”, lanjut Tika sambil mengetik pesan untuk Tiara yang tadi nggak mengangkat telfonnya.
Sampai juga di kampus, Bayu dan Tika berjalan bersama masuk kekampus.
Tiara baru selesai mandi. Setelah dia berganti baju, dengan cepat dia membubuhkan bedak di wajahnya, dan dengan terampil dia memakai eye liner yang berbentuk pen di kedua kelopak matanya. Bukan hal yang sulit untuknya.
Dengan cepat dia memakai sepatu dan meraih tasnya, lalu keluar dari rumahnya yang ternyata sudah sepi. Papah dan Mamahnya sudah berangkat ke kantor masing-masing. Mbok Saodah yang sudah bekerja menjadi pembantu dari dulu di rumah ini langsung menawari Tiara sarapan. Tapi Tiara menolaknya karena dia sudah terlambat.
Dia mengambil selembar roti gandum lalu menggigitnya, melambaikan pangan kearah mbok Odah, “Berangkat dulu mbok”, gumam Tiara nggak jelas karena sedang menggigit roti.
Mbok Odah menyauti saja, “Hati-hati non”.
Tiara melambaikan tangannya lagi.
Mobilnya sudah siap dan sudah dipanaskan oleh mang Kohar supir keluarganya.
“Berangkat dulu mang”, teriak Tiara sambil membuka pintu mobilnya.
Langsung saja, Tiara ngebut. Dia nggak mau terlambat sampai di kampus. Karena dosen yang mengajar kali ini benar-benar killer, sampai-sampai dulu dia pernah dapet C gara-gara cuman terlambat lima belas menit. Padahal hasil UTS dan UAS nya terbilang bagus, tapi kedisiplinan adalah yang nomer satu bagi dosen itu.
“Kenapa juga harus ada lampu merah gini!”, umpatnya kesal karena terjebak traffic light.
Sedetik kemudian lampu berubah hijau. Tiara yang berada dibarisan mobil yang kesepuluh melihat itu dan langsung memencet klakson keras-keras. Dia kesal karena sudah lampu hijau dari tadi tapi mobilnya belum bisa jalan juga.
Tiba saatnya untuk dia bebas dari traffic light tapi hal yang sial terjadi, lampunya dengan cepat berubah merah lagi. Tiara yang kesal memukul-mukul gagang kemudinya. Pengemudi VW golf hitam yang ada disampingnya memerhatikan tingkah lucu Tiara itu.
Tiara nggak menyadarinya.
Sementara itu dikampus.
Tika dan Bayu sudah ada didalam kelas mendengarkan perkuliahan dari dosen yang killer itu. Tika mencoba mengirimkan sms pada Tiara yang belum juga sampai di kampus. Tapi apa ternyata Tiara melupakan hp-nya, handophone-nya masih ada diatas meja didalam kamarnya.
“Mampus gue!”, Tiara menepuk jidatnya.
Dia merasakan ada yang aneh di mobilnya, dengan cepat dia merapatkan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi. Dia keluar dari mobilnya dan mendapati ban belakang sebelah kanan mobilnya kempes. Benar-benar kesialan yang bertubi-tubi.
“Sialan!”, Tiara menendang ban mobilnya yang kempes, dan, “Aduh..aduh”, dia merasakan kesakitan.
Dilihatnya sekeliling tempat dia berhenti, nggak ada orang yang bisa membantunya. Mobil-mobil yang berlalu-lalang mengacuhkannya. Tiara membuka pintu mobil bagian depan tempat duduk penumpang, dia merogoh tasnya untuk mencari hp. Tapi kemudian dia teringat kalau hp-nya masih ada dirumah.
Kontan dia mengacak-acak sendiri rambutnya, dia kesal dengan semua ini. “Kenapa gue harus sesial ini!”, teriak Tiara.
Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam yang berhenti didepan mobilnya. Tiara masih sibuk bergumam nggak jelas, mengumpat kesialan hari ini.
Seorang cowok  bertubuh tegap, tinggi, berkulit nggak coklat, berparas tampan keluar dari mobil VW hitam legam itu. Lalu cowok itu menghampiri Tiara yang masih saja nggak rela kalau dirinya akan mendapat nilai C lagi gara-gara ini semua.
“Mobil lo kenapa?”, tanya cowok itu dengan suara yang benar-benar menawan.
Tiara sedikit terkejut saat mendengar suara itu. Dia memalingkan wajahnya kearah cowok itu, “Ban mobil gue kempes”, ucapnya sambil mengerutkan dahi.
“Ada ban cadangannya?”, tanya cowok itu lagi, dia terlihat ingin membantu Tiara.
Tiara mengangguk dan berjalan ke belakang mobilnya, lalu menunjukkan ban cadangan yang sudah tergeletak di aspal.
“Lo yang ambil ban itu dari bagasi?”, tanya cowok itu nggak percaya.
Tiara mengangguk dan memperlihatkan kedua tangannya yang kotor karena mengangkat ban itu tadi. “Tentu aja, tadi nggak ada orang lain selain gue disini”, ucapnya ringan.
Cowok itu tersenyum takjub dengan kekuatan Tiara yang mampu mengangkan ban cadangan yang terbilang berat itu. Lalu dia menggulung lengan kemejanya sampai diatas siku, menggelindingkan ban itu kedepan untuk menggantikannya dengan ban yang kempes.
“Ada dongkrak?”, tanya cowok itu lagi.
Tiara menggelengkan kepalanya, “Nggak ada. Semuanya ketinggalan di rumah, dari dongkrang sama semua kunci-kuncinya”, ucap Tiara yang terlihat mengerti dengan dunia otomotif. “Kalau gue bawa dongkrak sama perlengkapan yang lain gue nggak perlu minta tolong sama orang lain, gue bisa ganti ban sendiri”, lanjut Tiara percaya diri.
Cowok itu kembali tersenyum lalu beranjak ke mobilnya untuk mengambil peralatan untuk mengganti ban. Tiara tersenyum kearah punggung orang itu, dia merasa tertolong oleh orang itu yang sedikit nggak asing baginya. Sepertinya dia pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya. Tapi entah dimana.
Cowok yang Tiara belum kenal namanya itu meletakkan dongkrak dan sekotak perlengkapan lainnya di depan Tiara, “Tuh gue pinjemin dongkrak sama yang lainnya. Loe bisa ganti ban mobil sendirikan?”, ucap cowok itu ingin mengetes Tiara.
Tiara merasa di tantang, dia tersenyum sinis lalu menggulung kemeja panjangnya yang ternyata semotif dengan apa yang cowok itu pakai, “Ok!”, jawabnya singkat yang kemudian memasang dongkrak.
Ban yang kempes terlepas lalu cowok itu membawanya masuk ke bagasi mobil Tiara.
“Gue ada kuliah, jadi gue pergi duluan ya”, pamit cowok itu yang kemudian bergegas masuk ke mobilnya.
“Tapi dongkraknya gimana?”, teriak Tiara.
Tapi cowok itu keburu pergi. Jadi dia melanjutkan saja pekerjaannya sebagai montir.
---
Tiara menghampiri Tika dan Bayu yang lagi duduk bersama di kantin untuk makan siang.
Karena capek berlari Tiara langsung meminum sampai habis minuman Tika yang tersedia dimeja. Lalu dia mengatur nafasnya kembali yang tersengal-sengal akibat berlari-lari.
“Lo bakalan dapet C lagi!”, tukas Tika.
“Gue udah tahu!”, timpal Tiara nggak mau kalah sambil bangkit dari tempat duduknya hendak pergi untuk memesan minuman lagi.
Tapi, lagi-lagi dia menabrak seseorang. Bajunya kembali kotor padahal sudah kotor tadi gara-gara mengganti ban mobilnya. Karena dia yang salah dia terus meminta maaf dan berjanji akan mengganti semuanya. Tanpa melihat kearah orang yang ditabraknya dia bergegas pergi ke toilet.
 “Tika, bayarin dulu minuman dia. Gue ketoilet dulu!”, teriak Tiara sambil berlari.
“Sekali lagi maafin temen gue itu ya”, ucap Bayu.
Cowok itu mengangguk lalu pergi dari tempat itu.
Tika terpesona dengan cowok itu, cowok yang tampan dan sangat cool menurutnya.
“Kenapa harus cowok itu lagi ya?”, tanya Bayu pada Tika yang masih menganga.
Melihat Tika yang terus menganga, Bayu mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Tika untuk menyadarkannya.
Tikapun tersadar, “Kenapa harus cowok itu lagi ya?”, tanya Tika yang kemudian menatap mata Bayu.
Bayu mendesah, “Gue juga ngomong gitu tadi!”, timpalnya sebel.
Tika tertawa garing.
Maksud dari Tika dan Bayu itu mengenai orang yang tadi ditabrak oleh Tiara. Ini sudah kali ketiga Tiara menabrak orang yang sama dan ditempat yang sama, orang tersebut juga selalu memesan makanan dan minuman yang sama, bakso dan segelas jus jambu.
Kenapa Tiara harus bertabrakan sama cowok itu. Cowok itukan idola di kampus, harusnya Tiara lebih hati-hati lagi dan nggak mengulanginya untuk yang ketiga kalinya seperti kali ini. Apalagi Tiara nggak memandang cowok itu sama sekali.
Cowok itu bernama Denny Hilmantio Farizi. Cowok ganteng pujaan para cewek di kampus ini. Sampai-sampai artis yang kuliah disini nggak dilirik sama sekali, beribu-ribu pasang mata tertuju kearahnya. Sesaat setelah dia bertabrakan dengan Tiara, banyak cewek yang mengerumininya untuk membantunya membersihkan kotoran yang ada di bajunya.
Dan cowok itu merupakan cowok yang sama dengan cowok yang tadi membantu Tiara di jalan untuk menggati ban mobil Tiara yang kempes. Cowok bermobil VW Golf hitam yang mentertawakan ulah konyol Tiara waktu mengumpat karena traffic light. Dan Tiara nggak tahu siapa nama cowok itu.
Tiara sudah membersihkan bajunya yang ternodai makanan dan minuman tadi.
“Lo sudah bayar kerugian dia kan?”, tanya Tiara sambil kembali duduk disamping Tika.
Tika mengangguk, “Sudah! Tapi kok lo bener-bener keterlaluan ya sama cowok itu. Sudah tiga kali lo selalu numpahin makanan dan minumannya”, umpat Tika kesal pada temannya itu.
“Emangnya cowok yang tadi itu cowok yang tempo hari tabrakan sama gue juga disini?”, tanya Tiara nggak ngerti.
Tika memukul-mukul kepala sahabatnya itu, “Dodol, dodol, dodol. Sudah tiga kali lo nabrak dia, masa loe nggak hapal?”.
Pukulan Tika cukup sakit membuat Tiara mengelus-elus kepalanya kasihan, “Gue nggak pernah sekalipun melihat wajah orang yang gue tabrak”, ucapnya ringan sambil mengaduk-aduk jus jambunya yang sudah datang dari tadi.
Bayu dan Tika menghela nafas payah bersama-sama. Membuat Tiara juga melakukan hal yang sama.
Bayu melihat ke telapak tangan Tiara yang terlihat merah akibat bekerja keras, “Tangan lo kenapa?”, tanyanya singkat.
Tiara melihat kedua telapak tangannya, “Gue abis jadi montir tadi, ganti ban mobil sendiri di pinggir jalan”, jawabnya lemah, “Sungguh melelahkan”, lanjutnya yang kemudian menghembuskan nafas payah.
“Wah..wah,, hebat banget nih cewek yang satu ini!”, ucap Bayu salut dengan kemahiran Tiara mengganti ban mobil sendiri.
Tiara menggulung tangannya dan meletakkannya di meja, “Tapi yang jadi masalah yang tadi minjemin gue dongkrak sama perlengkapan lainnya tuh siapa ya?”, tanya Tiara penasaran.

To be continued...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...